Salah satu jenis pasta yang sering dijumpai di
Indonesia adalah lasagna, yang biasanya terbuat dari tepung terigu berprotein
tinggi yang mengandung gluten. Kandungan gluten dapat
menyebabkan gangguan fisiologis pada tubuh terutama bagi penderita autisme. Untuk menciptakan
lasagna bebas gluten dan memberdayakan sumber pangan lokal, dikembangkanlah
lasagna berbasis pati sagu dengan tambahan tepung kacang hijau sebagai sumber
protein. Selain itu, dilakukan fortifikasi dengan besi pirofosfat untuk
meningkatkan kandungan zat besi, guna mengatasi tingginya kasus anemia di
Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik
meliputi tekstur dan warna, kimia meliputi analisis proksimat, kadar zat besi,
mutu sensori melalui uji hedonik, serta penentuan formula terbaik. Penelitian
ini terdiri dari tiga tahap: persiapan tepung kacang hijau, pembuatan lasagna,
karakterisasi lasagna, dan penentuan formulasi terbaik. Analisis dilakukan
menggunakan SPSS One Way Anova dengan faktor perbedaan konsentrasi pati
sagu dan tepung kacang hijau. Formula yang digunakan meliputi variasi
konsentrasi pati sagu dan tepung kacang hijau (60:10; 55:15; 50:20; 45:25; dan
40:30). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lasagna dengan formulasi
terbaik berdasarkan parameter uji adalah F4 (45% pati sagu : 25% tepung kacang
hijau). Perlakuan F4 memiliki kadar air 9,24%; kadar abu 1,55%; kadar lemak
1,72%; kadar protein 6,06%; kadar karbohidrat 80,99; kadar zat besi 1,77%;
breaking stress 13,51 MPa; fracturability 32,46 mm; stiffness 24,15 MPa/sec;
nilai L* 91,67, nilai a* 1,87; nilai b* 13,08; uji hedonik parameter kenampakan
7,10 (suka); warna 7,32 (suka); aroma 6,90 (cukup suka); tekstur 7,23 (suka);
rasa 7,23 (suka); keseluruhan 6,97 (cukup suka).