Warung
wedangan di Kota Surakarta telah
bergeser fungsi menjadi ruang publik bagi masyarakat. Ruang publik menjadi
wadah bagi seluruh lapisan masayarakat untuk berkumpul dan melakukan berbagai
diskusi kritis secara bebas tanpa adanya tekanan dari kalangan otoritas. Adanya
modernisasi mulai berpengaruh kepada metamorfosa warung wedangan. Berbagai transformasi dilakukan oleh pedagang wedangan hingga menghasilkan berbagai
jenis dan bentuk warung wedangan.
Dalam penelitian ini dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu warung wedangan tradisional, berkembang dan
modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh
transformasi berpengaruh pada warung wedangan
sebagai ruang publik. Transformasi warung wedangan sebagai ruang publik di fokuskan pada beberapa poin yaitu
transformasi warung wedangan secara
fisik, partisipan yang berkunjung, pesan yang dipertukarkan, bahasa yang
digunakan dan atmosfer yang berkembang didalamnya.Penelitian
ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan penggunaan metode quasi-participant observation dan in-depth interview secara terstruktur di
sembilan situs dari tiga kategori jenis warung wedangan. Sumber data berupa manusia dengan teknik theoretical construct sampling dengan
menetapkan aspek-aspek tertentu dari konsep yang digunakan. Data juga didukung
dengan berbagai studi literatur.Teknik
analisis data menggunakan model analisis interaktif dimulai dari reduksi data,
penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ketiga jenis warung wedangan masih mempertahankan
ruang publik, meskipun memiliki perbedaan dalam segi ukuran, komposisi publik,
gaya bekerja, puncak perdebatan, maupun perbedaan orientasi topik. Warung wedangan tradisional dan berkembang
memiliki tiga kriteria institusional atau tiga ciri dasar ruang publik yaitu
demokrasi, kebermaknaan dan renponsif.
Meskipun diketahui bahwa ruang publik di warung wedangan berkembang mulai terkotak-kotak karena lahan yang luas
yang tidak memungkinkan semua orang yang datang ke wedangan ikut bergabung dalam suatu bahasan, pengunjung cenderung
bersama kelompoknya. Sedangkan
transfromasi pada warung wedangan modern nampaknya berpengaruh pada
ruang publik yang semu. Transformasi menuju modernitas justru semakin
mengaburkan nilai ruang publik sebagai wadah bersatunya warga negara tanpa
membawa atribut apapun untuk melakukan diskusi kritis mengenai kegelisahan
publik serta terbentuknya sebuah opini publik sebagai wujud demokrasi
deliberatif.
Keyword:
ruang
publik, transformasi, warung wedangan, tradisional, berkembang, modern