Abstrak


Struktur, Pilihan Kode, dan Karakteristik Ngrasani oleh Wanita Jawa dalam Interaksi Sosial di Kabupaten Klaten


Oleh :
Prembayun Miji Lestari - T111508005 - Pascasarjana

Abstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan bagaimana penggunaan Bahasa Jawa (disingkat BJ) untuk ngrasani ‘membicarakan orang lain’ oleh Wanita Jawa (disingkat WJ) dalam interaksi sosial aktivitas rewang, arisan, dan ketetanggaan. Secara spesifik penelitian ini mengkaji struktur, pilihan kode dan karakteristik ngrasani oleh WJ dalam ketiga aktivitas interaksi sosial tersebut di Kabupaten Klaten. Manfaat teoretis penelitian ini dapat menjadi acuan kajian mengenai ngrasani dan dapat melengkapi kajian gosip yang pernah diteliti, karena dari penelitian ini ditemukan adanya novelty. Selain itu, bisa dijadikan tambahan khasanah penelitian linguistik terutama kajian sosiolinguistik-wacana. Manfaat praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penutur BJ bahwa ngrasani tidak selalu identik dengan hal negatif, hal positif seperti menjadi kontrol sosial dan menumbuhkan solidaritas dalam berinteraksi sosialpun bisa muncul dari kegiatan ini.  
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif, karena penelitian ini mendeskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian. Data penelitian ini adalah semua tuturan atau wacana yang dihasilkan dari fenomena penggunaan BJ untuk ngrasani oleh Wanita Jawa Desa (disingkat WJD) dan Wanita Jawa Kota (disingkat WJK) dalam interaksi sosial di Kabupaten Klaten. Data berjumlah 28 wacana dialog yang mengandung tuturan ngrasani sebanyak 593 oleh WJD dan 436 oleh WJK. Sumber data berwujud : 1) peristiwa tutur penggunaan BJ untuk ngrasani oleh WJ dalam interaksi sosial aktivitas rewang, arisan, serta ketetanggaan, dan 2) informan atau nara sumber yang menjadi pelaku serta memiliki skemata mengenai BJ yang digunakan untuk ngrasani. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi (pengamatan) dan wawancara.  Teknik pengumpulan data dengan menyadap dan merekam pembicaraan ngrasani oleh WJD-WJK baik secara langsung atau melalui peneliti pembantu di lapangan serta wawancara dengan informan. Data dianalisis dengan pendekatan sosiolinguistik-wacana. Teknik analisis data merujuk pada analisis etnografis Spradley (2006:151) yang terdiri atas analisis domain, taksonomi, komponensial, dan analisis tema budaya. 
Berdasarkan temuan dan pembahasan penelitian, menunjukkan bahwa BJ untuk ngrasani  oleh WJD-WJK dalam interaksi sosial aktivitas rewang, arisan, dan ketetanggaan menunjukkan ciri-ciri kebahasaan yang khas. Kekhasan tersebut menunjukkan pola pemakaian bahasa berulang, sehingga menjadi penanda yang membedakan dengan lainnya. Hasil penelitian ini, pola struktur ngrasani oleh WJ dalam interaksi sosial terdiri atas pembuka, isi, dan penutup. Struktur pembuka ngrasani terdiri atas inisiasi (disingkat In, berupa sapa, tanya, cerita), identifikasi target (disingkat IT, berupa penyebutan nama serta unsur lain yang melekat pada orang yang dibicarakan) atau gabungan dari keduanya. Struktur isi yang merupakan