Abstrak


Eksistensi Produksi Keris Tradisional (Studi Tentang Karya KRT Subandi Suponingrat di Banaran, Ngringo, Jaten, Karanganyar)


Oleh :
Agung Hari Wibowo - K4409002 - Fak. KIP

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) Latarbelakang kerajinan keris tradisional karya KRT Subandi Suponingrat, (2) Proses pembuatan keris tradisional karya KRT Subandi Suponingrat, (3) Perkembangan industri keris tradisional karya KRT Subandi Suponingrat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan studi kasus tunggal terpancang. Sampel yang digunakan bersifat purposive dan snowball sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan analisis dokumen. Dalam penelitian ini, untuk mencari validitas data digunakan teknik trianggulasi yaitu trianggulasi data dan trianggulasi metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan: (1) KRT Subandi Suponingrat dimulai membuat keris tahun 1979 belajar dari Empu Yoso Pangarso di Yogyakarta. Selain itu KRT Subandi Suponingrat ngangsu kawruh lewat buku, seminar keris, dan bertanya langsung kepada pembuat keris. Tahun 1979, KRT Subandi Suponingrat bekerja tanpa job khusus di ASKI hingga akhirnya di tahun 1982 ASKI membuka laboratorium praktek pembuatan keris dan tahun 1983 bergambung dengan kelompok “Bawa Rasa” di Keraton Surakarta. Karena niat dan kesenangan menekuni dunia perkerisan pada tahun 1999 KRT Subandi Suponingrat mendirikan besalen pribadi di Banaran, Ngringo, Karanganyar (2) Proses pembuatan keris dimulai dari tahap persiapan, mempersiapkan bahan baku dan alat, proses penempaan awal yang terdiri dari masuh (mbesot), membuat lapisan pamor, membuat kodokan keris dan membuat gonjo. Proses selanjutnya yaitu proses penghalusan (anggrabahi), membuat ricikan dan proses finishing. Pada tahap finishing proses yang dilakukan adalah proses menyepuh dan mewarangi keris. Bilah keris yang telah jadi dibuat kelengkapan keris dengan di bawa ke tempat mranggi (pembuat sarung keris atau warangka) untuk membuat warangka, ukiran, dan pendhok. Ke empat bagian utama yang telah terbentuk, kemudian dirangkai menjadi satu bagian dengan cincin hias yang disebut mendhak atau selut (3) Perkembangan Produksi keris karya KRT Subandi Suponingrat yaitu tahun 2003 KRT Subandi Suponingrat mendapat gelar Raden Tumenggung dari Paku Buwono XII karena kemampuannya membuat keris serta peran serta KRT Subandi Suponingrat dalam pelestarian keris dan gelarnya meningkat menjadi Kanjeng Raden Tumenggung pada tahun 2005. Pada tahun 2010 KRT Subandi Suponingrat mendapat penghargaan SNKI Award atas jasa pelestari keris. Perkembangan keris secara umum terletak pada perubahan fungsi keris dari sebuah senjata tikam menjadi benda pusaka, pelengkap pakaian adat dan benda seni yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Kata kunci : kebudayaan, eksistensi, keris