Abstrak


Image mentalitas masyarakat Flores Nusa Tenggara Timur dalam belis (Studi tanda dalam wacana adat perkawinan)


Oleh :
Siti Rodliyah - T151402007 - Pascasarjana

RINGKASAN

Siti Rodliyah. T151402007. 2019. Image Mentalitas Masyarakat Flores Nusa Tenggara Timur Dalam Belis (Studi Tanda dalam Wacana Perkawinan Adat). Promotor Utama: Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA; Ko-Promotor I Prof. Dr. Bani Sudardi, M. Hum; Ko-Promotor II Prof. Dr. Wakit Abdullah, M. Hum. Disertasi. Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Disertasi ini merupakan kajian tentang image mentalitalitas masyarakat Flores di Nusa Tenggara Timur yang terdapat dalam tradisi belis, sebuah studi tanda dalam wacana  perkawinan adat. Latar belakang masalah ada beberapa. Pertama, adanya tradisi belis atau mahar dalam perkawinan adat yang sangat mahal dan memberatkan di wilayah Nusa Tenggara Timur, tetapi tetap dilaksanakan hingga saat ini. Kedua, adanya belis gading gajah di wilayah Flores, terutama Adonara Flores Timur, yang diketahui bahwa binatang gajah tidak pernah ada di  wilayah tersebut. Meskipun jarang dan berbiaya tinggi, sampai saat ini gading masih dipertahankan sebagai belis. Ketiga,  konsep belis yang  sedikit berbeda dengan mahar disebabkan belis tidak hanya memberi dari pihak pria, tetapi membalas pemberian dari pihak perempuan juga ada tawar menawar. Keempat, pemertahanan pelaksanaan pemberian belis dalam tradisi perkawinan adat dengan berbagai perubahan dan perkembangan jaman.
Image mentalitas dalam kajian ini merupakan upaya mengetahui produk pemikiran masyarakat Flores Di Nusa Tenggara Timur melaui tradisi belis. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkap belis dalam adat perkawinan masyarakat Flores, jenis belis, makna belis, dan image mentalitas masyarakat Flores dalam tradisi belis. Penelitian dirancang sebagai penelitian kualitatif dalam sistem berpikir kritis menggunakan teori wacana Foucault. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis semiotik dan mitos Barthes.
Hasil penelitian ini fokus pada beberapa hal. Pertama, asal usul belis, mitos belis, serta aktualisasi belis  di masyarakat perkotaan dan karya fiksi. Kedua, belis gading dan belis kain tenun. Ketiga, fungsi belis sebagai penghargaan kepada perempuan, sebagai pengikat perkawinan, sebagai pembentukan tubuh perempuan, sebagai mesin reproduksi, sebagai ideologi produksi dan konsumerisme, dan sebagai kontestasi kelas dan aspek perkawinan adat. Keempat, identitas dan kebanggaan etnis, identitas dan harga diri perempuan, warisan leluhur, dan resistensi.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu yang menitikberatkan pada prespektif gender, kesetaraan, dampak sosial belis dan dampak ekonomi, serta kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian ini mengungkap perspektif mentalitas masyarakat Flores selaku pemilik tradisi belis  dan relasi kekuasaan materialisme yang menjadikan tradisi belis tetap dipertahankan.
Adapun temuan  tentang mentalitas masyarakat Flores yang tergambar dalam tradisi  belis di bentuk oleh beberapa aspek. Selanjutnya diuraikan ringkas berikut ini.

