Penulis Utama : Triana Nugraheni
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : G0111081
Tahun : 2015
Judul : Studi Kasus Status Mental dan Kualitas Hidup Penderita Skizofrenia Pasca Pasung di Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo
Edisi :
Imprint : Surakarta - F. Kedokteran - 2015
Kolasi :
Sumber : UNS-F. Kedokteran Jur. Psikologi-G0111081-2015
Subyek : STATUS MENTAL
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

ABSTRAK
Kualitas hidup merupakan konstruk multidimensi yang menunjukkan tingkat kesejahteraan pada beberapa dimensi penting dalam kehidupan, sesuai dengan konteks budaya dan sistem nilai yang mengikuti standar umum hak asasi manusia. Perubahan awal dalam kualitas hidup, status klinis, dan program pengobatan atau intervensi memiliki dampak penting pada status mental dan kualitas hidup jangka panjang penderita skizofrenia. Pasung merupakan intervensi yang tidak tepat bagi penderita skizofrenia, tindakan ini juga sering disebut sebagai salah satu tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Ada beberapa kondisi yang memprihatinkan yang dialami oleh penderita skizofrenia saat di pasung, sehingga dalam jangka panjang dapat berdampak pada status mental dan kualitas hidup penderita skizofrenia yang pernah mengalami tindakan pemasungan tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mengetahui gambaran status mental dan kualitas hidup penderita skizofrenia pasca pasung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus yang diharapkan dapat menggali fokus penelitian secara lebih mendalam. Subjek penelitian ini adalah dua orang laki-laki penderita skizofrenia yang berusia 18 – 40 tahun, pernah di pasung selama ≥ 5 tahun, dan sudah dibebaskan dari pasung selama 12 bulan. Metode pengambilan data yang digunakan adalah riwayat hidup, wawancara, observasi, tes psikologi, dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian ini menggambarkan kondisi status mental dan dimensi kualitas hidup berbeda dialami pada kedua subjek pasca mengalami pemasungan. Status mental subjek M saat ini masih menunjukkan perilaku aneh dan karakteristik atipikal skizofrenia, mampu memberikan respon emosional yang tepat terhadap hal-hal yang terjadi, gangguan bermakna pada fungsi persepsi dan pikiran, fungsi intelektual subjek berada pada tingkat IV- (definitely below average in intellectual capacity) dengan nilai RS = 24, mampu mengendalikan impuls negatif, orientasi dan daya ingat utuh, reliabilitas baik, serta tilikan subjek cukup baik, sehingga meningkatkan kesadaran subjek terhadap pentingnya pengobatan. Sedangkan pada status mental subjek JR kini juga masih menunjukkan perilaku dan penampilan atipikal skizofrenia, afek datar, gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik dan gejala paranoid, flight of ideas, mampu mengendalikan impuls negatif, masih mengalami disorientasi waktu dan gangguan daya ingat, fungsi intelektual berada pada tingkat terendah yaitu tingkat V (intellectually defective) dengan nilai RS = 17, pertimbangan dan tilikan buruk, dan reliabilitas cukup baik pada orang yang dianggap subjek JR dapat dipercaya. Kualitas hidup lebih baik ditemui pada subjek M, yang menunjukkan kemampuan cukup baik pada dimensi kesehatan fisik dan psikologis, sedangkan keempat dimensi kualitas hidup yang dikaji pada subjek JR menunjukkan masalah yang cukup menonjol, terutama pada dimensi hubungan sosial. Hal ini juga ditemui pada hasil skoring skala WHOQOL-BREF, diketahui bahwa skor tertinggi subjek M didapat pada dimensi kesehatan fisik dan psikologis dengan skor 44, dan skor terendah subjek M berada pada dimensi hubungan sosial yaitu 31, namun jika skor tersebut dibandingkan dengan skor dimensi hubungan sosial subjek JR yang hanya mendapatkan skor 19, dimensi hubungan sosial subjek M masih lebih baik dari subjek JR. Jika diletakkan pada range score WHOQOL-BREF Scale 0-100, skor rata-rata kualitas hidup kedua subjek pasca pasung (subjek M = 39,25 dan subjek JR = 34,75) berada dibawah titik tengah = 50 atau lebih mendekati 0, sehingga dapat diartikan bahwa kualitas hidup kedua subjek rendah. Dibandingkan penderita skizofrenia yang dirawat di RSJ, dapat diketahui bahwa pemasungan yang dipilih keluarga sebagai intervensi terhadap subjek penderita skizofrenia merupakan intervensi yang tidak tepat, karena justru memperlama gangguan skizofrenik yang diderita subjek, sehingga disarankan untuk RT yang memiliki ART dengan gangguan skizofrenia agar tidak menerapkan pasung.
