Penulis Utama : Tri Winiasih
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : S110906008
Tahun : 2010
Judul : Pisuhan dalam “basa suroboyoan” kajian sosiolinguistik
Edisi :
Imprint : Surakarta - Pascasarjana - 2010
Kolasi :
Sumber : UNS-Pascasarjana Prog. Studi Linguistik-S.110906008-2010
Subyek : PISUHAN
Jenis Dokumen : Tesis
ISSN :
ISBN :
Abstrak : ABSTRAK Sebagai alat komunikasi, “basa Suroboyoan” digunakan oleh penuturnya untuk berinteraksi. Dalam berinteraksi, penutur kadang-kadang melibatkan emosi secara verbal dengan cara yang berlebihan dalam bentuk sebuah pisuhan. Pisuhan “basa Suroboyoan” dalam penelitian ini adalah ungkapan spontan yang bermakna kurang baik dan mempunyai tekanan lebih keras (lisan) sebagai ekspresi emosional yang kuat dari diri seseorang yang dapat berupa makian, umpatan, hujatan, sumpah, kutukan, kecarutan, serta lontaran/seruan. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mendeskripsikan bentuk-bentuk tuturan pisuhan dalam “basa Suroboyoan” berdasarkan konteks sosiokultural, 2) mengidentifikasikan karakteristik pemakaian bentuk-bentuk pisuhan dalam “basa Suroboyoan” berdasarkan konteks sosiokultural, 3) menjelaskan fungsi tuturan pisuhan dalam “basa Suroboyoan”, dan 4) mendeskripsikan fenomena campur kode yang menyertai pisuhan dalam “basa Suroboyoan”. Berkaitan dengan manfaat teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi kajian pisuhan dalam bahasa Jawa yang pernah diteliti. Selain itu, hasil penelitian ini bisa dijadikan tambahan khasanah penelitian dalam bidang bahasa terutama kajian struktural dan sosiolinguistik. Berkaitan dengan manfaat praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penutur “basa Suroboyoan” sehingga lebih memahami pisuhan dalam “basa Suroboyoan” dan dapat menambah wawasan penutur bahasa lainnya sehingga mempunyai pemahaman yang tepat mengenai penggunaan pisuhan dalam “basa Suroboyoan” sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan pisuhan “basa Suroboyoan”. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah semua tuturan baik berupa kata-kata, frasa, klausa, kalimat, maupun dialog yang mengandung pisuhan yang dihasilkan oleh penutur “basa Suroboyoan”. Data penelitian ini berjumlah 117 peristiwa tutur dengan 134 tuturan yang mengandung pisuhan. Pengumpulan data dilakukan mulai Mei 2007 sampai dengan Januari 2009. Penelitian ini menggunakan informan tidak tetap dan informan tetap. Informan tidak tetap dalam penelitian ini berjumlah 5 orang yang terdiri atas 3 informan laki-laki dan 2 informan perempuan. Informan tetap dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang terdiri atas 2 orang budayawan dan 1 orang sesepuh atau tokoh masyarakat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sadap dan rekam, teknik simak dan catat, dan teknik kerja sama dengan informan (wawancara). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kontekstual dengan mempertimbangkan segi sosial, situasional, dan kultural yang melatarbelakangi tuturan. Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan terhadap pisuhan “basa Suroboyoan”, hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, bentuk tuturan pisuhan “basa Suroboyoan” dalam konteks sosiokultural berdasarkan bentuk satuan lingualnya dibedakan menjadi bentuk pisuhan yang berupa a) kata; berupa kata dasar (kategori nomina, adjektiva, dan verba) serta kata turunan (kata berafiksasi, kata majemuk, dan pendiftongan vokal), b) frasa; berupa frasa nominal dan frasa adjektival, serta c) klausa. Penggunaan pisuhan dalam bentuk kata paling banyak terjadi bila dibandingkan bentuk frasa dan klausa, yaitu dari 165 kali penggunaan pisuhan yang terdapat dalam penelitian ini, penggunaan pisuhan dalam bentuk kata berjumlah 140, penggunaan pisuhan dalam bentuk frasa berjumlah 15, dan penggunaan pisuhan dalam bentuk klausa berjumlah 10. Penggunaan bentuk satuan lingual pisuhan “basa Suroboyoan” dalam konteks sosiokultural menunjukkan emosi yang berbeda. Bentuk pisuhan yang mengalami perluasan dengan menggunakan kata yang berupa pisuhan maupun bukan pisuhan cenderung lebih kasar daripada bentuk pisuhan sebelum diperluas. Bentuk pisuhan yang setelah diperluas dapat bermakna lebih halus ketika kata yang digunakan untuk memperluas mengandung makna tingkatan. Kedua, karakteristik bentuk-bentuk tuturan pisuhan dalam “basa Suroboyoan” berdasarkan konteks sosiokultural menunjukan keragaman, yaitu menggunakan 12 model yang mengacu pada a) keadaan, b) binatang, c) makhluk yang menakutkan, d) benda-benda, e) bagian tubuh, f) kekerabatan, g) aktivitas, h) profesi, i) makanan, j) tempat, k) etnik dan bangsa, serta l) tiruan bunyi. Ketiga, fungsi pisuhan “basa Suroboyoan” pada dasarnya bersifat emotif. Fungsi pisuhan “basa Suroboyoan” pada penelitian ini berjumlah empat belas macam, yaitu untuk mengekspresikan a) kemarahan, b) kekesalan, c) penyesalan, d) kesedihan, e) kekecewaan, f) kekaguman, g) penghinaan, h) keterkejutan, i) keakraban, j) kegembiraan, k) ketidakpercayaan, l) kebencian, m) rasa sakit, dan n) rasa malu. Keempat, fenomena campur kode yang menyertai tuturan pisuhan dalam “basa Suroboyoan” adalah campur kode yang berupa bahasa dan tingkat tutur. Campur kode yang berupa kode bahasa berupa campur kode bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia, campur kode bahasa Jawa dengan bahasa Inggris, serta campur kode bahasa Jawa dengan bahasa Arab. Campur kode yang berupa tingkat tutur adalah campur kode ragam