Resiliensi diperlukan seseorang untuk bangkit dan kembali dapat
mengembangkan potensi dari dalam diri ketika menghadapi kesulitan atau sedang
dalam masa terpuruk. Seorang mantan penyalahguna NAPZA yang bekerja sebagai
konselor adiksi dengan resiliensi akan dapat mempertahankan kondisi pulihnya dan
memiliki kehidupan yang bermanfaat bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi mantan
penyalahguna NAPZA yang bekerja sebagai konselor adiksi. Karakteristik dari
subjek penelitian ini adalah: pernah menyalahgunakan NAPZA; pernah
menyelesaikan program rehabilitasi; sudah pulih dari ketergantungan NAPZA dan
tidak mengkonsumsi NAPZA lebih dari dua tahun dan bekerja sebagai konselor
adiksi. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Subjek penelitian ini
berjumlah tiga orang. Analisis data menggunakan interactive model dan uji
keabsahan data menggunakan teknik triangulasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga subjek memiliki
kemampuan resiliensi yang membuat ketiga subjek tidak kembali lagi ke dalam
penyalahgunaan NAPZA setelah bekerja sebagai seorang konselor adiksi. Aspek I
have pada subjek I terlihat dari dukungan dan perhatian dari orang terdekatnya,
terutama dari tante subjek yang menerima subjek secara apa adanya dari masa
keterpurukan subjek hingga subjek menjadi seorang konselor adiksi dan sekaligus
menjadi sosok role models bagi subjek I. Sedangkan subjek II dan III memperoleh
dukungan dari kedua orang tuanya. Ketiga subjek memiliki peraturan dan batasan
yang sama yang membantu untuk mempertahankan kondisi bersih dari NAPZA
karena ketiga subjek tinggal di tempat yang sama. Aspek I am pada ketiga subjek
terlihat dari bagaimana motivasi subjek ketika menjadi seorang konselor adiksi,
ketiga subjek ingin untuk menjadikan hidupnya bermanfaat untuk orang-orang yang
membutuhkan pertolongan. Aspek I can pada subjek I dan III terlihat ketika subjek
mampu mengkomunikasikan permasalahan yang dihadapi kepada istrinya,
sedangkan subjek II lebih banyak mengkomunikasikan kekhawatirannya kepada
orang tua dan rekan kerjanya. Selain itu, subjek III juga lebih mampu mengendalian
emosi dan memilah permasalahan yang sedang dihadapi jika dibandingkan dengan
subjek I dan II.