;

Abstrak


Representasi Babad Demak dalam Kehidupan Masyarakat Desa Tarub sebagai Upaya Pengembangan Nilai Kearifan Lokal di Sekolah Menengah Atas


Oleh :
Yuliyanti - S442008007 - Sekolah Pascasarjana

Yuliyanti. S442008007.2022. Representasi Babad Demak Dalam Kehidupan Masyarakat Desa Tarub Sebagai Upaya Pengembangan Nilai Kearifan Lokal Di Sekolah Menengah Atas. Tesis. Pembimbing I : Dr. Kundharu Sadhono, M.Hum, Pembimbing II: Dr. Prasetyo Adi Wisnu Wibowo, M.Hum. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Jaka Tarub dan Nawangwulan merupakan salah satu cerita rakyat yang terkenal di Kabupaten Grobogan, khususnya di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo karena masyarakat desa percaya bahwa cerita itu berasal dari sana. Selain cerita rakyat, cerita Jaka Tarub dan Nawangwulan juga termuat dalam manuskrip Jawa dengan judul Babad Demak yang berbentuk tembang macapat. Tembang macapat menjadi salah satu materi yang wajib diajarkan di Sekolah Menengah Atas. Berdasarkan beberapa hal tersebut maka penelitian mencari relevansinya terhadap materi di Sekolah Menengah Atas khususnya di Grobogan. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan tembang dalam teks Jaka Tarub dalam Naska Babad Demak, 2) Mendeskripsikan representasi teks Jaka Tarub pada kehidupan masyarakat Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, 3) Mendeskripsikan nilai kearifan lokal pada teks Jaka Tarub dalam Naskah Babad Demak dan implementasinya pada pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah menengah atas di Kabupaten Grobogan

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah Teks Jaka Tarub dan Nawangwulan dalam Naskah Babad Demak dan informan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dokumen dan wawancara. Uji validitas data menggunakan triangulasi data. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis interaktif.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian ini dapat disimpulkan: 1 Naskah Babad Demak terdapat pada pupuh VII-X. Pupuh VII 15 tembang sinom. pupuh VIII 19 pada tembang kinanthi. Pupuh IX terdiri dari 6 pada tembang sinom. pupuh X 11 pada tembang maskumambang. pupuh XI pada tembang mijil.Hermeneutika dalam tembang ini tergambarkan pada kata “widadari” yang Makna yang pertama adalah gadis yang sangat cantik, Makna yang kedua adalah “memandang bulan” Pupuh VIII Kinanthi Frasa “Pari sawuli” menggambarkan kesejahteraan yang hadir dari tokoh Nawangwulan . 2) Cerita Jaka Tarub dan Nawangwulan bagi masyarakat Grobogan dianggap sesuatu yang nyata dan benar-benar terjadi. Hal ini terwujud melalui adanya kegiatan upacara adat, pantangan, dan keagamaan yang berhubungan dengan tokoh dalam cerita tersebut. 3) Nilai kearifan lokal yang ada terkandung dalam tembang macapat pada Teks Jaka Tarub dan Nawangwulan adalah kejujuran, komitmen, nilai kepercayaan, gotong royong, pengelolaan gender, nilai kesopansantunan dapat dijadikan materi macapat pada mata pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa di Sekolah Menengah Atas.