Penulis Utama : Kuncoro Diharjo
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP :
Tahun : 2008
Judul : Kajian Sifat Fisis, Mekanis Dan Akustik Komposit Sandwich Serat Kenaf Bermatrik Polyester Dengan Core Kayu Sengon Laut
Edisi :
Imprint : Surakarta - FT - 2008
Kolasi :
Sumber : UNS- FT Prog. Studi Teknik Mesin- NIP 132163118
Subyek : KOMPOSIT SANDWICH
Jenis Dokumen :
ISSN :
ISBN :
Abstrak : Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji pemanfaatan serat kenaf dan kayu sengon laut (KSL) untuk pembuatan panel komposit sandwich dan akustik. Penelitian panel komposit diorientasikan pada sifat fisis dan mekanis, sedangkan penelitian panel akustik diorientasikan pada optimasi serapan bising. Bahan penelitian ini adalah serat kenaf, KSL, Unsaturated Polyester Resin (UPRs) dan hardener MEKPO, dan NaOH. Serat kenaf dikenai perlakuan alkali (5% NaOH) selama 0, 2, 4, 6 dan 8 jam. Pemotongan KSL dilakukan pada arah melintang. Jenis sampel uji meliputi komposit skin kenaf-UPRs, komposit sandwich kenaf- UPRs-core KSL dan panel akustik KSL. Variabel penelitian komposit skin meliputi jenis serat (acak, anyam), kandungan hardener, perlakuan alkali, fraksi volume serat (Vj = 10-60%), perlakuan siklis termal dan perendaman air, sedangkan variabel penelitian komposit sandwich meliputi tebal skin (1-5 mm) dan tebal core (5-20 mm). Pengujian pada komposit skin adalah tarik, bending, impak Izot, SEM dan foto makro, sedangkan pengujian komposit sandwich meliputi impak Charpy, bending statis dan dinamis. Untuk penelitian akustik, penelitian difokuskan pada serapan bising gel dan panel akustik. Variabelnya ada1ah stud (10-50 mm), cavity depth (10- 25 mm), diameter lubang leher resonator (0-10 mm) dan penambahan acoustic fill serat kenaf (8-1 0%; v/v). Komposit skin serat acak memiliki kekuatan tarik dan bending yang lebih tinggi dibandingkan dengan komposit skin serat anyam. Pada Vj= 23%, komposit skin tersebut memiliki kekuatan tarik tertinggi (40,14 MPa) pada kandungan hardener 1 %. Pada berbagai variasi vi, komposit skin serat acak perlakuan alkali 2 jam memiliki kekuatan tarik tertinggi dan disusul oleh komposit serat tanpa perlakuan. Sesuai teori ROM, peningkatan Vj meningkatkan kekuatan tarik, bending dan impak komposit skin. Perlakuan siklis termal dan perendaman dalam air menurunkan kekuatan bending komposit skin. Kekuatan bending dan impak komposit sandwich meningkat seiring dengan peningkatan tebal skin. Namun pada tebal skin 5 mm, kekuatan bending-nya menurun karena kegagalan delaminasi. Komposit sandwich serat acak perlakuan alkali 2 jam memiliki kekuatan impak lebih rendah karena skin-nya bersifat getas. Pada variasi tebal core, komposit sandwich serat acak perlakuan alkali 2 jam memiliki nilai O"s/c yang lebih tinggi dibandingkan dengan komposit sandwich serat tanpa perlakuan. Peningkatan tebal core juga menurunkan kekuatan impak spesifik (KI/c). Peningkatan jumlah siklus bending dinamis menurunkan kekakuan (K) dan meningkatkan nilai 8/c. Peningkatan tebal core juga menurunkan kekakuan komposit sandwich. Nilai koefisien serapan bising (NAC) yang tinggi terjadi pada gel akustik dengan stud 30 dan 40 mm; cavity depth 25 mm; diameter lubang leher resonator 6~ 8 dan 10 mm; dan penambahan acoustic fill 10%. Panel akustik dengan stud 30 mm, cavity depth 25 mm, diameter lubang leher resonator 10 mm dan penambahan acoustic fill 10 % memiliki ni1ai serapan bising di atas 0,74 pada rentang frekuensi bising 63 - 10.000 Hz.
File Dokumen : Tidak ada file dalam dokumen ini.
File Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing :
Catatan Umum : Lahir di Kebumen, 3 Januari 1971, Staf Pengajar: Fakultas Teknik, NIP 132163118  S1 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 1996 Bidang ilmu: Mekanika Bahan  S2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2000 Bidang ilmu: Mekanika Bahan  S3 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2008 Bidang ilmu: Komposit & Akustik
Fakultas : Fak. Teknik