Abstrak


Metode Komunikasi di Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (Sl-PHT) sebagai Salah Satu Cara Meningkatkan Pengetahuan Petani Tebu dalam Mengendalikan Hama Secara Terpadu


Oleh :
Yullie Akhiril Izzati - S231108025 - Pascasarjana

ABSTRAK

Purworejo merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang terkena hama Lepidio Stigma (Uret) paling tinggi, oleh karena itu pemerintah memutuskan memberikan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) agar petani menjadi ahli PHT. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini bersifat purposive sampling atau sampling bertujuan, yaitu mengambil lokasi di Kelompok Tani “Manunggal” Desa Wonosari Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dengan metode penelitian studi kasus dan triangulasi data, peneliti mencoba meneliti metode komunikasi apa yang digunakan dalam SLPHT, implementasi, dan efektifitasnya dengan mengukur peningkatan pengetahuan dan kemampuan petani dengan menggunakan ballot box test.
Penelitian ini menggunakan Teori Komunikasi Kelompok, Teori Komunikasi Antarpribadi atau Interpersonal, dan Teori Komunikasi Informal. Peneliti tertarik untuk meneliti metode komunikasi yang digunakan pemandu SLPHT dan bagaimana implementasinya dalam meningkatkan pengetahuan petani sehingga petani menjadi ahli PHT. Hal ini dikarenakan juga belum banyaknya penelitian mengenai SLPHT, kalaupun ada belum mengerucut pada tanaman tebu dan metode komunikasi yang digunakan.
Hasil penelitian ini metode komunikasi yang digunakan adalah komunikasi informal, kelompok, dan interpersonal. Tugas peran yang harus dilaksanakan dalam kegiatan sub-kelompok (kelompok kecil) tidak berjalan dengan baik. Keseluruhan tugas diserahkan kepada satu orang saja, yaitu orang yang mendapatkan tugas presentasi. Diskusi berjalan pasif karena feedback yang ada sedikit sekali, sehingga konflik pun jarang terjadi. Kegiatan dinamika kelompok dapat dikatakan efektif untuk mengurangi kejenuhan dan pengembali semangat belajar. Komunikasi antar pribadi yang terjalin antara peserta dan pemandu, dan peserta dengan peserta lain adalah baik. Sehingga membuat peserta yang “malu-malu” pun menjadi mau mengkonsultasikan masalah dan idenya langsung kepada pemandu dan peserta lain secara pribadi. Komunikasi informal yang digunakan dalam SLPHT dapat dikatakan efektif, Karena lebih mudah diterima oleh setiap orang. Hasil dari ballot box test adalah petani telah meningkat pengetahuan dan kemampuannya dalam mengendalikan hama secara terpadu. Saran yang bisa peneliti berikan adalah kegiatan monitoring lanjutan dari pemerintah, penambahan jumlah personil pemandu terlatih, dan penyebarluasan ilmu oleh peserta SLPHT kepada petani yang belum berkesempatan mengikuti SLPHT