Abstrak


Perwujudan batik gubahan kajian perkembangan ragam hias dan fungsi batik larangan Surakarta


Oleh :
Rahyono - C.O999017 - Fak. Sastra dan Seni Rupa

ABSTRAK Batik larangan adalah batik yang hanya dibuat untuk raja dan kerabatnya, seiring berkembangnya zaman dalam batik larangan banyak mengalami pergeseran nilai perkembangan pada saat ini banyak batik yang mengambil ide – ide dari batik larangan sebagai sumber gagasan dalam membuat pola baru. Pola tersebut menghasilkan, pola – pola gubahan merupakan paduan dari bentuk batik salah satunya batik larangan, untuk itu penelitian ini bertujuan untuk (1). Mengetahui tentang perkembangan pola batik klasik di Surakarta, (2). Mengetahui perkembangan pola batik gubahan terhadap batik larangan Surakarta, (3). Memahami lebih mendalam tentang keberadaan ragam hias gubahan yang didasari pada batik larangan Surakarta, (4). Mengetahui fungsi dari batik gubahan yang ada di Surakarta. Manfaat penelitian adalah (1). Memberikan gambaran tentang perkembangan batik secara teoritik dan menambah referensi tentang desain batik, (2). menambah wawasan tentang desain batik pada saat ini yang menyangkut teknik, warna, dan pola dan memberikan masukan dalam mendesain tentang ragam hias batik untuk daerah Surakarta, (3). Memberikan, adanya gambaran tentang perkembangan bentuk batik gubahan di Surakarta sebagai alternatif dalam memilih dan memberikan betapa pentingnya pengembangan batik sebagai wujud melestarikan budaya bangsa Indonesia. Kajian teoritis menjabarkan tentang(1). Pengertian batik, pengertian motif, pola dan ragam hias (2). Teknik batik yaitu antara batik tulis da cap, (3). Pengolongan pola batik yang meliputi pola geometris dan non geometris, (4). Proses pembuatan batik yang menjelaskan tentang awal proses mulai dari persiapan kain sampai pelorodan malam , (5). Sejarah dan perkembangan batik menguraikan asal muasal batik sampai gaya batik yaitu gaya pesisir dan Karaton, (6). Batik larangan Surakarta berisi tentang awal munculnya batik larangan sampai wujud ragam hiasnya yaitu; pola Sawat, pola Parang Rusak, pola Cemukiran, dan pola Udan liris. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu pengamatan berdasarkan pada informasi kualitatif, data deskriftif melalui informasi partisipan dan dokumen, Bentuk strategi penelitian yaitu study kasus tunggal artinya penelitian ini memusatkan pada satu karakteristik batik larangan Surakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap sumber data, observasi, dan kumpulan arsip dan dokumen melalui foto – foto tentang kain batik. Untuk menjamin tingkat kebenaran (validitas data) dilakukan melalui validitas sumber dan data. Analisis data mengunakan analisis interaktif yang meliputi; reduksi data, sajian data dan penarikan simpulan. Hasil dari penelitian ini menejelaskan tentang perkembangan batik yang berasal dari batik larangan, batik larangan adalah batik pada awalnya hanya dipergunakan untuk kalangan raja dan kerabatnya, pola batik larangan tersebut terdiri dari; pola Sawat(lar), Parang Rusak, Cemukiran dan Udan liris. Pada awalnya batik larangan hanya diterapkan pada busana saja, seiring dengan meningkatnya permintaan batik di Karaton, maka pembuatan batik diserahkan kepada pengusaha pengusaha yang berada di sekitar Karaton. Akan tetapi karena adanya larangan maka dibuatlah batik – batik gubahan yang mengambil ide dari batik larangan, muncullah istilah”batik saudagaran”. Perkembangan selanjutnya adalah adanya kain berpola batik dan menyerupai kain batik yang muncul pada tahun 70an, yang sering disebut dengan istilah”batik printing”. Pada saat ini batik larangan sudah bergeser nilainya. Pola – pola batik larangan sudah banyak dipadukan dengan pola batik lainnya dan menghasilkan pola – pola baru atau yang disebut ”batik gubahan”. Batik gubahan merupakan batik yang selalu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini, yaitu latarbelakang perubahannya lebih disebabkan karena adanya permintaan dan tuntutan masyarakat yang terus meningkat dan berkembang. Perubahan bentuk meliputi, bahan, proses, warna, ragam hias, dan fungsinya. Perubahan yang paling banyak adalah bentuk dari ragam hias yang banyak ditemui paduan – paduan dengan bentuk ragam hias lainnya. Selain itu secara fungsional juga berubah, pola batik tidak diterapkan pada busana saja akan tetapi merambah kearah kebutuhan lainnya. Atas kesimpulan tersebut maka saran yag diberikan kepada perancang, pengusaha/ penjual, dan konsumen, yaitu agar tetap menjaga kelestarian batik khususnya batik di Surakarta. Diharapkan penelitian seperti ini dapat ditindak lanjuti guna menambah pengetahuan akan batik.