Penulis Utama : Hilmi
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP :
Tahun : 2007
Judul : Analisis simpang tiga tak bersinyal berdasarkan manual kapasitas jalan indonesia (MKJI) 1997(studi kasus Simpang Tiga Bundaran Jalan Raya Solo-Boyolali dan Jalan Raya Solo-Klaten)
Edisi :
Imprint : Surakarta - FKIP - 2007
Kolasi : xxiv, 63 hal.
Sumber : UNS-FKIP Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan NIM.K1503004
Subyek : LALU LINTAS-KOTA
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui besarnya kapasitas yang terjadi pada simpang tiga tak bersinyal bundaran Kartasura berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. (2) Untuk mengetahui besarnya derajat kejenuhan yang terdapat pada simpang tiga tak bersinyal bundaran Kartasura berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. (3) Untuk mengetahui besarnya waktu tunda yang terdapat pada simpang tiga tak bersinyal bundaran Kartasura berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. (4) Untuk mengetahui besarnya peluang antrian yang terjadi pada simpang tiga tak bersinyal bundaran Kartasura berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan populasinya adalah semua jenis kendaraan, dan kendaraan berat, kendaraan ringan, sepeda motor dan kendaraan tak bermotor sebagai sampelnya. Pengambilan data dilakukan dengan menghitung volume lalu lintas kendaraan yang melewati simpang tiga Kartasura dan menggunakan data geometrik jalan. Kemudian dianalisis menggunakan MKJI 1997 untuk mengetahui kinerja simpang tersebut. Berdasarkan analisis data lapangan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut (1) Tingkat kapasitas simpang pada simpang tiga tak bersinyal bundaran Kartasura dari semua jenis kendaraan yang melewati simpang tersebut didapatkan data pada hari sibuk (awal pekan) untuk jam puncak pagi adalah 3591,094 smp/jam, jam puncak siang adalah 4346,876 smp/jam, jam puncak sore adalah 4015,343 smp/jam. Pada hari sibuk (akhir pekan) untuk jam puncak pagi adalah 5563,462 smp/jam, jam puncak siang adalah 4038,846 smp/jam, jam puncak sore adalah 3997,917 smp/jam. Pada hari normal untuk jam puncak pagi adalah 3703,136 smp/jam, jam puncak siang adalah 4201,449 smp/jam, jam puncak sore adalah 4862,642 smp/jam. (2) Nilai derajat kejenuhan yang terjadi pada simpang tiga tak bersinyal bundaran Kartasura, pada hari sibuk (awal pekan) jam puncak pagi sebesar 1,0781, jam puncak siang sebesar 0,8796, jam puncak sore sebesar 1,0034. Pada hari sibuk (akhir pekan) jam puncak pagi sebesar 0,5312, jam puncak siang sebesar 0,9350, jam puncak sore sebesar 0,9839. Pada hari normal jam puncak pagi sebesar 1,0054, jam puncak siang sebesar 0,8245, jam puncak sore sebesar 0,8329. Dengan demikian, nilai derajat kejenuhan pada simpang tersebut tidak memenuhi kriteria perencanaan yaitu DS  0,85. (3) Besarnya waktu tunda (delay) pada simpang tiga tak bersinyal bundaran Kartasura, pada hari sibuk (awal pekan) jam puncak pagi sebesar 8,318 detik/smp, jam puncak siang sebesar 15,056 detik/smp, jam puncak sore 19,216 detik/smp. Pada hari sibuk (akhir pekan) jam puncak pagi sebesar 9,923 detik/smp, jam puncak siang sebesar 18,269 detik/smp, jam puncak sore sebesar 18,369 detik/smp. Pada hari normal jam puncak pagi sebesar 19,309 detik/smp, jam puncak siang sebesar 13,804 detik/smp, jam puncak sore sebesar 13,948 detik/smp. (4) Peluang antrian yang terjadi pada simpang tiga tak bersinyal bundaran Kartasura, pada hari sibuk (awal pekan) jam puncak pagi sebesar 46,886 % - 93,519 %, jam puncak siang sebesar 31,057 % - 61,301 %, jam puncak sore sebesar 40,451 % - 80,076 %. Pada hari sibuk (akhir pekan) jam puncak pagi sebesar 12,195 % - 26,846 %, jam puncak siang sebesar 35,067 % - 69,187 %, jam puncak sore sebesar 38,863 % - 76,830 %. Pada hari normal jam puncak pagi sebesar 40,613 % - 80,409 %, jam puncak siang sebesar 27,363 % - 54,214 %, jam puncak sore sebesar 27,908 % - 55,248 %. Saran dari penelitian ini adalah (1) Perlunya peningkatan kapasitas simpang dengan pelebaran pada jalan utama (jalan ke arah Solo dan ke arah Boyolali) serta pembuatan median jalan pada jalan utama. (2) Perlunya pemasangan rambu-rambu lalu lintas di sekitar daerah simpang seperti rambu larangan berhenti dan rambu “stop”, sehingga arus lalu lintas pada simpang tidak terhambat dan arus lalu lintas menjadi lancar. (3) Perlunya upaya peningkatan pelayanan jalan dengan cara pelebaran lengan simpang sehingga dapat menampung arus lalu lintas yang ada. (4) Adanya pengatur berupa traffic light atau petugas DLLAJR yang mengatur pada daerah simpang.
File Dokumen : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
File Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Drs. Suradji, M. Pd
2. Drs. H. Roemintoyo, S. T, M. Pd
Catatan Umum : 6106/2007
Fakultas : Fak. KIP