(1) Aspek Politis
Pemberian dan balasan selalu berhubungan dengan habitus kekuasaan. Dalam konteks perkawinan ini adalah kekuasaan di lingkungan rumah. Pesta-pesta yang diadakan untuk sebuah acara saling memberi dianggap memiliki prestise sosial. Citra yang ingin dimunculkan dalam pesan saling memberi adalah kedalaman rasa sosial. Motivasi dari acara saling memberi adalah mengukir nama baik (gae naja). Nampaknya, semua organisasi perkawinan adalah mengenai prestise dan untuk menunjukkan apa yang mampu disanggupi. Semakin banyak yang sanggup diberikan, semakin tinggi pula pujian yang didapat dari masyarakat. Satu kalimat filosfis, “siapa yang banyak memberi dengan murah hati, maka ia juga akan mendapat pemberian lebih” menjadi landasan pokok dalam tradisi belis dan balasannya. Sekalipun seorang kaya, ia tetap memerlukan bantuan dari banyak orang kerabatnya ketika keluarganya mengadakan upacara perkawinan adat. Dan oleh karenanya, ia juga harus meminta pemberian dari orang lain. Filosofi ini dibangun untuk menciptakan situasi saling ketergantungan antara kerabat keluarga untuk kepentingan-kepentingan lain di hari depan, seperti bersekolah di tempat yang jauh dari rumah atau mencari pekerjaan. Bahkan, sekalipun ada seorang yang miskin, mereka akan melakukan banyak pemberian dalam setiap acara pesta perkawinan kerabatnya. Orang kaya yang mampu memberi dalam jumlah besar, dan yang diberi tidak mampu mengembalikan, bahkan semakin banyak menerima pemberian atau hutang, maka muncul peluang bagi orang kaya tersebut untuk menuntut dukungan politis dan kekuasaan dalam keluarga, kerabat, dan masyarakat kampung.  
(2) Aspek Ideologis
Belis masih dipandang sebagai prestise kultural yang sangat penting dan mutlak. Menikah tanpa belis dianggap sebagai perkawinan yang cacat. Memiliki banyak simpanan perhiasan emas dan kekayaan lainnya pada dasarnya bukan sebuah tanda bahwa seseorang berasal dari strata sosial yang tinggi. Melainkan menyerahkan pemberian dengan kualitas dan kuantitas lebih, adalah tanda bahwa seseorang berasal dari kelas sosial yang tinggi. Hal ini berarti berbicara tentang sikap kedermawanan. Belis emas dan gading digunakan sebagai pengganti perempuan yang diambil dari rumah orang tuanya. Si ibu perempuan tersebut akan merawat perhiasan emas dan gading sebagai pengganti anak perempuannya yang sebelumnya selalu bersama-sama dengan ibunya. Pemberian belis emas dan gading akan sangat menggembirakan keluarga perempuan. Dikatakan bahwa “rahim perempuan itu berisi emas!”. Untuk membalas pemberian belis yang mahal, pihak keluarga perempuan harus memberikan tenunaan yang sangat bermutu kepada pihak laki-laki. Ideologi mengenai pemberian belis dalam perkawinan cukup membuat perempuan muda di wilayah Flores Timur memiliki pengaruh pada orangtuanya.
(3) Aspek Sosial
Setiap kali ada perayaan pesta perkawinan, seseorang pasti melibatkan sanak kerabatnya serta orang-orang klannya. Perkawinan adalah strategi untuk memperluas jaringan kekerabatan. Semakin tinggi nilai belis untuk mas kawin, semakin tinggi pula prestise pihak laki-laki penerima istri. Perempuan yang dipinang juga akan dihormati sedemikian rupa oleh kelompok keluarga laki-laki. Semakin tinggi belis, semakin tinggi harga tubuh perempuan. Hal tersebut karena belis dipahami sebagai harga kolektif (dikumpulkan oleh keluarga besar laki-laki) untuk keturunan. Macam-macam pemberian dalam belis dan balasannya kepada sanak saudara dan kerabat (dekat maupun jauh) adalah bentuk aktualisasi jaringan hubungan sosial. Jika terjadi konflik atas pemberian-pemberian dalam perkawinan tersebut, biasanya akan mempengaruhi keharmonisan hubungan antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan di kelak kemudian hari, bahkan sampai seumur hidup. Jelasnya, belis dan balasannya mengikat perempuan dalam suatu jaringan luas antarkeluarga yang dapat memberikan keamanan sosial.
