Penulis Utama : Jamil Nurgiyanto
NIM / NIP : K2502037
× Kondisi kebutuhan dan tantangan dunia kerja di era globalisasi terlebih dengan perancangan ASEAN Free Trade Labour (AFTA) pada tahun 2010 menuntut tenaga kerja sebagai sumber daya manusia yang harus mampu berkompetisi dalam bidang teknologi dengan bekal keahlian yang profesional di bidangnya, supaya dapat memenuhi dan mengisi kebutuhan hidup yang semakin berat. Masyarakat primitif, dalam memenuhi kebutuhan dan mengisi kebutuhan hidup cukup dengan memanfaatkan apa yang ada dan apa yang diberikan alam. Hidup mereka bergantung dari keadaan alam itu sendiri. Kebutuhan yang diperlukan hanya sekedar makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan istirahat. Tetapi, dengan lebih dengan mengenalnya alam, serta kebutuhan sosial dan kebutuhan rohani berupa rasa aman, harga diri, dan hiburan harus terpenuhi. Untuk itu, manusia perlu menggunakan kekuatan-kekuatan yang ada pada dirinya sendiri. Mereka harus belajar agar dapat menguasai apa yang tersimpan dalam alam sekitar. Manusia harus mandiri, yang akhirnya terbentuk sikap kemandirian yang berguna dalam terciptanya teknologi yang canggih. Berubahnya pola hidup yang semakin kompleks, manusia tidak mungkin selalu menggantungkan hidupnya pada pihak lain. Mereka hanya berusaha sendiri dengan cara belajar serta membina potensi yang ada pada diri masing-masing individu. Pendidikan adalah upaya yang dapat ditempuh untuk keperluan tersebut. Pendidikan merupakan penyampaian ilmu peng etahuan dan pengalaman yang mana akan membentuk suatu sikap masyarakat dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju dengan pesat. Pendidikan akan mempengaruhi seluruh aspek dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan yang ada dalam masyarakat akan mempengaruhi bahkan akan menentukan corak, warna, isi dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang diselenggarakan dan dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, maupun keluarga atau yang disebut 3 pendidikan formal, informal, non formal merupakan media akan pemenuhan tenaga kerja yang cakap dan terampil sesuai bidangnya masing-masing. Manusia yang siap kerja perlu membekali diri dengan pengetahuan, ketrampilan, moral, dan sikap mandiri. Sikap mandiri merupakan landasan uatama bagi seseorang untuk kesiapan kerja, karena dengan sikap mandiri seseorang akan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan berusaha permasalahan dalam hidupnya, tanpa bantuan orang lain, yaitu dengan bekerja. Salah satu lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak para siswanya agar memiliki ketrampilan dan keahlian yang mandiri adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah Menengah Kejuruan yang merupakan salah satu wahana pendidikan formal, mempunyai tujuan pembinaan mencetak tenaga kerja yang mempunyai ketrampilan dan keahlian sesuai dengan kebutuhan generasi muda akan kesempatan-kesempatan kerja untuk keperluan pembangunan. Jadi, SMK sebagai lanjutan dari Sekolah Menengah Pertama mempersiapkan para siswanya untuk menjadi tenaga kerja tingkat menengah yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan, keahlian dan akhirnya mempunyai kesiapan kerja setelah selesai pendidikannya. Kenyataan yang ada sekarang ini, lulusan SMK, terutama lulusan SMK Pancasila 9 Giriwoyo, masih banyak yang belum memiliki kesiapan kerja. Kebanyakan dari mereka, setelah selesai menyelesaikan sekolahnya, masih kebingungan dalam mencari lapangan pekerjaan yang sesuai dengan pengetahuan yang diperolehnya. Hal ini terjadi karena kurang bisa bersaing dengan tenaga kerja lainnya yang memiliki kesiapan kerja, kemandirian yang tinggi, serta dilengkapi pengetahuan dan pengalaman yang tinggi. Dalam kondisi negara seperti saat ini, sangat diperlukan tenga kerja yang memiliki kesiapan kerja sekaligus dilengkapi dengan pengetahuan, pengalaman, dan sikap mandiri yang tinggi pula. Data lulusan SMK Pancasila 9 Giriwoyo tahun 2008, diketahui bahwa 55% siswa