;

Abstrak


Pola Komunikasi Terapeutik Antara Perawat-Pasien dalam Proses Penyembuhan Penderita Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM. Soedjarwadi Klaten


Oleh :
Rotumiar Pasaribu - S231202008 - Sekolah Pascasarjana

Ketidakpuasan akan pemenuhan kebutuhan seseorang yang terus meningkat menyebabkan seseorang mengidap gangguan jiwa, salah satu jenisnya dan yang paling banyak kasusnya adalah gangguan jiwa Skizofrenia. Komunikasi terapeutik yang digunakan para tenaga medis, khususnya perawat, menjadi katalisator yang di anggap dapat membantu para pasien untuk mendapatkan kesembuhan, termasuk pasien gangguan jiwa Skizofrenia. Oleh karena itu menarik untuk diteliti tentang bagaimana pola komunikasi terapeutik, khususnya yang digunakan oleh perawat, dalam membantu kesembuhan pasien khususnya gangguan jiwa. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Responden dalam penelitian ini adalah 7 perawat., 2 pasien yang masih dirawat dan 2 mantan pasien. Adapula yang menjadi informan yaitu 1 dari keluarga pasien, 1 dari pembimbing pasien, dan 1 kepala ruang Rekam Medik. Penggunaan komunikasi sebagai katalisator yang dilakukan oleh perawat menunjukkan pengaruhnya terhadap kesehatan, khususnya bagi pasien penderita gangguan jiwa Skizofrenia di RSJD DR RM Soedjarwadi Klaten. Pesan-pesan persuasif yang ditingkatkan dan dikembangkan pada setiap fasekomunikasi terapeutikmempengaruhi pemahaman, penerimaan dan perubahan perilaku pada pasien baik secara kognitif, afektif dan perilaku. Perbedaan jenis penyakit, latar belakang atau riwayat setiap pasien dan kondisi emosional pasien menyebabkan perlakuan terapinya berbeda-beda baik secara teknik komunikasi terapeutik maupun perilaku verbal dan nonverbal. Terjalinnya hubungan yang saling percaya antara perawat dan pasien jiwa ini menghasilkan hubungan terapeutik yang komunikatif. Pada akhirnya, setelah pasien mau diajak untuk melakukan perilaku yang adaptif dengan pola komunikasi yang tepat pada setiap pasien, menjadikan pasien mau untuk minum obat, melakukan terapi, dan mengikuti aktivitas keseharian secara baik dan teratur. Perilaku tersebutlah yang menunjukkan bahwa pasien jiwa tersebut telah sehat dan sembuh.