Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui refleksivitas stakeholder CSR PT TWC Borobudur untuk merespons krisis pandemi COVID-19 dengan
mengidentifikasi pemikiran, sikap dan tindakan mereka; (2) Menggambarkan CSR PT TWC Borobudur untuk
mengembangkan safe tourism melalui stakeholder engagement dalam proses
perumusan tujuan, strategi dan operasinya, ruang lingkup kegiatan, unit organisasi,
dan jangka waktu kegiatan; (3) Menyusun rumusan model refleksivitas stakeholder CSR untuk mengembangkan safe tourism melalui
stakeholder engagement. Teori utama menggunakan teori refleksivitas dari Beck,
serta teori pemberdayaan masyarakat dan stakeholder engagement. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Penentuan informan menggunakan purposive sampling, yang terdiri dari manajemen
dan karyawan CSR PT TWC Borobudur, pemimpin formal dan informal, pengurus dan
karyawan Balkondes, Pengurus Bumdes, pelaku wisata, warga masyarakat dan
wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, ada
variasi pemikiran tentang efek penularan COVID-19 dari
segi kesehatan dan ekonomi. Pada umumnya dari segi kesehatan mereka khawatir
tertular, diri sendiri atau keluarga sakit, bahkan meninggal. Dari segi ekonomi
tidak bisa bekerja, turunnya pendapatan atau bahkan tidak memiliki pendapatan. Begitupun dalam sikap stakeholder terhadap
protokol kesehatan. Untuk aturan mengukur suhu tubuh, mencuci tangan pada
umumnya setuju meski membutuhkan waktu untuk pembiasaan. Sementara untuk menjaga jarak, ada yang tidak setuju karena
tidak semua pekerjaan dapat dilakukan jika ada aturan ini. Mereka khawatir akan
kehilangan pekerjaan. Untuk vaksinasi ada yang merasa takut karena menerima
informasi yang salah mengenai vaksin. Misalnya informasi bahwa vaksin akan
menurunkan daya tahan tubuh, Variasi juga terdapat dalam tindakan stakeholder
berkaitan dengan kegiatan CSR untuk pengembangan safe tourism. Untuk pengukuran
suhu tubuh dan cuci tangan dilakukan dengan suka rela. Namun untuk vaksinasi
ada yang tidak bersedia karena takut. Namun pada akhirnya ikut di tahap akhir
karena kesertaan mengikuti vaksinasi menjadi syarat untuk melakukan berbagai
aktivitas di luar rumah. Kedua, pengembangan
safe tourism melalui stakeholder enggagement dilakukan dengan input strategi,
metode enggagement, dan output
stakeholder enggagement. Input strategi dibangun dari elemen: strategi
interaksi, penerapan strategi enggagement, dan strategi integrasi. Strategi interaksi untuk mengkomunikasikan
rinciankegiatan dalam program CSR kepada stakeholder. Strategi engagement untuk mencari masukan terbaik dari stakeholder
berupa pemikiran, komentar, dan saran
melalui berbagai saluran. Strategi integrasi mencerminkan kesediaan perusahaan
untuk mendorong partisipasi
aktif dari stakeholder dan menerima masukan dalam pengambilan
keputusan.Implementasi yang merupakan bagian dari enggagement dibangun
dari minat stakeholder terhadap
komunikasi organisasi yang diperoleh pada Langkah 3. Selain input
strategi, metode enggagement
diperhatikan karena akan mempengaruhi output stakeholder enggagement. Metode
komunikasi dua arah lebih banyak digunakan dalam tahap implementasi disesuaikan
dengan karakter stakeholder. PT TWC Borobudur mengkomunikasikan rincian kegiatan, hambatan yang muncul dan mencari
masukan dari stakeholder untuk mengatasi hambatan. Pada akhirnya kegiatan mulai
dari sosialisasi bahaya penyebaran COVID-19 hingga penyelenggaraan vaksinasi
dapat dilaksanakan. Outcome dari stakeholder enggagement adalah mencapai salah satu dari tiga hasil, yaitu kontrol,
kolaborasi, atau penentuan bersama. Outcome dari proses stakeolder engagement CSR PT TWC Borobudur adalah kontrol teradap penularan
