Abstrak


Ngaruh pengggunaan ragi roti terhadap kecernaan kansum kelinci New Zealand White jantan


Oleh :
Helmi Muhtarom - H.0501040 - Fak. Pertanian

ABSTRAK Kelinci merupakan salah satu hewan peliharaan yang dapat dijadikan alternatif penghasil daging.Kelinci dalam pemeliharaan biasanya mendapatkan ransum dengan hijauan sebagai komponen utama pakan. Serat kasar dalam hijauan menyebabkan kecernaan ransum keseluruhan menjadi rendah. Kecernaan dapat ditingkatkan dengan menambahkan Saccharomyces serevisiae. Ragi roti mengandung Sachharomyces cerevisiae sebagai komponen utama, oleh karena itu ragi roti dapat dimanfaatkan sebagai probiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ragi roti dalam konsentrat terhadap konsumsi dan kecernaan ransum kelinci New Zealand White Jantan (NZW), serta taraf penggunaan ragi roti yang optimal. Penelitian dilakukan selama 10 minggu mulai 29 Agustus 2006 sampai dengan 3 November 2006 bertempat di kandang percobaan jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian UNS yang berlokasi di Jatikuwung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) menggunakan 24 ekor kelinci NZW jantan lepas sapih. Penelitian ini menggunakan empat perlakuan (P0, P1, P2, P3), setiap perlakuan terdiri dari enam kelompok dan setiap kelompok berisi satu ekor kelinci NZW jantan. Ransum perlakuan terdiri dari konsentrat dan rumput lapang dengan imbangan 50 : 50. Perlakuan berupa ragi roti diberikan pada tiap-tiap perlakuan (P0, P1, P2, dan P3) berturut-turut sebanyak 0 %, 1%, 2%, dan 3%. Peubah yang diamati adalah konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organik, konsumsi protein, kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan kecernaan protein. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsumsi bahan kering perlakuan : P0 : 56,27; P1 : 56,51; P2 : 69,98; dan P3 : 61,06 g/ekor/hari; konsumsi bahan kering kelompok : K1 : 55,92; K2 : 44,85; K3 : 62,68; K4 : 60,48; K5 : 66,60; dan K6 : 75,30 g/ekor/hari; konsumsi bahan organik perlakuan : P0 : 51,03; P1 : 51,24; P2 : 63,46; dan P3 : 55,38 g/ekor/hari; konsumsi bahan organik kelompok : K1 : 50,71; K2 : 40,67;K3 : 56,84; K4 : 54,85; K5 : 60,39, dan K6 : 68,19 g/ekor/hari; konsumsi protein perlakuan : P0 : 7,50; P1 : 7,54; P2 : 9,35; dan P3 : 8,22 g/ekor/hari; konsumsi protein kelompok : K1 : 7,51; K2 : 5,97; K3 : 8,40; K4 : 8,10; K5 : 8,88; dan K6 : 10,04 g/ekor/hari; Kecernaan bahan kering perlakuan : P0 : 63,09; P1 : 61,89; P2 : 64,10; dan P3 : 65,46 persen; kecernaan bahan kering kelompok : K1 : 50,71; K2 : 40,67, K3 : 56,84; K4 : 54,85; K5 : 60,39; dan K6 : 68,19 persen; kecernaan bahan organik perlakuan : P0 : 67,26; P1 : 64,79;P2 : 67,22; dan P3 : 68,29 persen; kecernaan bahan organik kelompok : K1 : 67,47, K2 : 67,26; K3 : 64,78; K4 : 66,36; K5 : 65,05; dan K6 : 70,41 persen; kecernaaan protein perlakuan : P0 : 74,20; P1 72,39; P2 : 74,25; dan P3 : 75,12 persen; kecernaan protein kelompok : K1: 50,71; K2 : 40,67; K3 : 56,84; K4 : 54,85; K5 : 60,39; dan K6 : 68,19 persen. Dari hasil analisa variansi, penggunaan ragi roti pada taraf 2% memberikan pengaruh yang paling baik. Penggunaan ragi roti pada taraf ini berpengaruh nyata terhadap konsumsi bahan kering dan konsumsi bahan organik, namun berpengaruh tidak nyata terhadap konsumsi protein, kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan kecernaan proteinnya. Sedangkan penggunaan ragi roti sebesar 1% dan 3% memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap semua peubah yang diamati. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah penggunaan ragi roti pada taraf 2% berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering dan konsumsi bahan organik, namun tidak mampu meningkatkan kecenaannya. Kata kunci : Kelinci NZW jantan, Ragi roti, Konsumsi, Kecernaan.