elemen inti terdiri dari pengajuan bukti (disingkat PB), pertanyaan lanjut (disingkat PL), klarifikasi (disingkat Kl), pernyataan dukungan (disingkat PD), upaya peyoratif atau menjelek-jelekkan target (disingkat UP), penolakan (disingkat Pen), dan sanggahan penolakan (disingkat SPen) yang keberadaannya tidak selalu berurutan. Struktur penutup ngrasani berupa pilihan adanya titik temu atau kompromi atas pembicaraan yang dilakukan (Kom), pembicaraan menggantung atau zero (disingkat Ze), dan pengalihan topik pembicaraan (disingkat PT). Dari struktur ngrasani oleh WJ dalam interaksi sosial dominan ditemukan struktur kompleks, dengan beberapa pola yakni unsur yang muncul lebih dari satu struktur dan satu elemen pembentuknya. Pola struktur pembuka ngrasani In dominan digunakan oleh WJD berusia tua muda berpendidikan rendah, sementara WJK berusia muda tua dan berpendidikan tinggi cenderung menggunakan In-IT atau IT-In. Pola struktur isi ngrasani oleh WJD baik berusia muda tua dan berpendidikan tinggi rendah, lebih kompleks serta lebih variatif dibanding WJK yang berusia muda tua dan berpendidikan tinggi. Pola struktur penutup ngrasani  berupa Kom dominan muncul dibanding PT dan Ze. Kom digunakan oleh WJD berusia tua muda berpendidikan rendah tinggi serta WJK berusia tua muda yang berpendidikan tinggi. Pola struktur ngrasani pada aktivitas ketetanggaan paling dominan frekuensi kemunculannya, sementara yang paling minim yakni pada aktivitas arisan.  
Pilihan kode BJ untuk ngrasani yang digunakan oleh WJ tidak terlepas dari latar belakang dan status sosial yang menyertai. Pola pilihan kode WJD tentu berbeda dengan WJK. Kode BJN cenderung digunakan oleh WJD usia tua, muda dan berpendidikan rendah. Kode campuran banyak digunakan oleh WJD usia muda dan WJD berpendidikan tinggi, serta WJK usia tua muda serta sesama WJK berpendidikan tinggi. Pola pilihan kode yang ditemukan, menunjukkan bagaimana kebiasaan WJ memilih kode pada saat ngrasani dalam interaksi sosial. 
Karakteristik penggunaan BJ untuk ngrasani oleh WJ dalam interaksi sosial aktivitas rewang, arisan, dan ketetanggaan terlihat pada diksi, gaya bahasa dan unen-unen ‘ungkapan tradisional Jawa’. Diksi yang ditemukan berupa penggunaan BJ ragam informal: variasi pengurangan-penambahan bunyi, variasi bentuk kolokasi, kata sapaan atau penyebutan orang yang dibicarakan dan penanda fatik ekspresif. Gaya bahasa ngrasani didominasi oleh gaya bahasa hiperbola, repetisi, dan simile. Unen-unen banyak ditemukan dalam bentuk paribasan, bebasan, pasemon, dan sanepa. Diksi berupa variasi pengurangan-penambahan bunyi, kolokasi, kata sapaan dan penanda fatik ekspresif dalam BJ yang digunakan oleh WJD baik berusia muda tua serta berpendidikan rendah tinggi, frekuensi kemunculannya lebih dominan dibanding yang digunakan oleh WJK usia muda tua dan berpendidikan tinggi. Gaya bahasa dalam bentuk hiperbola dominan digunakan oleh WJD usia muda tua yang berpendidikan rendah pada aktivitas ketetanggaan. Unen-unen dominan digunakan oleh WJD usia tua berpendidikan rendah pada aktivitas rewang dan ketetanggaan.  