COVID-19. PT TWC Borobudur mampu menyiapkan diri ketika TWCB dibuka kembali
untuk wisatawan. Ketiga, model refleksivitas stakeholder CSR untuk mengembangkan safe tourism. Ketiga, rumusan model refleksivitas
stakeholder CSR
PT TWC Borobudur dalam mengembangkan safe tourism dibangun secara komprehensif
dengan melihat kondisi sosial dan kesehatan masyarakat. Dari penelitian ini
dapat dikemukakan bahwa refleksivitas akan muncul melalui proses pemikiran,
sikap dan tindakan dalam diri seseorang ketika menghadapi bencana. Namun proses
munculnya tindakan tidak hanya melalui modal positif, tetapi juga negatif seperti
konflik dan perbedaan kepentingan. Dalam konteks penerapan CSR, bahwa adanya
konflik yang berkepanjangan telah menghambat hubungan masyarakat dan
perusahaan. Bisa dipahami bahwa bentuk kegiatan CSR yang dilakukan lebih banyak
berbentuk charity/filantropi daripada pemberdayaan. Oleh karena itu, penelitian
ini menawarkan untuk memasukkan aspek konflik dalam teori refleksivitas untuk
memahami stakeholder CSR ketika menghadapi bencana. Novelty (kebaruan)
penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Isu penelitian ini difokuskan
pada refleksivitas stakeholder CSR dalam menghadapi krisis pandemi COVID-19.
Perusahaan maupun masyarakat menghadapi risiko yang sama. Di tengah tekanan
berkurangnya pengunjung wisata, perusahaan harus bisa bertahan sekaligus
menjalankan CSR. PT TWC merupakan
perusahaan yang sudah menghasilkan profit yang besar dan sering mendapatkan
penghargaan, namun angka kemiskinan penduduk Desa Borobudur termasuk tinggi. Empirical
gap ini yang menjadi kebaruan isu penelitian ini. 2) Penelitian ini
menggunakan teori masyarakat risiko dari Ulrich Beck, yang belum banyak
digunakan dalam penelitian dengan tema CSR. Bahwa modernisasi menghasilkan
risiko, namun juga refleksivitas sebagai respons dalam menghadapi risiko.
Sejauh runutan peneliti, teori ini tidak menyediakan penjelasan tentang proses
munculnya respons. Penelitian ini mencoba menutup theoritycal gap dengan
memanfaatkan pendapat Osborn & Referen (2006) yang mengemukakan bahwa
refleksivitas dimulai dengan munculnya reflektivitas (pemikiran atau kesadaran
diri) ketika mengumpulkan dan mengamati
data tentang risiko dan akibatnya. Oleh
karena itu refleksivitas baik berbentuk pemikiran, sikap maupun tindakan akan
berperan dalam mengantisipasi, mengurangi atau mengatasi dampak dari risiko
(Lawang, 2005; Demartoto, 2013). Secara teoritis, konsep refleksivitas dari
Beck dapat disintesakan dengan teori praktik (theory of practice) dari
Pierre Bourdieu (Sutopo & Meiji, 2017) dan diaplikasikan dalam konteks
masyarakat yang sedang menghadapi krisis atau bencana. Dengan menggunakan teori
praktik dari Bourdieu, sikap dan perilaku individu dipahami melalui habitus,
modal dan ranah yang melingkupinya. Jadi analisis data hasil penelitian ini mencoba
menutup theoritical gap dengan menambahkan penjelasan tentang proses
refleksiksivitas dan faktor determinan yang melingkupinya. 3) Kebaruan metode
penelitian dalam teknik pengumpulan data. Pada awal penelitian ini teknik pengumpulan
data primer dilakukan dengan wawancara mendalam secara offline dan online. Untuk
data sekunder peneliti mendapatkan materi dari PT TWC yaitu Buku Laporan Tahunan PT TWC, Laporan Keberlanjutan PT TWC,
Laporan TJSL/CSR. Data sekunder juga diperoleh dari penelusuran media onilne di
antaranya injourneydestination.id, twc.id, dan http:\\balkondesborobudur.com.
Jadi kebaruan teknik pengumpulan data ini adalah mengombinasikan hasil
pengumpulan data di lapangan, media sosial dan media digital. Sejauh runutan
peneliti, teknik ini belum banyak dilakukan dalam penelitian dengan tema CSR.