Abstrak


Strategi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Surakarta dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender sebagai Upaya Meningkatkan Keterlibatan Perempuan dalam Politik Organisasi


Oleh :
Rani Septia Mahmudah - K6417058 - Fak. KIP

Penelitian ini mendeskripsikan terkait (1) strategi PMII Kota Surakarta dalam mewujudkan kesetaraan gender sebagai upaya meningkatkan keterlibatan perempuan dalam politik organisasi dan (2) kendala dan solusi PMII Kota Surakarta dalam menjalankan strategi mewujudkan kesetaraan gender sebagai upaya meningkatkan keterlibatan perempuan dalam politik organisasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan sample menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumen. Teknik uji validitas menggunakan triangulasi metode dan sumber. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) strategi PMII Kota Surakarta dalam mewujudkan kesetaraan gender sebagai upaya meningkatkan keterlibatan perempuan dalam politik organisasi melalui : (a) sosialisasi tentang kesetaraan gender dan pemberian afirmasi kepada perempuan melalui 3 cara yaitu formal (Mapaba, PKD, dan PKL), non formal (gender camp, safari kopri dan bedah buku) dan informal (ngopi bareng dan dolan bareng),(b) aksesibilitas perempuan dalam menempati posisi strategis pada kegiatan konfercab, dan (c) aksesibilitas perempuan dalam mempengaruhi pengambilan keputusan pada kegiatan rakorcab. (2) kendala dan solusi dalam penerapan strategi PMII Kota Surakarta dalam mewujudkan kesetaraan gender sebagai upaya meningkatkan keterlibatan perempuan adalah (a) sosialisasi tentang kesetaraan gender dan afirmasi kepada perempuan, yaitu kurangnya SDM Kopri, solusi yang dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan lembaga lain, (b) aksesibilitas perempuan dalam menempati posisi strategis pada pelaksanan kegiatan konfercab, yaitu posisi startegis masih didominasi oleh laki-laki, solusi yang dilakukan adalah dengan menentukan kuota minimum keterlibatan perempuan yaitu 1/3 dari jumlah keseluruhan pengurus, (c) aksesibilitas perempuan dalam mempengaruhi pengambilan keputusan pada kegiatan rakorcab, yaitu waktu kegiatan dilakukan hingga larut malam, solusi yang dilakukan adalah memberikan batasan jam kegiatan, dan mengalihkan waktu kegiatan pada sore hari.