Abstrak


Hubungan pemberian obat anti tuberkulosis (oat) dengan kadar asam urat


Oleh :
Ivan Setiawan - G.0010105 - Fak. Kedokteran

Latar Belakang: Pengobatan tuberkulosis yang menggunakan prinsip multidrug dengan waktu pengobatan yang lama sering menimbulkan berbagai efek samping. Salah satu efek sampingnya berupa peningkatan kadar asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah ada hubungan antara pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan kadar asam urat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cohort dengan pendekatan one group before and after intervention design. Sebanyak 30 pasien tuberkulosis yang dirawat di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta antara bulan April sampai Agustus 2013 diambil sebagai sampel dengan metode consecutive sampling. Kriteria pengambilan sampel adalah pasien tuberkulosis paru yang direncanakan mendapat pengobatan dengan rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan ethambutol selama lebih dari 4 minggu, berusia di atas 18 tahun, dan telah memberikan informed consent. Dalam penelitian ini, peneliti mengeksklusi pasien tuberkulosis paru yang memiliki kelainan hepar atau ginjal, menderita hiperurisemia atau mengkonsumsi obat penurun asam urat, atau pasien dengan hipertensi. Pengukuran kadar asam urat dilakukan sebelum pengobatan dan sesudah lebih dari satu bulan pengobatan. Data dianalisis dengan uji-t berpasangan (a = 0,05). Hasil: Rata-rata kadar asam urat dari 30 sampel sebelum terapi 4,68 ± 1,12 mg/dl, sedangkan setelah terapi menjadi 8,56 ± 2,21 mg/dl, yang secara bermakna lebih tinggi dibanding sebelum terapi (p = 0,001). Selama pengobatan, hiperurisemia (kadar asam urat > 7 mg/dl) terjadi pada 73,33% (22/30) pasien dan dua pasien mengalami arthralgia. Simpulan: Pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dapat mempengaruhi kadar asam urat. Hiperurisemia dialami oleh 73,33% pasien yang mendapat terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Kata kunci: Obat Anti Tuberkulosis (OAT), kadar asam urat, tuberkulosis