masih mencari lapangan kerja, 15 % sudah bekerja di perusahaan, 10% berwiraswasta, 20% belum diketahui. Calon tenga kerja diharuskan menguasai pengetahuan yang telah diperoleh di bangku sekolah dan melengkapi dengan kemandirian yang tinggi, agar dapat 4 bersaing SMK lain, sehingga setelah lulus siswa memiliki kesiapan kerja untuk bersaing mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahliannya. Memiliki kesiapan kerja merupakan nilai lebih bagi tenaga kerja, karena tenaga kerja yang telah siap kerja akan lebih siap menghadapi segala permasalahn yang timbul daam pekerjaannya. Pencari tenaga kerja akan mengutamakan calon tenaga kerja yang siap kerja, karena hal itu merupakan investasi yang besar. Tenaga kerja yang siap pakai biasanya mempunyai kemandirian yang tinggi, di samping pengetahuan dan pengalaman yang tinggi pula. Kemandirian yang mereka punyai diharapkan mampu untuk mengatasi kesulitan yang timbul dalam bekerja. Calon tenaga kerja juga harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tinggi, agar calon tenaga kerja mampu mengikuti setiap kemajuan dari pengetahuan dan tidak ketinggalan informasi tentang perkembangan teknologi yang setiap hari terus berganti. Tanpa memiliki kemandirian, pengalaman, dan pengetahuan yang tinggi, akan sangat sulit bagi calon tenaga kerja untuk dapat bersaing dengan calon tenaga kerja yang lain dalam mencari lapangan pekerjaa, apalagi dunia kerja sekarang ini. Peningkatan kemandirian, pengetahuan, dan pengalaman dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) yang merupakan bagian kurikulum SMK. PRAKERIN merupakan pola penyelenggaraan diklat yang dikelola bersama sama antara SMK dengan industri sebagai institusi pasangan. Dengan pelaksanaan PRAKERIN memungkinkan siswa akan dapat lebih mengembangkan potensi diri serta dapat menambah pengalaman di dunia industri yang dapat dijadikan bekal untuk menghadapi tantangan dunia pekerjaan. PRAKERIN merupakan jenis latihan kerja siswa yang menjadi program dari SMK. Pelaksanaan Praktek Kerja Industri dilakukan dengan menerjunkan siswa pada dunia usaha/industri, sehingga siswa secara langsung menghadapi pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Kegiatan praktek kerja industri ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi siswa, karena PRAKERIN yang dilaksanakan pada dunia 5 usaha atau dunia industri dapat memberikan pengalaman yang dapat membentuk pribadi anak didik yang mempunyai keahlian kejuruan yang profesional, berkualitas, yang mampu dikembangkan menurut bidang pekerjaan. Dengan keahlian yang dimilikinya, lulusan sekolah menengah kejuruan benar-benar merupakan tenaga kerja yang siap pakai. Dengan demikian keahlian kejuruan professional yang didapatkan setelah melaksanakan PRAKERIN benar-benar dapat menjadikan siswa lebih siap untuk menghadapi tantangan dunia kerja. Dengan kemandirian yang dimiliki siswa, pengetahuan, dan pengalaman yang diperoleh dalam PRAKERIN, maka diharapkan siswa mempunyai kesiapan kerja yang sesuai dengan bidang keahliannya. Mempunyai kesiapan kerja merupakan tenaga kerja yang baik saat ini, di mana tenaga kerja yang sudah siap kerja merupakan terobosan baru dalam menanggulangi kebutuhan akan tenaga kerja dalam menyongsong era pasar bebas. Kesiapan kerja juga dipengaruhi oleh faktor lingkun
×
Penulis Utama : Jamil Nurgiyanto
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : K2502037
Tahun : 2010
Judul : Hubungan antara pengalaman praktek kerja industri dan sikap mandiri dengan kesiapan kerja pada siswa kelas XII SMK Pancasila 9 Giriwoyo tahun ajaran 2009/2010
Edisi : -
Imprint : Surakarta - FKIP - 2010
Program Studi : S-1 Pendidikan Teknik Mesin
Kolasi : -
Sumber : UNS-FKIP Jur Teknik-K.2502037-2010
Kata Kunci :
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Link DOI / Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing :
Penguji :
Catatan Umum : 1008/2010
Fakultas : Fak. KIP
×
File : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.