Galeri Lokananta merupakan ruang pamer
yang memuat nilai sejarah dan budaya industri musik Indonesia. Pasca
revitalisasi, desain tata pamer tidak hanya berfungsi sebagai media penyajian
koleksi, tetapi juga sebagai sarana komunikasi yang membantu pengunjung
membangun interpretasi terhadap makna pameran. Namun, belum diketahui sejauh
mana desain tata pamer tersebut mampu menyampaikan maksud dan tujuan galeri
kepada pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
karakteristik desain tata pamer Galeri Lokananta, menganalisis interpretasi
mandiri pengunjung terhadap pameran, serta mengkaji hubungan antara elemen tata
pamer dengan interpretasi pengunjung.Penelitian menggunakan metode kualitatif
deskriptif dengan paradigma rasionalistik. Data diperoleh melalui observasi,
wawancara mendalam dengan pengelola dan pengunjung, serta dokumentasi. Analisis
data dilakukan menggunakan metode KJ, analisis perbandingan melalui pendekatan encoding-decoding
Stuart Hall untuk mengidentifikasi kesesuaian antara representasi Galeri
Lokananta dan interpretasi pengunjung, dan model Miles dan Huberman,. Analisis
difokuskan pada empat elemen tata pamer, yaitu layout, display narasi,
display objek koleksi, dan teknologi audio visual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa
setiap ruang galeri memiliki tingkat kesesuaian interpretasi yang berbeda.
Ruang Linimasa dan Ruang Bengawan Solo menunjukkan kesenjangan interpretasi
yang rendah, sedangkan Ruang Gamelan dan Ruang Proklamasi memiliki kesenjangan
interpretasi terbesar. Ruang Aneka Nada menunjukkan tingkat kesesuaian sedang.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan interpretasi pengunjung tidak
ditentukan oleh satu elemen tata pamer secara terpisah, melainkan oleh
keterpaduan antara layout, display narasi, objek koleksi, dan teknologi
audio visual dalam membangun pengalaman ruang. Semakin terintegrasi hubungan
antar elemen tersebut, semakin efektif desain tata pamer dalam membantu
pengunjung memahami makna yang ingin disampaikan Galeri Lokananta.