Sayuran merupakan komoditas yang diperdagangkan setiap hari dan dikonsumsi oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Kangkung darat menjadi salah satu sayuran yang populer karena rasa yang enak, mudah diolah, dan terjangkau. Kangkung kaya akan vitamin A, vitamin C, zat besi, kalsium, dan fosfor. Tingkat konsumsi kangkung cukup tinggi di Indonesia mencapai 3,78 kg/kapita/tahun, sedangkan ketersediaan masih rendah. Diperlukan upaya untuk meningkatkan ketersediaan kangkung di Indonesia salah satunya dengan pemupukan. Praktik pemupukan kangkung dengan pupuk kimia sintetik dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan residu kimia. Penggunaan pupuk organik seperti pupuk cair (POC) dari ampas kopi menjadi alternatif yang ramah lingkungan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa aplikasi POC ampas kopi dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, sehingga penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami pengaruh jenis dan konsentrasi POC ampas kopi terhadap pertumbuhan kangkung darat. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendapatkan jenis kopi pada POC ampas kopi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kangkung darat, mendapatkan konsentrasi pada POC ampas kopi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kangkung darat, dan mendapatkan informasi apakah POC ampas kopi dari jenis dan konsentrasi tertentu dapat menggantikan penggunaan pupuk NPK 16-16-16 dalam budidaya kangkung darat. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap satu faktor. Terdapat 10 perlakuan yaitu kontrol, jenis kopi arabika,robusta, dan liberika dengan 3 konsentrasi berbeda yaitu 4 ml/l, 12 ml/l dan 20 ml/l. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga terdapat 40 unit percobaan per plot. Terdapat 2 plot yaitu destruktif dan non-destruktif. Pupuk diaplikan pada 4 HST, diberikan seminggu sekali. Analisis data dilakukan menggunakan uji analisis ragam (ANOVA) taraf 5%, apabila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Muliple Range Test) dan analisis korelasi Pearson. Variabel pengamatan yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (mm2), panjang akar (cm), bobot segar (g), bobot kering (g), kandungan klorofil (μg/ml dan unit), kandungan karotenoid (mg/g), laju asimilasi bersih (g/mm2/hari), N total (%), P total (mg 100g), P tersedia (ppm), K total (mg 100g), C-organik (%), bahan organik (%), C/N, dan pH. Hasil penelitian pada 28 hari setelah tanam menunjukkan bahwa beberapa jenis dan konsentrasi berbeda pada aplikasi POC ampas kopi belum mampu meningkatkan pertumbuhan kangkung darat dibandingkan kontrol. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kandungan N dan P dalam semua jenis POC ampas kopi, pH pupuk yang asam, dan metode penyemprotan pupuk pada daun. Sehingga penggunaan beberapa jenis dan konsentrasi berbeda POC ampas kopi belum dapat menggantikan penggunaan pupuk NPK 16-16-16.