Pengembangan kampung wisata industri kreatif merupakan salah satu upaya untuk menguatkan perekonomian lokal berbasis pada potensi budaya. Kecamatan Plered berada di Kabupaten Cirebon dikenal sebagai sentra industri batik yang memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi. Namun, pengembangan sentra batik di Kecamatan Plered masih memerlukan kajian terkait kesiapan dari masing-masing desa agar dapat berkembang secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan seluruh Desa di Kecamatan Plered sebagai kampung wisata kreatif berbasis batik trusmi dengan mengkaji berbagai aspek yang mendukung kesiapan dan keberlangsungan industri batik di wilayah tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deduktif dengan jenis penelitian Mixed Methodology. Data yang didapatkan dari hasil wawancara akan dianalisis melalui aplikasi Nvivo, dikuantifikasi menggunakan teknik analisis skoring, dan dilakukan analisis overlay untuk mengetahui tingkat kesiapan masing-masing desa tersebut secara spasial. Hasil penelitian menunjukan terdapat tiga desa dengan klasifikasi siap, yaitu Desa Trusmi Kulon, Trusmi Wetan, dan Panembahan. Kemudian, desa dengan klasifikasi cukup siap meliputi Desa Gamel, Wotgali, Kaliwulu, Serebau, Cangkring, dan Tegalsari. Desa Pangkalan merupakan satu-satunya desa dengan klasifikasi kurang siap. Berdasarkan konsep linkage kawasan wisata, ketiga tingkat kesiapan tersebut digolongkan menjadi tiga fungsional yaitu desa inti, desa penyangga atau pendukung, dan desa penghubung. Rekomendasi penelitian meliputi penetapan zonasi fungsional desa, penguatan Desa Panembahan sebagai simpul distribusi dan pemasaran, pembinaan pengrajin, penanganan limbah industri batik, peningkatan aksesibilitas, dan pengembangan Festival Memayu Buyut Trusmi menjadi festival berstandar nasional.