Jahe merah memiliki syarat hidup yang cocok di Indonesia karena memiliki
iklim tropis sehingga mudah untuk melakukan budidaya. Jahe merah merupakan
tanaman rimpang yang memiliki banyak manfaat sebagai herbal maupun bumbu
dapur, oleh karena itu permintaan akan komoditas jahe merah meningkat setiap
tahunnya. Upaya untuk meningkatkan produksi perlu dilakukan melalui perbaikan
teknik budaya dan kesuburan tanah. Aplikasi biochar tongkol jagung dan kompos
kulit singkong diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jahe merah
yang nantinya berdampak positif terhadap hasil, sehingga perlu dilakukan
penelitian tentang aplikasi biochar tongkol jagung dan kompos kulit singkong
dengan dosis yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan bulan April-Oktober 2023 di Laboratorium Lapang
Fakultas Pertanian UNS yang berlokasi di Jumantono, Laboratorium Ekologi dan
Manajemen Produksi Tanaman (EMPT), dan Laboratorium Kimia Tanah Fakultas
Pertanian UNS. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang
terdiri dari 2 faktor yaitu biochar tongkol jagung (B) dan kompos kulit singkong (K).
Dari kedua faktor tersebut diperoleh 16 kombinasi perlakuan dan diulang 3 kali
ulangan, sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Dosis perlakuan biochar
tongkol jagung meliputi: B0 = 0 g/polybag, B1 = 100 g/polybag, B2 = 200 g/polybag,
dan B3 = 300 g/polybag. Dosis perlakuan kompos kulit singkong meliputi: K0 = 0
g/polybag, K1 = 94 g/polybag, K2 = 125 g/polybag, K3 = 156 g/polybag. Data
dianalisis menggunakan Anova dilanjut uji DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biochar tongkol jagung dengan
kompos kulit singkong belum mampu meningkatkan seluruh variabel pengamatan
pertumbuhan tanaman jahe merah. Dosis biochar tongkol jagung 200 gram
mampu meningkatkan berat brangkasan basah dan berat brangkasan kering jahe
merah secara optimal. Dosis kompos kulit singkong 156 gram mampu
meningkatkan jumlah daun, jumlah anakan, diameter batang, luas daun, berat
brangkasan basah, dan berat brangkasan kering jahe merah secara optimal.