Kata kunci: Status Mental, Kualitas Hidup, Skizofrenia, Pasca pasung.
ABSTRACT
Quality of life is a multidimensional construct that indicates the level of well-being in several important dimensions in life, according to the cultural context and value systems that follows the general standard of human rights. Early changes in quality of life, clinical status, and treatment programs or interventions have an important impact on mental status and quality of life of long-term schizophrenic. Pasung are inappropriate interventions for people with schizophrenia, this action is also often referred to as one of the actions that violate the human rights. There are some appalling conditions experienced by people with schizophrenia while in pasung, so that in the long term, it could affect mental status and quality of life of schizophrenia patients who had experienced such deprivation action.
This study aims to understand and determine the description of mental status and quality of life of schizophrenia patients after pasung. This study used a qualitative method with case study design which is expected to explore the research focus deeply. The subjects were two men with schizophrenia aged 18-40 years, had been in pasung for ≥ 5 years, and has been released from pasung for 12 months. The used data collection methods are biography, interview, observation, psychological tests, and study documentation.
This research shown different condition of mental status and quality of life dimensions experienced in both subjects after being released from pasung. The mental status the subject M is currently still showing strange behavior and characteristics of atypical schizophrenia, capable of providing appropriate emotional response to the things that happen, significance agitation in the function of perception and thought, intellectual function of the subject at the level IV- (definitely below average in intellectual capacity) with a value of RS = 24, able to control negative impulses, orientation and memory intact, good reliability, as well as subject’s insight is well enough, so that it encourages subject’s awareness of the importance of the treatment. While on the mental status of the subject JR is also still showing the behavior and appearance of atypical schizophrenia, flat affection, perceptual disorders such as auditory hallucinations and symptoms of paranoid, flight of ideas, able to control negative impulses, still have disoriented of time and impaired memory, intellectual function was in the lowest level which is at the level V (intellectually defective) with a value of RS = 17, bad judgement and insight, the reliability is quite good to the people who are considered trustworthy for the subject JR. Better quality of life was found in the subject M, which showed good ability in the dimensions of physical health, psychological, and social relationships, whereas the four dimensions of quality of life were assessed in subject JR showed the problem is quite prominent, especially on the dimensions of social relationships. It is also found in the results of the scoring WHOQOL-BREF scale, it is known that the highest scoring subjects M obtained in the dimensions of physical health and psychological with a score of 44, and the lowest score the subject M is the dimension of social relationships that is 31, but if the scores are compared with dimension of social relationship scores of the subject JR who only get score of 19, the dimensions of social relationships the subject M is still better than the subject JR. If placed on the range score of WHOQOL-BREF Scale 0-100, the average score of quality of life both subjects after pasung (subject M = 39.25 and subject JR = 34.75) below the midpoint 50 or approaches 0, so it can be means that the quality of life of the two subjects low. Compared to patients with schizophrenia who were treated at RSJ, it is known that the deprivation of the chosen family as an intervention on the subject of schizophrenics is an inappropriate interventions, because it lengthen the symptoms of schizophrenic who suffered by the subjects, so it is advised to RT that have ART with schizophrenia disorder in order not to apply pasung.
Keywords: Mental status, Quality of life, Schizophrenia, After pasung.

File Dokumen : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
IMG_20160219_0001.pdf
Bab 0.pdf
Bab 1.pdf
Bab 2.pdf
Bab 3.pdf
Bab 4.pdf
Bab 5.pdf
File Dokumen : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Dra. Suci Murti Karini, M.Si., Psikolog.
2. Arif Tri Setyanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. Kedokteran