Penulis Utama : Artika Dewanti
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : X2211008
Tahun : 2015
Judul : The Role of Bilingual Program at Pondok Pesantren Modern (Modern Boarding School) in Developing English Skills of Santri (A Descriptive Qualitative Study in Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta in the 2015/2016 Academic Year)
Edisi :
Imprint : Surakarta - FKIP - 2015
Kolasi :
Sumber : UNS-FKIP Jur. Pendidikan Bahasa Inggris-X2211008-2015
Subyek : PONDOK PESANTREN MODERN
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

ABSTRACT
The purposes of this study are: (1) to describe the role of bilingual program at Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta in developing English skills of santri; (2) to find out the obstacles faced in the implementation of bilingual program at Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta in developing English skills of santri; (3) to find out the efforts that have been made to overcome the obstacles that are encountered in the implementation of bilingual program at Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta in developing English skills of santri.
The research was conducted in descriptive qualitative method in form naturalistic inquiry. The sources of data of the research were event, document and informant. The technique of collecting the data was non-measurement technique but the data collected through observation, document analysis and in-depth interview. The validity of the data was ascertained by triangulation technique. The triangulation techniques that the researcher used were data triangulation or sources triangulation and methodological triangulation. The result of qualitative data analyzed in three stages namely reducing the data, presenting the data and drawing conclusion.
The results of this research show that: (1) the roles of bilingual programs in Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta are as a facilitator and as an instrument in developing English skills of santri. As a facilitator and as an instrument, the main role of the bilingual program is to help and prepare santri to be able to communicate actively with English. Meanwhile, (2) the obstacles faced in the implementation of bilingual program at Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta are the lack of bilingual program mentor, the lack of guidance for the coordinator of English division at MBS Yogyakarta, the different education background of the students and the lack of infrastructure. Then, (3) the efforts have been made to overcome the obstacles that are encountered in the implementation of bilingual program at Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta are as follows: to overcome the first obstacle, MBS Yogyakarta is trying to maximize the potential that exists in MBS Yogyakarta. The effort is conducted by empowering the teacher/ustadz/ustadzah who has potential in English. To overcome the second obstacle, MBS Yogyakarta keep mentoring the IPM student which is conducted by English mentor. For male santri, the guidance conducted minimal once a month. While, for female santri who become English coordinator tend to be more independent. It is because the lack of female English mentors who can commit regularly to mentoring in English. Then for the third obstacle, there are two efforts that have been made by MBS Yogyakarta. First, for
new santri of the seventh grade in junior high school, MBS Yogyakarta gives the santri time to adjust with the environment and to deepen the bilingual materials in MBS Yogyakarta. Second, for new santri of the tenth grade in senior high school who do not have educational background of religion and language in their previous school is required to enter a special class which is called as Takhasus class. The last obstacle is about the lack of infrastructure. The efforts that have been made by MBS Yogyakarta is to keep striving for procurement the infrastructure and facilities.
At the end of the research, the researcher wants to give some suggestions for the school/pesantren in order to make the implementation of bilingual program at MBS Yogyakarta keep on improving: (1) MBS Yogyakarta should hold a regular training program for the teacher/ustadz/ustadzah and coordinator of Language Department who does not have English educational background and who have not sufficient competencies yet dealing with English knowledge and technique of teaching English material; (2) MBS Yogyakarta should have or provide mentor for bilingual program who have English educational background; (3) MBS Yogyakarta should be able to create conducive learning environment to encourage the use of English; and (4) this modern boarding school should provide infrastructure and facilities to support the smoothness of bilingual program, so the result can be maximal.
Key words: implementation, bilingual, modern boarding school.