Kata kunci: struktur, pilihan kode dan karakteristik ngrasani ‘membicarakan orang lain’ atau menggosip, wanita Jawa, interaksi sosial di Kabupaten Klaten 
Abstract
The study aims to describe and explain the use of Javanese Language (JL) by the Javanese Women (JW) to portray ngrasani (talking other people) as part of social transaction in several activities, including rewang (tradition to help the neighbors that hold a feast or ceremony), arisan (a kind of social gathering which is completed with a joint-saving activity), and neighborhood activities. Specifically, it explores the JL structure, characteristics, and choices which are used by the JW in those three forms of social interaction in Klaten Regency. Theoretically, the study will provide references related to the use of JL in ngrasani as the complement of the previous study on gossip phenomenon due to the attachment of novelty in the current study. The product will also provide additional knowledge on Linguistics coverage, especially sociolinguistics-discourse. Meanwhile, practically, the study aims to expand the JL speakers’ insights that ngrasani should not always be perceived as negativity since the activity can also encourage social solidarity. The study belongs to descriptive qualitative research, as it functions to describe a particular social phenomenon. The data include the use of JL in speeches and discourse by the Rural Javanese Women (RJW) and Urban Javanese Women (UJW) in their social interactions which include rewang, arisan, and neighborhood activities in Klaten Regency. The data consist of 28 conversational discourses used in ngrasani, including 593 data from RJW and 436 data from UJW. The data sources are in the forms of: 1) the use of JL speeches in ngrasani by JW in their social interactions which include rewang, arisan, and neighborhood activities, and 2) informants whose positions as the speakers and possess the knowledge of JL. The data collection includes interview and observation by recording the RJW and UJW’s dialogues, either directly or indirectly by the help of co-researchers. The data analysis deploys sociolinguistics-discourse approach by referring to Spradley Ethnographical Analysis (2006: 151) consisting of domain, taxonomy, component, and cultural analysis.
Based on the findings and discussion, it is concluded that the use of JL by RJW and UJW in their social interactions which include rewang, arisan, and neighborhood activities indicate signature language characteristics, such as the repetitive language pattern as the mark of difference to other patterns. The structure of ngrasani committed by the JW consists of opening, contents, and closing. The opening includes initiation (In, in the forms of greetings, questions, description), target identification (TI, in the forms of naming and other elements of the speech objects) or the combination of both. Meanwhile, contents become the core element of the language characteristics consisting of explanation proposal (EP), further questions (FQ), provocative action (PA), rejection (Rej), and rebuttal (Reb) that appear in various random positions. The closing includes compromise (Com) to the speeches, zero speeches (Ze), and topic diversion (TD). The language used by the JW in ngrasani is dominated by complex structures in various patterns with more than one forming element. The young, old, and low-educated RJW tend to use In as part of the opening structure in ngrasani, while the young, old, and high-educated UJW tend to use In-TI or TI-In. The content structure in ngrasani used by the young, old, low-educated, and high-educated RJW more varies than UJW. Meanwhile, the closing structure in the form of Com is more dominant that TD and Ze. Com is used more by the young, old, low-educated, and high-educated RJW as well as the young, old, and high-educated UJW. The language structure of ngrasani in the neighborhood interaction shows the highest frequency. In contrast, arisan indicates the lowest frequency.
The pattern of JL codes for ngrasani used by JW is inseparable from their cultural background and social status. The RJW certainly possess different patterns with the UJW. The common Javanese Language (Basa Jawa Ngoko – CJL) as part of the language code is mostly used by the young, old, and low-educate RJW. Meanwhile, the mixed code is dominantly used by the young and high-educated UJW and the young, old, and high-educated RJW. The language codes signify the JW’s customs in deciding the language in ngrasani as part of their social interaction.
The JL characteristics used by JW in ngrasani as part of their social interactions in the forms of rewang, arisan, and neighborhood activities appear at the dictions, figurative language, and unen-unen (Javanese traditional expressions). The dictions include the use of JL for informal purposes: the variation of sound enhancement-reduction, variation of colloquialism, greetings or naming, and expressive phatic signs. The figurative language of ngrasani is dominated by hyperbole, repetition, and simile. The unen-unen are mostly discovered in the forms of paribasan (provers), bebasan (allegory), pasemon (allusion), and sanepa (metaphor).
Keywords: structure, code choice, and characteristics ngrasani (talking about other people) or gossiping, Javanese Women, social interaction in Klaten Regency