ngoko dengan bahasa Jawa ragam krama. Dalam peristiwa campur kode tersebut, bentuk campur kode yang terdapat dalam pisuhan “basa Suroboyoan” berupa kata, frasa, dan klausa. Kata kunci: pisuhan “basa Suroboyoan”, bentuk-bentuk satuan lingual pisuhan, bentuk karakteristik pisuhan, fungsi pisuhan, campur kode yang menyertai pisuhan. ABSTRACT As a means of communication, “basa Suroboyoan” is used by its speakers to interact. In an interaction, a speaker sometimes involves emotion verbally in an excessive way in the form of swearing. Swearing in “basa Suroboyoan” in this research is a negative spontaneous expression having a harder stress (spoken) as a strong emotional expression which can be abusive word, non-face-to-face swearword, blasphemy, swearing, cursing, obscenity, and expletive. The research objectives are: 1) describing swearing forms in “basa Suroboyoan” based on sociocultural context; 2) identifying the characteristics of the use of swearing forms in “basa Suroboyoan” based on sociocultural context; 3) explaining the functions of swearing in “basa Suroboyoan”; and, 4) describing the phenomenon of code switching accompanying swearing in “basa Suroboyoan”. Related to theoretical advantage, the research’s result hopefully can supplement the study of swearing in Javanese done previously. In addition, the result of this study may also be a complement in the structural and sociolinguistics study. Related to practical advantage, the result of this study hopefully is able to add the knowledge of “basa Suroboyoan” speakers that they have more comprehension in swearing in “basa Suroboyoan”. The result hopefully can also add the knowledge of the speakers of other language that they have proper comprehension in the use of swearing in “basa Suroboyoan” so that misunderstanding in interpreting the swearing in “basa Suroboyoan” can be prevented. This research is a qualitative-descriptive one. The research data are all language events in the forms of words, phrases, clauses, sentences, and dialogues containing swearing which are produced by speakers of “basa Suroboyoan”. The research data are 117 language events and 134 of which contain swearing. The data were collected from May 2007 to January 2009. This research uses unchanging informant and changeable informant. There were 5 changeable informants consisting of 3 male informants and 2 female informants. There were three unchangeable informants in this research consisting of two culture vultures and an elder or community personage. The data collection technique used is tapping and recording, observing and noting, and interview. The analysis technique used is contextual technique by considering social, situational, and cultural factors which form the background of the language events. Based on the finding and discussion, the followings are the result of the research. First, the forms of swearing in “basa Suroboyoan” in the sociocultural context based on the lingual unit are classified into swearing forms realized in a) word; in the form of base form (adjective, noun, and verb) and derived form (affixed word, compound word, diphthong vocal), b) phrase; in the form of nominal phrase and adjectival phrase, and c) clause. The use of swearing in the form of words is most frequently used comparing to phrase and clauses; from 165 times use of swearing in this research, 140 of which are in the form of word, whereas there are 15 forms of phrase, and 10 forms of clause. The use of lingual unit of swearing in “basa Suroboyoan” in the sociocultural context shows different emotions. The forms of swearing having modified by either swearwords or not swearwords tend to have more impolite sense than the form of swearing before modification. The forms of swearing having modified but turn to be more polite are ones which are modified by words having a leveling sense. Second, the characteristics of swearing forms in “basa Suroboyoan” based on sociocultural context shows diversity, namely use 12 model referring to a) condition, b) animal, c) frightening living being, d) inanimate object, e) body parts, f) kinship, g) activity, h) profession, i) food, j) place, k) ethnic or national, and l) onomatopoeia. Third, the function of swearing in “basa Suroboyoan” basically is emotive. There 14 types of the function, which are to express a) anger, b) annoyance, c) regret, d) sadness, e) disappointment, f) admiration, g) insult, h) shock, i) intimacy, j) happiness, k) disbelief, l) hatred, m) pain, and n) shame. Fourth, the phenomenon of code switching accompanying swearing in “basa Suroboyoan” is the one in the form of language and speech level. Code switching in the form of language is code switching involving Javanese and Indonesian, Javanese and English, and Javanese and Arabian. Code switching in the form of speech level involves low (ngoko) and high (krama) speech level in Javanese. In the code-switching event, the forms of the code switching in the swearing in “basa Suroboyoan” are words, phrases, and clauses. Keywords: swearing in basa Suroboyoan, lingual unit form of swearing, characteristics of swearing, swearing function, code switching accompanying swearing.
File Dokumen Tugas Akhir : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
tri winiasih.pdf
File Dokumen Karya Dosen : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Dr. Edi Subroto
2. Prof. Dr. Kisyani Laksono, M.Hum
Catatan Umum : 1665/2010
Fakultas : Pascasarjana