Penulis Utama : Made Prasta Yostitia Pradipta
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : S.701308011
Tahun : 2016
Judul : Tajen sebagai modal budaya dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat di desa Pakraman Sukasada, Singaraja, bali
Edisi :
Imprint : Surakarta - Pascasarjana - 2016
Kolasi :
Sumber : UNS-Pascasarjana Prog. Studi Kajian Budaya-S.701308011-2016
Subyek : TAJEN
Jenis Dokumen : Tesis
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

Tajen dianggap sebuah proyeksi profan dari salah satu upacara yajna di Bali yang bernama tabuh rah. Tabuh rah merupakan sebuah upacara suci yang dilangsungkan sebagai kelengkapan saat upacara macaru atau bhuta yajna. Upacara tabuh rah biasanya dilakukan dalam bentuk adu ayam, sampai salah satu ayam meneteskan darah ke tanah. Dalam perkembangannya, ritual suci tabuh rah mengalami pergeseran makna menjadi judi yaitu tajen. Perbedaan tabuh rah dengan tajen adalah, dimana dalam tajen dua ayam jantan diadu oleh para bebotoh sampai mati. Upacara tabuh rah bersifat sakral, sedangkan tajen adalah murni bentuk praktik perjudian. Melalui tajen, Desa Pakraman Sukasada memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi wisata budaya berbasis masyarakat.
Penelitian ini dilakukan dalam ranah ilmu Kajian Budaya dengan menggunakan metode kualitatif dan tekhnik analisis data secara deskriptif kualitatif dan interpretatif. Di dalam penelitian ini teori Strukturasi Anthony Giddens dimanfaatkan untuk menjawab ketiga rumusan masalah penelitian yang dalam penggunaannya dikombinasikan dengan teori komodifikasi dari Karl Marx.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini ada tiga. Pertama, tajen yang dipraktekkan dalam kehidupan sosial budaya di Desa Pakraman Sukasada, Singaraja, Bali, yakni ada tiga bentuk tajen yaitu tabuh rah, tajen terang, dan tajen branangan. Tajen branangan adalah bentuk tajen yang sering digunakan masyarakat Desa Pakraman Sukasada. Kedua, makna tajen sebagai modal budaya di Desa Pakraman Sukasada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi profanisasi nilai-nilai sakral prosesi keagamaan tabuh rah menjadi bentuk perjudian sabung ayam oleh para penjudi. Meskipun tabuh rah dan tajen memiliki cara pelaksanaan yang sama, namun sebenarnya tabuh rah dan tajen merupakan dua aktivitas yang berbeda. Tabuh rah bagi masyarakat Desa Pakraman Sukasada dipandang sebagai ritual pemberian segehan kepada bhuta kala agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Adapun tajen lebih kepada perjudian dan merupakan perbuatan yang berdosa menurut agama Hindu. Ketiga, salah satu strategi pengembangan yang tepat dalam mengembangkan tajen adalah menjadi atraksi wisata budaya berbasis masyarakat dan berkelanjutan di Desa Pakraman Sukasada, Singaraja, Bali, dapat dipahami melalui metode analisis SWOT dan respon masyarakat tentang tajen di Desa Pakraman Sukasada.
Kata kunci: tajen, modal budaya, wisata berbasis masyarakat di Bali.

 

File Dokumen : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
AWAL.pdf
BAB I.pdf
BAB II.pdf
BAB III.pdf
BAB IV.pdf
BAB V.pdf
IMG_0009.jpg
File Dokumen : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Dr. Warto, M.Hum
2. Dr. Titis Srimuda Pitana S.T., M.Trop.Arch
Catatan Umum :
Fakultas : Pascasarjana