Abstrak


Implementasi Lean Six Sigma dalam Analisis e-Downtime Waste dan Usulan Perbaikan Produksi Flooring Board di PT. Legenda Bintang Bola


Oleh :
Rut Yolanda Karfisa Br. Lumbanraja - I0317078 - Fak. Teknik

Kegiatan ekspor sangat penting untuk menunjang perekonomian negara di masa pandemi COVID-19. Salah satu syarat penting dalam ekspor adalah kesesuaian produk dengan standar negara tujuan dan peningkatan kualitas produk dalam persaingan yang ketat. PT. Legenda Bintang Bola (PT. LBB) sebagai industri yang memproduksi papan Flooring kemudian diekspor ke berbagai negara di Asia dan Eropa memiliki masalah kualitas dalam proses produksinya yaitu banyak terjadi limbah. Ada sembilan limbah yang teridentifikasi di PT. LBB yang termasuk   dalam   pemborosan   E-DOWNTIME.   Kesembilan   waste   tersebut memiliki rentang nilai sigma 2,74-4,83 sigma dan terdapat waste  yang saling berkaitan. Setelah itu dilakukan pemilihan menggunakan matriks prioritas sesuai dengan kriteria perusahaan dan  menghasilkan  waste  yang paling kritis adalah defect dengan nilai Total Project Priority 1500. Setiap jenis defect di PT. LBB yaitu revisi, downgrade, reject, dan jemur ulang kemudian dianalisis dengan fishbone diagram  dilanjutkan  FMEA dan  didapatkan hasil  bahwa jenis  defect downgrade dan reject memiliki nilai RPN tertinggi yaitu 426,67 dan 320 poin dengan faktor penyebab karena ada adalah knot atau bor dan permukaan yang terkelupas, berlubang, dan miring yang lolos tahap pengawasan mutu karena kelalaian petugas QC. Namun, alat pendeteksi kayu saat ini sangat mahal dengan kisaran ratusan juta hingga miliaran rupiah. Untuk itu diberikan usulan perbaikan dengan metode poka yoke dengan membuat alat pendeteksi cacat sederhana menggunakan Arduino nano untuk mendeteksi keberadaan knot, bore, dan chip pada permukaan kayu sebelum memasuki proses produksi lanjutan. Setelah dilakukan pengujian, ternyata alat sederhana ini mampu mendeteksi 75% sampel dengan benar. Alat yang harganya hanya Rp. 300.000, dapat dikembangkan lebih lanjut dan dapat diintegrasikan dengan penyortiran manual oleh petugas QC untuk meningkatkan pencegahan cacat.