Penulis Utama : Sukarsono
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : T130906009
Tahun : 2015
Judul : Kesantunan Dalam Tuturan Impositif di Kalangan Masyarakat Tengger
Edisi :
Imprint : Surakarta - Pascasarjana - 2015
Kolasi :
Sumber : UNS- Pascasarjana Prodi Bahasa Indonesia T130906009-2015
Subyek : TUTURAN IMPOSITIF
Jenis Dokumen : Disertasi
ISSN :
ISBN :
Abstrak : Sukarsono. T130906009. 2014. Kesantunan Dalam Tuturan Impositif di Kalangan Masyarakat Tengger. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pembimbing: Prof. Dr. H. D. Edi Soebroto (Promotor), Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd. (Ko-promotor). Penelitian ini berupaya mengkaji perilaku kesantunan berbahasa di kalangan masyarakat Tengger (MT) dalam menyampaikan tuturan impositif, yakni suatu rangkaian tuturan yang di dalamnya terdapat suatu tindak tutur direktif yang bersifat kompetitif seperti memerintah, melarang, meminta, mengajak, dan menyarankan atau menasihati. Kajian difokuskan pada aspek (1) wujud formal tuturan; (2) peranti-peranti kesantunan berbahasa yang terdapat pada tuturan; (3) strategi kesantunan dalam penyampaian tuturan; dan (4) hubungan antara nilai-nilai sosial budaya MT dengan perilaku kesantunan berbahasa dalam penyampaian tuturan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) memerikan wujud tuturan impositif MT; (2) memerikan penggunaan peranti-peranti kesantunan berbahasa sebagai pelunak daya impositif yang terkandung dalam tuturan MT; (3) memerikan penggunaan strategi kesantunan dalam menyampaikan tuturan impositif MT; dan (4) menjelaskan hubungan antara nilai-nilai sosial budaya MT dengan perilaku penyampaian tuturan impositif MT secara santun. Adapun pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan ancangan etnografi. Data dikumpulkan dari berbagai peristiwa komunikasi sehari-hari di antara warga MT dengan beberapa teknik. Pertama, teknik pengamatan berperan aktif (active participant observation) dengan menerapkan teknik simak-catat/rekam untuk memperoleh data tentang berbagai tuturan impositif MT. Kedua, teknik Tes Melengkapi Wacana (TMW), yang digunakan utamanya untuk menjaring tuturan impositif yang secara alami tidak dapat diperoleh melalui kegiatan observasi. Terakhir, teknik wawancara, yang ditujukan untuk mengetahui nilai-nilai sosio-kultural MT dan penilaian mereka terhadap derajat kesantunan berbagai tuturan impositif serta mengkonfirmasi simpulan-simpulan sementara yang dihasilkan dalam berbagai tahapan proses analisis data. Data yang terkumpul dipilah-pilah dan dianalisis dengan menggunakan prinsip-prinsip umum penelitian etnografi dan identifikasi domain kebahasaan yang didasarkan pada kerangka kerja yang disarikan dari teori Blum-Kulka (1987) dan teori Brown dan Levinson (1978). Berdasarkan empat masalah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini, temuan-temuan penelitian dapat disampaikan sebagai berikut. Pertama, wujud formal tuturan impositif MT mengandung berbagai jenis ilokusi impositif seperti beberapa tindak tutur memerintah, melarang, meminta, mengajak, dan menyarankan/menasihati. Secara struktural, tindak tutur tersebut disampaikan dengan beberapa cara, yakni: (1) dengan satu unit tuturan inti (TI) semata atau (2) dengan kombinasi antara unit TI dengan unit tuturan pendukung (TD) dan atau unit tuturan pembuka (TB). Unit TD vii dapat berupa tindak bertanya, tindak memberi orientasi, tindak memberi alasan, atau tindak berjanji sedangkan unit TB dapat berupa kata sapaan