Abstrak


Struktur histologis hepar dan ren ren fetus tikus putih (Rattus Norvegicus L.) galur wistar setelah pemberian natrium siklamat secara oral pada induk


Oleh :
Nuri Amrina - - Fak. MIPA

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur histologis hepar dan ren fetus tikus putih (Rattus norvegicus L.) setelah pemberian natrium siklamat secara oral pada induk selama periode organogenesis. Kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah natrium siklamat yang diberikan secara oral pada induk akan masuk ke saluran pencernaan kemudian akan melewati barier plasenta dan akan masuk ke sirkulasi darah fetus yang akan mempengaruhi pembentukan organ-organ fetus khususnya pada hepar dan ren. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 kelompok perlakuan, masing-masing perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah kelompok I dengan dosis 0 mg natrium siklamat/ 200 g BB, sedangkan untuk kelompok II, III, IV, dan V diberi natrium siklamat masing-masing dengan dosis 0,1 mg/ 200 g BB; 1 mg/ 200 g BB; 10 mg/ 200 g BB; dan 100 mg/ 200 g BB, masing-masing dalam 2 ml akuades. Pembuatan preparat irisan dengan metode Parafin dan pewarna Hematoksilin-Eosin. Pengamatan histopatologis hepar dan ren dianalisis secara deskriptif. Parameter lebar ruang kapsula, diameter lumen tubulus proksimalis dan tubulus distalis ren dianalisis dengan Analisis Varian (Anava) yang dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf signifikasi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian natrium siklamat secara oral pada induk selama periode organogenesis menyebabkan karyolisis dan karioreksis pada hepatosit pada dosis 1 mg/200 g BB (tingkat kerusakan 30%), 10 mg/200 g (tingkat kerusakan 70%) dan dosis 100 mg/200 g (tingkat kerusakan 90%) serta menyebabkan proses hematopoiesis terganggu pada dosis 10 mg/200 g dan 100 mg/200 g. Pada ren menyebabkan karyolisis pada epitel kapsula Bowman, menyebabkan ruang kapsula Bowman melebar, terjadi karyolisis dan karioreksis pada tubulus proksimal maupun tubulus distal pada dosis 1 mg/200 g BB (tingkat kerusakan 25%), 10 mg/200 g (tingkat kerusakan 65%) dan dosis 100 mg/200 g (tingkat kerusakan 85%). Lumen tubulus proksimal dan tubulus distal ren terlihat cenderung mengalami penyempitan namun setelah dianalisis secara statistik tidak terdapat beda nyata.