Penulis Utama : Rita Indawatik
NIM / NIP : S250908009
× Kelas unggulan dirancang untuk memberikan pelayanan belajar yang memadai bagi siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi. Selama ini pendidikan yang ada bersifat massal dan cenderung untuk memberikan perlakuan yang standar atau rata-rata kepada semua siswa sehingga kurang memperhatikan perbedaan kemampuan individu. Akibatnya strategi ini tidak mampu menunjang usaha mengoptimalkan pengembangan sumber daya manusia yang pesat. Di sisi lain, adanya fenomena kelas unggulan juga menimbulkan perilaku yang eksklusif, cenderung berkelompok dan bergaul sesama teman di kelas unggulan saja. Hal inilah yang menarik peneliti untuk mengetahui bagaimana proses munculnya eksklusifitas perilaku pada siswa unggulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaiamanakah pola eksklusifitas, proses terbentuknya pola eksklusifitas dan faktor pendorong terbentuknya pola eksklusifitas pada siswa unggulan di SMA Muhammadiyah 1 Sragen. Strategi penelitian adalah studi fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan dokumen. Untuk pengambilan responden menggunakan purposive sampling dengan mempertimbangkan kesesuaian informasi dengan masalah yang diteliti. Adapun pengolahan data dengan menggunakan interpretative understanding atau analisis pemahaman terhadap fenomena dunia sosial. Penelitian ini berpijak pada paradigma kontruktivisme yang berada dalam payung paradigma Definisi Sosial. Pemikiran kontruktivisme dari Peter L. Berger ini, bahwa dalam pendidikan kontruktivisme, pembelajaran berbasis kepada pemahaman siswa (student’s understanding) melalui proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Pola perilaku eksklusifitas pada siswa unggulan muncul pada eklsklusifitas pemikiran, eksklusifitas penampilan, eksklusifitas ruang dan pola fasilitas dan eksklusifitas pergaulan. Proses terbentuknya pola eksklusifitas muncul sejak di nyatakan lolos seleksi masuk di kelas unggulan. Faktor pendorong terbentuknya pola eksklusifitas adalah kebijakan sekolah, orang tua dan anak sendiri karena proses pemaknaan terhadap status sebagai siswa pada kelas unggulan. Siswa yang ada pada kelas unggulan dapat di bedakan menjadi siswa kelompok modif dan siswa kelompok normatif. Dari empat dimensi yaitu, pemikiran, penampilan, ruang dan fasilitas serta pergaulan, maka yang paling dominan adalah dimensi penampilan dan dimensi pergaulan yang membedakan siswa kelompok modif dengan siswa kelompok normatif.
×
Penulis Utama : Rita Indawatik
Penulis Tambahan : 1.
2.
NIM / NIP : S250908009
Tahun : 2013
Judul : Eksklusifitas Siswa (Studi Fenomenologi Konstruksi Sosial Pola Eksklusifitas Siswa Pada Kelas Unggulan Di Sma Muhammadiyah 1 Sragen Tahun Ajaran 2011/2012)
Edisi :
Imprint : Surakarta - Pascasarjana - 2013
Program Studi : S-2 Sosiologi
Kolasi :
Sumber : UNS-Pascasarjana Prodi. Sosiologi-S.250908009-2013
Kata Kunci :
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Link DOI / Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing :
Penguji :
Catatan Umum :
Fakultas : Sekolah Pascasarjana
×
File : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.