Abstrak


Wacana Tradisi Lisan Martabat Tembung Wali: Tinjauan Aspek Makna, Fungsi, dan Nilai Serta Integrasinya pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Dalam Perspektif Antropolinguistik


Oleh :
Linda Eka Pradita - T841608008 - Pascasarjana

Martabat tembung wali sebagai salah satu kearifan lokal masyarakat Cirebon. Martabat tembung wali berupa ungkapan atau ucapan yang diciptakan oleh Sunan Gunung Jati yang didalamnya terdapat nasihat, pesan, larangan dan sindiran. Martabat tembung wali mengandung bentuk ajaran hidup yang berisi ketaqwaan yang ditampilkan melalui tata cara berperilaku, rendah hati, perilaku disiplin dan tata krama dengan orang tua maupun orang lain. Antropolinguistik mengkaji tradisi lisan dalam beberapa tahap. Tahapan pertama mengkaji bentuk tradisi lisan yakni keterhubungan teks, koteks dan konteks dalam suatu struktur wacana lisan untuk menemukan struktur, formula atau pola tradisi lisan. Tahapan kedua, mengkaji isi tradisi lisan yakni kebernilaian yang merupakan makna, fungsi, dan nilai budaya. Tahapan ketiga yakni keberlanjutan sebagai pemberdayaan melalui upaya mengintegrasikan bentuk dan isi kandungan tradisi lisan dalam pembelajaran.
Penelitian ini menggunakan perspektif antropolinguistik yang berkaitan antara bahasa dalam perspektif kebudayaan. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi etnografi dengan menggunakan pendekatan emik. Artinya analisis fungsi dan makna teks MTW bersumber pada sudut pandang masyarakat sebagai pemilik dan penghayat teks MTW. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah data hasil penelitian lapangan menyangkut wacana tradisi lisan. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari teks-teks tertulis. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan studi dokumen. Agar diperoleh hasil yang memadai dilakukan validasi data dengan cara triangulasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam penerapan teori, teks MTW tidak hanya didasarkan pada kaidah formula saja, tetapi juga menggunakan fitur paralelisme. Paralelisme ini memegang peranan penting dalam merajut teks struktur MTW untuk menciptakan makna estetis. Penyampaian MTW dilakukan melalui lisan berupa cerita dari mulut ke mulut sebagai ingatan kolektif masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dari analisis mikro yang menunjukkan bahwa teks MTW memiliki ritme, asonansi dan aliterasi untuk mengevaluasi paralelismenya yang mencakup bunyi dan gramatikal. Makna dalam MTW adalah konstruk nilai yang menjadi pegangan hidup. Penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari meliputi; fungsi filosofis dan fungsi pragmatis. Nilai pada MTW berupa nilai spiritual, kemanusiaan dan personal. Selanjutnya, bentuk dan nilai yang terkandung dalam MTW diintegrasikan dalam pembelajaran sebagai upaya penguatan karakter bagi peserta didik. Upaya integrasi ini dilakukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada bab persuasif.

Kata kunci: Kearifan Lokal, Martabat Tembung Wali, Integrasi, Etnografi, Antropolinguistik.