Rantai pasok pertanian menghadapi tantangan berupa fluktuasi pasokan,
keterbatasan kapasitas penyimpanan, serta timbulnya limbah organik yang
berdampak pada keberlanjutan. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan
optimasi yang tidak hanya berfokus pada minimasi biaya, tetapi juga
memperhatikan aspek ketepatan pemenuhan permintaan (responsiveness) dan
pengelolaan limbah dalam kerangka rantai pasok tertutup (closed-loop supply
chain). Penelitian ini mengembangkan model optimasi multi objektif berbasis
Mixed Integer Linear Programming (MILP) pada kasus multi produk, multi eselon,
dan multi periode. Struktur jaringan yang dibangun meliputi petani sebagai
pemasok, pusat distribusi, konsumen, pusat kompos, serta siklus umpan balik
kompos kembali ke petani. Fungsi objektif yang diformulasikan meliputi: (1)
minimasi total biaya produksi, transportasi, penyimpanan, dan emisi; (2) maksimasi
responsiveness terhadap permintaan pelanggan; serta (3) minimasi limbah melalui
proses daur ulang dan komposisasi. Model diselesaikan menggunakan perangkat
lunak LINGO dengan pendekatan transformasi fungsi objektif melalui metode
weighted sum. Analisis dilakukan dengan beberapa skenario variasi permintaan dan
biaya transportasi untuk mengevaluasi trade-off antar tujuan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa peningkatan responsiveness cenderung meningkatkan biaya
total, sedangkan penerapan sistem tertutup mampu mengurangi limbah pertanian
secara signifikan sekaligus memberikan manfaat sosial-ekonomi bagi petani.
Secara keseluruhan, model yang dikembangkan memberikan kerangka
pengambilan keputusan yang lebih komprehensif dalam perencanaan rantai pasok
pertanian berkelanjutan, khususnya pada kondisi multi produk, multi eselon, dan
multi periode.