Perkembangan fashion saat ini mendorong
dominasi busana formal modern dalam berbagai aktivitas sehingga penggunaan
beskap gaya Surakarta cenderung terbatas pada konteks budaya dan acara
tertentu. Selain itu, pengembangan desain beskap masih relative terbatas
sehingga membuka peluang untuk menghadirkan inovasi desain. Berdasarkan
permasalahan tersebut, perancangan ini bertujuan menghasilkan inovasi desain
beskap gaya Surakarta sebagai busana panggung pria (master of ceremony) melalui
eksplorasi material tenun ikat dan penerapan aplikasi dekoratif untuk
menghadirkan tampilan yang lebih modern, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan
busana panggung masa kini. Metode perancangan yang digunakan adalah Double
Diamond Framework oleh British Design Council yang meliputi tahap discover,
define, develop, dan deliver. Pengumpulan data dilakukan melalui
studi pustaka, observasi, wawancara, serta uji coba.Hasil perancangan menunjukkan bahwa beskap gaya
Surakarta dapat dikembangkan menjadi busana panggung pris yang lebih inovatif
tanpa menghilangkan karakter formalnya. Penggunaan tenun ikat dengan pewarna
alami indigo yang dipadukan dengan aplikasi dekoratif bunga dan daun tarum
mampu menghasilkan tampilan visual yang lebih dinamis, elegan, dan modern.
Selain itu, pengembangan siluet, detail desain, dan eksplorasi material lokal
memberikan fleksibilitas fungsi sekaligus mendukung kebutuhan pembawa acara di
atas panggung.
Temuan dalam perancangan ini menunjukkan bahwa beskap gaya Surakarta
dapat dikembangkan menjadi busana panggung pria melalui pemanfaatan tenun ikat
dengan pewarna alami tarum (Indigofera tinctoria) serta penerapan
aplikasi dekoratif tiga dimensi yang terinspirasi dari bunga dan daun tarum.
Kebaruan perancangan terletak pada pengembangan bentuk dan detail beskap yang
tetap mempertahankan identitas budaya Surakarta, namun menghadirkan tampilan
yang lebih modern, artistik, dan sesuai dengan kebutuhan busana panggung masa
kini.