Abstrak


Sejarah Adat Istiadat Kampung Naga di Tasikmalaya


Oleh :
Efendi - C0507020 - Fak. Sastra dan Seni Rupa

Penelitian   ini   berjudul,   Sejarah   Adat  Istiadat   Kampung   Naga   di Tasikmalaya.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk mengetahui:   1)  Menjelaskan  latar belakang sejarah Kampung Naga. 2) Menjelaskan bagaimana tradisi adat istiadat Kampung  Naga.   3)   Menjelaskan  bagaimana   pola  permukiman   rumah  adat Kampung Naga.

Penelitian  ini  menggunakan  metode  sejarah  dengan  pendekatan   ilmu budaya  khususnya   Antropologi.   Teknik  pengumpulan   data  yang  digunakan adalah studi dokumen, studi pustaka dan wawancara dengan beberapa informan sebagai sumber primer. Data-data yang terkumpul kemudian diseleksi, dianalisa, dan dinterpretasikan dengan menggunakan pendekatan Antropologi budaya.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Kampung Naga bagian dari wilayah adat  di  Tasikmalaya  masih  sangat  kuat  dalam  memepertahankan  tradisi  adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka (Eyang Sembah Dalem Singaparana). Lapisan tradisi adat istiadat meliputi Upacara Hajat Sasih, upacara Siklus kehidupan meliputi upacara, kelahiran, gusaran, perkawinan dan kematian. Selanjutnya  adalah  upacara  yang  berkaitan  dengan  bercocok  tanam  meliputi upacara  menanam  padi  dan  panen  padi,  upacara  menyepi  serta beberapa  adat tambahan  seperti Tradisi Marak. Tradisi adat istiadat penuh dengan aturan dan pantangan yang mengatur  seluruh kehidupan  masyarakat  yang berupa  larangan tabu  dan pamali.  Hal  itu  dianggap  sebagai  hukum  yang  tidak  tertulis,  harus dilakukan sepenuhnya dan tidak boleh melanggamya. Seperangkat nilai itu mengandung  nilai luhur yang terkandung  di dalamnya  sehingga mencerminkan pribadi   yang   santun,   ramah   dan   sating   menghomrati.    Hal   itu   menjadi keperibadian  bersama secara kolektif dimiliki oleh setiap masyarakat  Kampung Naga.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini ialah bahwa tradisi adat istiadat  membawa   pengaruh   besar   terhadap   pola   permukiman   rumah   adat Kampung  Naga.  Pola  permukiman  mengelompok  (konsentris)  pada  satu  titik yaitu bumi ageung  yang  dianggap  sebagai  rumah  leluhur  atau  nenek  moyang yaitu  Eyang  Sembah  Dalem  Singaparana  Bangunan  bumi ageung  seolah-olah selalu   menyatu   dan   mengikat   kehidupan   sehari-hari   masyarakat   setempat. Orientasi  seluruh permukiman  sama saling berhadap-hadapan  kearah Utara dan Selatan, membentang  dari arah Timur ke Bartat mengikuti pusat (centere) yaitu tempat  yang  dipercaya  sebagai  rumah  cikal  bakal  atau  pendiri  desa  (bumi ageung). Tempat itulah yang dianggap menjadi prasyarat utama bagi masyarakat Kampung Naga. Tradisi adat istiadat sebagai faktor yang sangat penting menjadi pembentuk identitas masyarakat adat Kampung Naga yang dilakukan sepenuhnya secara turun-temurun.