(3) Aspek Ekonomi
Saling tukar pemberian dalam adat perkawinan jelas memiliki aspek ekonomi yang kuat. Kedua belah pihak keluarga saling membantu (napa laka) dan saling mengisi kekurangan (goma duna). Perempuan-perempuan dari keluarga yang kurang mampu dapat menganggap ritus saling tukar pemberian tersebut sebagai sebuah sistem koperasi atau tabungan arisan. Opini miring yang berkembang mengatakan bahwa pem-belisan seringkali digunakan oleh oknum untuk memperkaya diri. Hal ini berarti sama dengan menjual anak perempuannya. Namun, pokok pembicaraan kali ini tidak membahas hal itu lagi. Dengan banyaknya pemberian belis dan balasannya yang berupa gading, perhiasan emas, kain tenun, hewan ternak, beras, tuak, dan lain sebagainya itu akan menghidupkan perputaran roda ekonomi masyarakat. Dengan itu, peternakan misalnya, semakin mengalami kemajuan secara kualitas dan kuantitas. Terlebih untuk kebutuhan barang-barang konsumsi, juga akan mengalami peningkatan serupa.
(4) Aspek Hukum
Adanya belis membuka konsekuensi hukum bagi lelaki dan perempuan. Perkawinan dinyatakan sah secara adat, apabila kesanggupan memberi belis dan balasannya sudah diselesaikan oleh kedua belah pihak keluarga. Tindakan melanggar perjanjian dalam adat perkawinan membutuhkan bukti dalam bentuk pengalihan barang-barang tertentu yang harus dapar disaksikan oleh masyarakat kampung adat. Belis adalah jaminan agar laki-laki menjaga dan merawat perempuan yang diambil sebagai istri. Dengan kata lain, belis dan balasannya sangat berkaitan erat dengan hak dan kuasa seseorang di dalam keluarga. Lestarinya rumah tangga membuat perempuan menjadi lebih ringan dalam mengelola perekonomian. Selain itu, perempuan memiliki hak atas pembagian bahan makanan, hak hukum atas tanah dan harta suaminya jika suaminya meninggal dunia. Namun, jika perempuan diceraikan, pihak lelaki tidak memiliki hak hukum untuk meminta kembali belis yang sudah diberikan saat perkawinan. Dalam kasus perceraian, seorang perempuan dan keluarganya tidak memiliki hak atas anak-anak mereka. Anak-anak tersebut ikut dalam klan bapaknya. Seorang perempuan yang sudah menikah, masih memiliki hak-hak tertentu di keluarga asalnya maupun keluarga suaminya, meskipun tidak mutlak. Dengan demikian, belis dihubungkan dengan sebuah pertukaran hak-hak, status, dan kuasa dalam keluarga masing-masing.
(5) Aspek Genetis-Biologis
Belis dapat dipandang sebagai balasan untuk kemampuan seorang perempuan melahirkan untuk melanjutkan keturunan dari pihak klan laki-laki yang mengawininya. Berkembang biak dan seksualitas berhubungan erat dengan cara pandang kelompok masyarakat terhadap dunianya. Belis dipandang sebagai weli weki atau pemberian balasan untuk tubuh perempuan. Oleh karena itu, belis bukan penjamin bahwa perempuan menjadi objek kepemilikan laki-laki. Laki-laki hanya memiliki hak pakai atas tubuh istrinya dalam kegiatan seksual dan reproduksi. Sedangkan perempuan juga memiliki hak atas produk makanan yang dihasilkan oleh laki-laki. Dengan kata lain, belis tidak melegitimasi kekerasan dalam rumah tangga karena perlakuan tersebut akan merusak adat tradisi. Tinggi rendahnya pemberian belis jelas diukur dari kualitas perempuan yang akan dikawini. Perempuan tersebut akan dilihat dari garis keturunannya, kesehatan fisik, dan kesehatan jiwanya. Pertimbangan-pertimbangan semacam itu adalah bawaan alami atas seleksi alam yang dialami manusia sejak masih hidup dengan cara berpindah-pindah dan berburu sebagai cara untuk menjaga kelangsungan hidup serta kualitas anak keturunannya.
Kata kunci: BELIS; GADING;  IMAGE; MENTALITAS; WACANA; TRADISI PERKAWINAN; FLORES; NUSA TENGGARA TIMUR