Karina Putri Kunanti, K4422038, Pembimbing I: Prof. Dr. Sariyatun, M.Pd., M.Hum. MAKNA FILOSOFIS KULINER SEGO PLONTANG SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA NEGERI 2 SRAGEN. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Mei 2026Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan makna filosofis kuliner Sego Plontang dari Desa Krikilan, Sangiran, Kabupaten Sragen, (2) menganalisis relevansinya sebagai sumber pembelajaran sejarah, serta (3) menganalisis bentuk implementasinya di SMA Negeri 2 Sragen. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain etnografi. Sumber data meliputi peristiwa pembelajaran di kelas X, informan yang terdiri atas sekretaris Desa Krikilan, pelaku UMKM, pamong budaya Kabupaten Sragen, dan guru sejarah SMA Negeri 2 Sragen, serta dokumen berupa Serat Kuno, modul ajar, dan capaian pembelajaran Fase E. Pengambilan sampel dilakukan dengan snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Validitas data diuji melalui triangulasi metode dan sumber. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, setiap komponen Sego Plontang mengandung makna filosofis yang koheren: wadah takir bermakna "Tata ing Pikir", lidi menyimbolkan syahadat, janur kuning melambangkan ukhuwah, dan lauk-pauk merepresentasikan dinamika kehidupan serta nilai spritualitas. Tradisi ini diduga berkembang sejak era Mataram Islam berdasarkan bukti tekstual Serat Kidungan Kawedhar karya Sunan Kalijaga. Kedua, Sego Plontang memiliki relevansi multidimensi dengan Capaian Pembelajaran Sejarah Fase E Kurikulum Merdeka, dengan keterkaitan terkuat pada materi Kerajaan Mataram Islam. Ketiga, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas X, implementasinya dapat diwujudkan melalui booklet digital interaktif yang diintegrasikan dalam diskusi kelas berbasis Problem Based Learning atau Contextual Learning. Kuliner tradisional terbukti layak menjadi sumber belajar sejarah lokal yang kontekstual sekaligus media pembentukan karakter berbasis kearifan lokal.