Abstrak


Novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidarma: sebuah tinjauan psikologi sastra


Oleh :
Erni Dwi Yulianti - C0203023 - Fak. Sastra dan Seni Rupa

ABSTRAK 2008. Adapun permasalahan yang dibahas dalam Novel Biola Tak Berdawai ini adalah bagaimana penokohan dalam novel Biola Tak Berdawai, bagaimana kejiwaan pengarang berdasarkan teori Psikoanalisis Sigmund Freud, dan bagaimana keterkaitan antara cerita utama dan cerita pewayangan. Novel Biola Tak Berdawai merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Objek penelitian ini adalah para tokoh dalam novel Biola Tak Berdawai. Sumber data yang digunakan adalah novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidarma yang diterbitkan oleh Akur Jakarta, cetakan pertama Februari 2004. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik kepustakaan (library research). Simpulan dari penelitian ini adalah pertama, diantara tokoh-tokoh yang ada di dalam novel, baik tokoh cerita utama maupun cerita tokoh pewayangan, hanya tokoh Dewa dan Sukasrana yang memiliki persamaan. Dewa yang cacat dan serba terbatas diumpamakan sebagai Sukasrana yang buruk rupa tapi baik hatinya. Di lain hal, tokoh Bhisma dalam cerita utama dan tokoh Bhisma dalam cerita pewayangan, meskipun dikaitkan, tetapi keduanya sama sekali tidak memiliki kesamaan karakter maupun kisah hidup. Kedua, unsur id pada Sekar muncul dalam menciptakan tokoh Renjani sebagai tokoh utama. Untuk membuat cerita lebih menarik, dimunculkanlah problematik. Tokoh Bhisma muncul sebagai ego Sekar dalam menciptakan BTB ini. Untuk menengahi antara id dan ego, superego Sekar muncul dalam menciptakan tokoh Mbak Wid yang berbudi pekerti baik, yang mempunyai pengabdian tinggi pada ibunya, sehingga karya ini memberikan contoh yang baik untuk pembacanya. Id yang ada pada Seno adalah dengan menggunakan Dewa sebagai sudut pandang penceritaan. Ego nya muncul atas keinginannya menciptakan novel yang lebih menarik dan lain dengan aslinya. Hingga akhirnya dituliskannya cerita pewayangan yang masih memiliki keterkaitan dengan cerita, dan tentang kartu tarot. Dalam superego Seno ini, ia mewakili suara hati anak tunadaksa. Pembaca diajaknya ikut mengerti bagaimana perasaan anak-anak yang terlahir cacat yang dibuang dan diterlantarkan keluarganya sendiri. Ketiga, cerita pewayangan dan cerita utama memang yang saling berhubungan, tetapi keduanya tidak mengganggu esensi jalannya cerita. Dewa yang dijadikan sebagai penutur pun lepas dari persoalan cerita pewayangan itu, karena Dewa tidak dihadirkan semenjak awal bahwa ia mampu untuk membaca atau mengetahui tentang cerita-cerita pewayangan. Cerita pewayangan dihadirkan hanya untuk menjadi pembanding berdasarkan kejadian-kejadian yang terdapat pada cerita utama dan menjadikan novel terkesan lebih menarik.