Penulis Utama : Debby Nurhanani
NIM / NIP : D1212020
×

Data BKKBN menyebutkan populasi remaja di Indonesia adalah 66,7 juta atau sekitar 26,67%. Remaja sebagai tunas bangsa seharusnya tumbuh sehat fisik dan psikis di bawah naungan keluarga. Pada kenyataannya, banyak terjadi pelanggaran seksual yang dilakukan oleh remaja, terutama pada kelompok masyarakat marginal. Pelanggaran seksual mayoritas adalah akibat dari sumber pendidikan seks yang tidak memenuhi syarat. Oleh karena itu peneliti membuat penelitian tentang pola komunikasi keluarga marginal dalam memberikan pendidikan seks kepada anak usia remaja.
Fungsi keluarga berdasarkan BKKBN salah satunya adalah sebagai agen sosialisasi dan pendidikan bagi anak, yaitu untuk mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya, menyekolahkan anak, dan bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik. Pendidikan seks atau kesehatan reproduksi remaja menurut Calderone adalah pelajaran untuk menguatkan kehidupan keluarga, untuk menumbuhkan pemahaman diri dan hormat terhadap diri, untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan orang lain secara sehat, dan untuk membangun tanggung jawab seksual dan sosial. Berdasarkan dua teori di atas maka peneliti membuat penelitian studi deskriptif agar dapat menguraikan proses komunikasi orangtua dengan anak secara detail dan mendalam. Teknik analisis interaktif (model saling terjalin) digunakan untuk menganalisis data agar mendapatkan kesimpulan akhir setelah mereduksi data dan menyajikan data sesuai hasil penelitian berdasarkan wawancara dan observasi.
Dari hasil analisis yang dilakukan pola komunikasi keluarga marginal terbagi menjadi tiga. Pembagian pola berdasarkan pada teknik komunikasi yang digunakan yaitu komunikatif (edukatif), persuasif, dan instruktif (koersif). Pola komunikasi keluarga marginal dalam memberikan pendidikan seks adalah orangtua sebagai komunikator
secara edukatif, ibu menggunakan pula teknik persuasif sedangkan ayah menggunakan teknik koersif. Pesan berupa pendidikan seks, norma agama, sosial, dan juga nilai keluarga. Media yang dgunakan adalah tatap muka dengan bentuk komunikasi personal atau kelompok kecil tergantung intimasi pesan. Anak sebagai komunikan menerima dan memahami pesan kemudian memberi respon. Respon anak tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk komunikator kembali merespon. Respon orangtua juga didasarkan pada proses pemantauan yang dilakukan dengan tiga cara yaitu lewat observasi terhadap keseharian anak, pengecekan alat komunikasi, dan juga laporan dari kerabat atau tetangga. Hambatan yang muncul adalah tingkat pendidikan rendah sehingga terbatas pemahaman akan topik pendidikan seks, penggunakan handphone oleh anak, karakter anak yang pendiam atau keras, orangtua dengan pikiran tertutup, dan juga masalah artikulasi.
Kata Kunci: pola komunikasi, komunikasi keluarga, pendidikan seks untuk remaja.

 

×
Penulis Utama : Debby Nurhanani
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : D1212020
Tahun : 2015
Judul : Pola komunikasi pendidikan seks remaja pada keluarga marginal ( Studi Deskriptif Mengenai Pola Komunikasi Pendidikan Seks Remaja Pada Keluarga Marginal di Depok, Jawa Barat )
Edisi :
Imprint : Surakarta - FISIP - 2015
Program Studi : S-1 Ilmu Komunikasi Non Reguler
Kolasi :
Sumber : UNS-FISIP Jur. Ilmu Komunikasi-D.1212020-2015
Kata Kunci :
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Link DOI / Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Dra. Hj. Sofiah, M. Si
Penguji :
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. ISIP
×
File : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.