Abstrak


Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS dan NHT dengan Pendekatan CTL pada Materi Pecahan Ditinjau dari tingkat Intelegensi Siswa Kelas V SD Sekecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo


Oleh :
Novi Andri Nurcahyono - S851202038 - Pascasarjana

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) diantara model pembelajaran TPS dengan pendekatan CTL, NHT dengan pendekatan CTL dan langsung, model pembelajaran manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik; (2) manakah yang memiliki prestasi belajar matemat ika lebih baik antara siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi, sedang atau rendah; (3) manakahyang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik antara siswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran TPS dengan pendekatan CTL atau NHT dengan pendekatan CTL atau langsung pada masingmasing tingkat intelegensi (4) manakah yang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik antara siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi, sedang atau rendah pada masing-masing model pembelajaran.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 3 × 3. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SD Negeri SeKecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo. Pengambilan sampel dilakukan
dengan teknik stratified cluster random sampling. Sampel dalam pene litian ini berjumlah 133 siswa, dengan rincian 45 siswa pada kelas eksperimen satu, 45 siswa pada kelas eksperimen dua, dan 43 pada kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes prestasi belajar matematika. Uji
coba instrumen tes meliputi validitas isi, tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas. Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. Dengan α =  0,05, diperoleh kesimpulan bahwa sampel berasal dari populasi
yang berdistribusi normal dan memiliki variansi yang sama. Uji keseimbangan terhadap data kemampuan awal matematika menggunakan analisis variansi satu jalan dengan sel tak sama diperoleh kesimpulan bahwa ketiga kelas memiliki kemampuan awal matematika yang seimbang. Pengujian hipotesis menggunakan
analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TPS dengan pendekatan CTL lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran NHT
dengan pendekatan CTL dan model pembelajaran langsung, dan prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelaj aran NHT dengan CTL lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
langsung; (2) prestasi belajar matematika siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang memiliki tingkat xivxv intelegensi sedang dan rendah, dan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki tingkat intelegensi sedang lebih baik daripada prestasi belajar
matematika siswa yang memiliki tingkat intelegensi rendah, (3) pada tingkat intelegensi tinggi, siswa yang menggunakan model pembelajaran TPS dengan pendekatan CTL, NHT dengan pendekatan CTL dan langsung memiliki prestasi belajar matematika yang sama; pada tingkat intelegensi sedang dan rendah, prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran TPS dengan pendekatan CTL dan NHT dengan pendekatan CTL lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran
langsung, akan tetapi siswa yang menggunakan model pembelajaran TPS dengan pendekatan CTL memiliki prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran NHT dengan pendekatan CTL, (4) pada model pembelajaran TPS dengan pendekatan CTL, prestasi belajar matematika
siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang memiliki tingkat intelegensi sedang dan rendah, dan siswa yang memiliki tingkat intelegensi sedang memiliki prestasi belajar matematika yang sama dengan siswa yang memiliki tingkat intelegensi rendah; pada model
pembelajaran NHT dengan pendekatan CTL, prestasi belajar matematika siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi dan sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang memiliki tingkat intelegensi rendah, dan siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi memiliki prestasi belajar matematika
yang sama dengan siswa yang memiliki tingkat intelegensi sedang; pada model pembelajaran langsung, siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang memiliki tingkat intelegensi sedang dan rendah, dan siswa yang memiliki tingkat intelegensi sedang memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki tingkat intelegensi rendah.