atau nama diri. Ditilik dari modus gramatikalnya, unit TI yang merupakan bagian tuturan yang mengandung tindak tutur atau ilokusi impositif pada umumnya dinyatakan dalam bentuk kalimat imperatif (aktif dan pasif), kalimat deklaratif, atau kalimat interogatif. Kedua, peranti kesantunan berbahasa yang ditemukan dalam tuturan impositif MT dapat berfungsi sebagai penyegera tindakan, penunda tindakan, prasyarat tindakan, permintaan persetujuan tindakan, ajakan/persilaan, pernyataan janji, permohonan pertolongan, ungkapan alasan, pengecil makna, dan penjajakan kesiapsediaan petutur. Ketiga, jika ditilik dari perspektif teori Brown dan Levinson (1978), strategi kesantunan yang digunakan untuk melakukan tindak tutur impositif MT dapat dikategorikan menjadi (1) strategi bertutur lugas (bald on record) (2) strategi kesantunan positif, yang meliputi sub-strategi penggunaan penanda identitas dalam satu kelompok, sub-strategi mencari kesepakatan, sub-strategi menawarkan atau menjanjikan sesuatu, dan sub-strategi memberikan atau meminta alasan, (3) strategi kesantunan negatif, yang meliputi sub-strategi tak langsung konvensional, sub-strategi pesimistik, sub-strategi melakukan tekanan (imposition) seminimal mungkin, sub-strategi penghormatan (deference), sub-strategi permohonan maaf (apologize), sub-strategi impersonalisasi penutur dan petutur, sub-strategi menggunakan tindak mengancam muka yang dianggap lazim, dan (4) strategi bertutur samar (off record). Peranti dan strategi kesantunan berbahasa yang secara khas digunakan untuk menyampaikan tindak tutur impositif MT terkait erat dengan nilai-nilai sosial budaya MT, yakni nilai-nilai kerukunan seperti menjunjung tinggi rasa persaudaraan, menghindari konflik, peduli terhadap sesama, jujur-terbuka, dan pengertian atau tepa selira terhadap sesama, serta nilai-nilai hormat, yakni menghormati orang yang lebih tua dan ramah kepada orang asing. Pada akhirnya penelitian ini menyimpulkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, wujud tuturan impositif MT sangat beragam baik dari segi ilokusi yang dikandungnya maupun dari jumlah unit-unit tutur yang menyusun berbagai pola struktur tuturannya. Keberagaman pola struktur tuturan tersebut berkait erat dengan upaya petutur untuk menyampaikan maksud secara efektif dan sekaligus memelihara hubungan sosial di antara peserta tutur. Kedua, penambahan beberapa unit-unit TD atau TB pada unit TI dapat secara langsung mengurangi daya impositif tuturan sehingga dapat meningkatkan derajat kesantunannya. Ketiga, untuk menyampaikan tindak tutur impositif secara santun, warga MT seringkali menambah tuturan impositif yang disampaikan dengan berbagai unit lingual berupa kata, frasa, atau klausa yang memiliki fungsi mitigasi terhadap daya impositif yang terdapat pada tuturan. Semakin banyak peranti kesantunan yang digunakan oleh seorang penutur MT dalam tuturan, semakin bertambah derajat kesantunan tuturan impositif tersebut. Terakhir, perilaku kesantunan berbahasa MT merupakan manifestasi dari kaidah sosial dasar dalam kehidupan MT, yakni prinsip rukun dan prinsip hormat. Kata kunci: kesantunan, tuturan impositif, masyarakat Tengger
File Dokumen Tugas Akhir : Tidak ada file.
File Dokumen Karya Dosen : cover.pdf
BAB I-II.pdf
BABIII.pdf
BAB IV.pdf
Bab V.pdf
daftar pustaka.pdf
Lamp 1-7_ TRANSKRIP wawancara.pdf
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Dr. H. D. Edi Soebroto
2. Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd.
Catatan Umum :
Fakultas : Pascasarjana