Kota Pematangsiantar merupakan kota transit menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba yang memiliki potensi ekonomi dan budaya, namun belum didukung oleh fasilitas perdagangan yang mampu mengintegrasikan aktivitas jual beli dengan wisata budaya. Kondisi tersebut melatarbelakangi perancangan Pasar Wisata di Kota Pematangsiantar dengan Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular yang bertujuan mewadahi kegiatan perdagangan, edukasi, promosi budaya, dan wisata dalam satu kawasan. Metode perancangan dilakukan melalui pengumpulan data primer berupa observasi lapangan dan dokumentasi serta data sekunder melalui studi literatur, regulasi, dan studi preseden yang kemudian dianalisis menggunakan analisis kebutuhan ruang, tapak, aktivitas, sirkulasi, bentuk, struktur, utilitas, dan penerapan tema sebagai dasar penyusunan konsep perancangan. Hasil perancangan berupa pasar wisata yang mengintegrasikan area pasar rakyat dengan fasilitas pendukung berupa galeri budaya, workshop tenun ulos dan ukiran, area kuliner, ruang terbuka publik, serta area parkir terpadu. Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular diterapkan melalui reinterpretasi bentuk atap Rumah Bolon, penggunaan motif Gorga sebagai elemen arsitektural, penerapan tata letak kawasan yang mengadaptasi pola perkampungan Batak Toba, serta pemilihan material dan tata ruang yang merepresentasikan identitas budaya lokal dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan masa kini. Rancangan ini diharapkan mampu menjadi destinasi wisata belanja dan budaya yang memperkuat identitas Kota Pematangsiantar, meningkatkan perekonomian masyarakat, serta mendukung pengembangan pariwisata kawasan Danau Toba.