Penulis Utama : Eka Nada Shofa Alkhajar
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : S220907002
Tahun : 2010
Judul : Masa-masa suram perfilman Indonesia (Analisis Sosio-Historis Industri Film Periode 1957-1968 dan 1992-2000)
Edisi :
Imprint : Surakarta - Pascasarjana - 2010
Kolasi :
Sumber : UNS-Pascasarjana Prog. Studi Ilmu Komunikasi-S220907002-2010
Subyek : FILM
Jenis Dokumen : Tesis
ISSN :
ISBN :
Abstrak : ABSTRAK Pertunjukkan Lumiere Bersaudara di Grand Café di Boulevard de Capucines No. 14 Perancis menjadi tonggak sejarah perfilman di dunia. Peristiwa pada 28 Desember 1895 tersebut menjadi titik awal film sebagai medium hiburan yang tak kunjung surut popularitasnya hingga kini. Film suatu bangsa, mencerminkan mentalitas bangsa itu lebih dari yang tercermin lewat media artistik lainnya. Oleh karena itu, dengan memahami perjalanan perfilman Indonesia maka akan membuat kita mampu memahami pandangan dunia dari peradaban lain, atau kehidupan dan problematika kemanusiaan sehingga membuat kita melek budaya sehingga kita tidak hanya mampu melihat wajah kita sendiri tetapi juga menyaksikan wajah sebuah bangsa. Dalam konteks Indonesia, perfilman di tanah air pernah mengalami dua masa puncak krisis yakni periode 1957-1968 dan 1992-2000. Untuk itu peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh bagaimana terjadinya krisis film tersebut dan faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya krisis film di tanah air. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan berbagai metode dalam penggalian datanya. Baik itu document analysis, literature analysis dan indepth interview. Dari sisi dokumen dan literatur peneliti melakukan lacakan mengenai permasalahan yang ada kemudian melakukan cross references kepada narasumber yang notabenenya merupakan saksi sejarah hidup di masa-masa suram perfilman tersebut maupun dengan cara sebaliknya. Untuk itu, dalam hal ini dibutuhkan kemampuan peneliti untuk sanggup mengadakan seleksi dari bermacam-macam bahan yang mengandung sudut pandangan yang berbeda-beda, bertentangan satu sama lain, bagaimana ia memilih, menimbang, menolak dan penyusun kembali bahan-bahan tadi ke dalam suatu bentuk akhir (laporan). Kemudian dalam tahap analisis peneliti menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Dari penelitian ini diketahui bahwa pada periode 1957-1968, stabilitas maupun konstelasi politik yang ada turut mempengaruhi kondisi perfilman di tanah air; belum lagi film-film impor yang sebelumnya dimaksudkan untuk memacu perkembangan film Indonesia malah bertindak sebagai algojo bagi film nasional. Akhirnya, para produser film nasional yang dimotori oleh PPFI menutup studio-studio film tersebut untuk mendapatkan simpati pemerintah. Kemudian pada periode 1992-2000, beberapa faktor penyebab merosotnya produktivitas industri film Indonesia adalah pertama, pesatnya kemajuan teknologi atau industri audio visual khususnya home entertaiment (kaset video, laser disc, video compact disc/VCD, digital video disc/DVD) sebagai media tontonan alternatif; kedua, membanjirnya film impor; ketiga, perkembangan stasiun TV swasta; keempat, mutu film yang relatif rendah; kelima, perubahan tuntutan pasar. Melihat perjalanan film Indonesia tentu tidak bisa mengabaikan kondisi yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini juga tercakup bahasan mengenai social culture masa-masa suram perfilman Indonesia tersebut. ABSTRACT The exhibition of Lumiere’s in Grand Café in Boulevard de Capucines No. 14 in France maistone for the world movie history. This occation holding on 28 December 1895, is the initial point where movie is considered as the entertainment that it’s popularity never dims. Nation’s film reflects the nation mentality rather than other artistic media. Therefore, the understanding of Indonesian film paths encurage us to comprehend the world’s perspective from other civilitations, lives, and also humanities problems. From film, we not only able to see our faces out, also to see the nation face. In the scope of Indonesian Film, it’s experiences critical peak in 1957-1968 and 1992-2000. Following this, researcher is interested to examine further how the critical moment happen. And what factors cause the critical era in Indonesian. This research is a qualitative research, employing several methods in collecting data, such as document analysis, literature analysis, and indepth interview. The researcher firstly investigates the problem in document and literature data, and next makes cross references to the responden who is the living witness of the era, or vis a vis. Consequently, the competence of the researcher to select the various sources with various perspective in necessary needed. And the next, in analysis phase researcher use interactive analysis model from Miles and Huberman. This research find that in 1957-1968, both stabilitation and constellasy politic has participation to influence nation film’s condition; for the addition import films, that before purposed to spur on Indonesian film development, accidentally act as executioner to nation’s films. Finally, the producers nation’s film, that motored by PPFI closed that film studios for get governance’s sympathy. And the next, in 1992-2000 the caused factors that reducted productivity nation’s film industry are: First, the rapid progress of technology industry or audio visual industry, especially home entertainment (video cassette, laser disk, video compact disk/VCD, digital video disk/ DVD) as alternative media; second, the foading of import film; third, the development of privat television stations; fourth, nation’s film has relative low quality; fifth, the changes of market demand. Following Indonesian film paths, exactly can’t underestimate arounds conditions. Thus, in this research also covered with social culture of dark periods of Indonesian cinema.
File Dokumen Tugas Akhir : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
Microsoft Word - HALAMAN JUDUL.pdf
File Dokumen Karya Dosen : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Drs. Subagyo, SU
2. Prof. Drs. Pawito, Ph.D
Catatan Umum : 4011/2010
Fakultas : Pascasarjana