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui peran program bilingual di Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta dalam mengembangkan kecakapan berbahasa Inggris santri; (2) untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam penerapan program bilingual di Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta dalam mengembangkan kecakapan berbahasa Inggris santri; dan (3) untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan program bilingual di Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta dalam mengembangkan kecakapan berbahasa Inggris santri.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam bentuk penyelidikan secara naturalistik. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah peristiwa, dokumen dan informan. Teknik pengumpulan data tidak dengan teknik menurut ukuran angka tetapi data tersebut dikumpulkan melalui pengamatan, analisa dokumen dan wawancara secara mendalam. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan menggunaka teknik trianggulasi. Teknik trianggulasi yang digunakan oleh peneliti adalah trianggulasi data atau sumber dan trianggulasi metodologis. Hasil dari data kualitatif ini dianalisa ke dalam tiga tahapan yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) peran program bilingual di Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta adalah sebagai fasilitator dan sebagai instrument dalam mengembangkan kecakapan berbahasa Inggris santri. Sebagai sebuah fasilitator dan instrument, peran utama program bilingual tersebut adalah untuk membantu dan mempersiapkan santri agar mampu berkomunikasi secara aktif dengan menggunakan bahasa Inggris. Sementara itu, (2) kendala yang dihadapi dalam penerapan program bilingual di Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta antara lain kurangnya tenaga pembina program bilingual, kurangnya pembinaan bagi para pengurus atau coordinator bidang bahasa Inggris di MBS Yogyakarta, latar belakang pendidikan santri yang bermacam-macam dan kurangnya sarana dan prasarana. Kemudian, (3) usaha-usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan program bilingual di Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta adalah sebagai berikut: untuk mengatasi kendala yang pertama, MBS Yogyakarta mencoba untuk memaksimalkan potensi yang ada di MBS Yogyakarta. Usaha tersebut dilakukan dengan cara memberdayakan guru/ustadz/ustadzah yang ada sekarang ini yang memiliki potensi di bidang bahasa Inggris. Untuk mengatasi kendala yang kedua, MBS Yogyakarta berusaha tetap melakukan pembinaan kepada anak-anak IPM yang dilakukan oleh pembina bahasa Inggris yang ada sekarang. Untuk santri
putra, pembinaan dilakukan minimal sebulan sekali. Sedangkan untuk santri putri yang menjadi pengurus atau koordinator bidang bahasa cenderung lebih mandiri. Hal ini dikarenakan kurangnya pembina bahasa Inggris putri yang bisa berkomitmen secara tetap untuk membina di bagian bahasa Inggris. Kemudian, untuk kendala yang ketiga, ada dua usaha yang telah dilakukan oleh MBS Yogyakarta. Pertama, bagi santri baru yang masuk kelas tujuh di SMP MBS Yogyakarta diberikan waktu untuk menyesuaikan dengan lingkungan dan untuk mendalami materi bilingual di MBS Yogyakarta. Kedua, bagi santri baru yang masuk di SMA MBS Yogyakarta dan tidak memiliki background pendidikan agama dan bahasa di sekolah mereka sebelumnya maka wajib untuk masuk kelas khusus yaitu yang dinamakan dengan kelas Takhasus. Kendala yang terakhir adalah mengenai kurangnya sarana dan prasarana. Usaha yang telah dilakukan oleh MBS Yogyakarta adalah dengan terus mengupayakan pengadaan sarana prasarana dan peralatan praktek penunjang pembelajaran bilingual.
Di akhir penelitian, peneliti ingin memberikan beberapa saran kepada sekolah/pesantren agar implementasi program bilingual di MBS Yogyakarta semakin baik: MBS Yogyakarta harus menyelenggarakan program pelatihan atau pembinaan secara rutin untuk guru/ustadz/ustadzah dan para koordinator bidang bahasa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan bahasa Inggris dan yang belum memiliki kemampuan yang cukup berkenaan dengan pengetahuan bahasa Inggris dan teknik mengajar materi bahasa Inggris; (2) MBS Yogyakarta harus memilki atau menyediakan pembina untuk program bilingual yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa Inggris; (3) MBS Yogyakarta harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang kondusif guna mendorong penggunaan bahasa Inggris; (4) pondok pesantren modern ini harus menyediakan sarana prasarana dan peralatan praktek untuk mendukung kelancaran program bilingual, sehingga hasilnya bisa maksimal.
Kata kunci: implementasi, bilingual, pondok pesantren modern.

File Dokumen Tugas Akhir : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
IMG_20151123_0001.pdf
Cover.pdf
Bab 1.pdf
Bab 2.pdf
Bab 3.pdf
Bab 4.pdf
Bab 5.pdf
File Dokumen Karya Dosen : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Drs. Muh. Asrori, M. Pd
2. Drs. Martono, MA
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. KIP