Stunting merupakan salah satu masalah yang sedang dihadapi di Indonesia.
Faktor risiko utama stunting yaitu kurangnya asupan gizi terutama protein pada ibu
dan anak. Cara mengatasi stunting yaitu dengan pemberian makanan asupan gizi
yang cukup sepanjang hari, salah satunya sarapan. Pada era modern yang menuntut
kepraktisan, diperlukan sarapan yang mudah dikonsumsi namun tetap kaya akan
kandungan gizi, yaitu sereal sarapan. Sereal sarapan (rice crispy cereal) dapat
dibuat dengan tepung beras dan tepung jagung yang merupakan bahan tinggi
karbohidrat. Sereal dapat dibuat dengan penambahan protein yaitu menggunakan
hidrolisat protein ikan. Salah satu ikan yang tinggi protein adalah ikan kembung.
Pembuatan sereal rice crispy dilakukan dengan variasi proporsi tepung dan suhu
pengeringan untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik fisik (water
absorption index dan water solubility index) dan kimia (kadar air, abu, protein,
lemak, dan karbohidrat) produk. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif
eksperimental dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial General
Linear Model dan dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa F2 memiliki nilai WAI dan WSI terendah, F1 menghasilkan kadar air
tertinggi, serta kadar lemak dan kadar karbohidrat terendah. Perbedaan proporsi
tepung tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar abu dan kadar protein. Semakin
tinggi suhu pengeringan, semakin tinggi nilai WAI, kadar lemak, dan kadar
karbohidrat. Namun, kadar air dan kadar protein semakin turun. Perubahan suhu
pengeringan tidak berpengaruh signifikan pada WSI dan kadar abu. Terdapat
interaksi antara proporsi tepung dan suhu pengeringan terhadap nilai WAI, kadar
air, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat. Berdasarkan metode de
Garmo, perlakuan terbaik yang didapatkan yaitu F3 (50% tepung beras : 50%
tepung jagung) dengan suhu pengeringan 140℃.