Penulis Utama : Yassinta Nareswari Zahra Fauzi
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : G.0111087
Tahun : 2015
Judul : Studi Kasus Proses Pencapaian Kebermaknaan Hidup Pada Ibu Dari Penyandang Cerebral Palsy
Edisi :
Imprint : Surakarta - F.Kedokteran - 2015
Kolasi :
Sumber : UNS-F.Kedokteran Jur.Psikologi-G.0111087-2015
Subyek : PSIKOLOGI
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

ABSTRAK
Manusia dalam kehidupannya seringkali menghadapi peristiwa tragis, yaitu kejadian yang tidak mengenakkan dan terjadi di luar harapan. Peristiwa tragis yang terjadi dalam hidup manusia ada banyak jenisnya. Salah satu bentuk peristiwa tragis bagi orang tua adalah memiliki anak kandung yang terlahir dengan kondisi tidak seperti yang mereka harapkan, karena anak mereka terlahir dengan kondisi memiliki gangguan tertentu. Salah satu bentuk gangguan tersebut adalah cerebral
palsy. Orang tua, terutama ibu, yang mendengar bahwa bayi mereka mengalami cerebral palsy, akan mengalami shock atau rasa tidak percaya, rasa bersalah, merasa cemas, dan takut. Hal-hal tersebut dapat mengarahkan pada hidup tidak bermakna. Namun manusia memiliki kebebasan untuk menentukan sikap terhadap kondisi yang dialami. Ibu tetap dapat menemukan kebermaknaan hidupnya meski dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Keberhasilan menemukan makna hidup selanjutnya akan menyebabkan kehidupan ini terasa berarti dan berharga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran proses pencapaian kebermaknaan hidup pada ibu dari penyandang cerebral palsy. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus yang diharapkan dapat menggali fokus penelitian secara lebih mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang wanita yang berasal dari suku Jawa, berusia 18 hingga 55 tahun, dan memiliki anak penyandang cerebral palsy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah riwayat hidup, wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu dari penyandang cerebral palsy mengalami perasaan kecewa, tidak percaya, dan menyalahkan diri sendiri atas gangguan perkembangan yang dimiliki anak. Kondisi tersebut bertahan dalam diri masing-masing subjek dalam jangka waktu yang berbeda. Meski demikian, ketiga subjek pada akhirnya mampu menerima kondisi yang dimiliki anak dan mengupayakan usaha maksimal untuk menunjang perkembangan. Penerimaan diri terhadap gangguan yang dimiliki anak sudah dapat dicapai oleh subjek, tetapi rasa bersalah masih menghantui ketiga subjek hingga saat ini. Ketiga subjek mengakui seringkali rasa bersalah itu timbul dan tenggelam. Setiap kali rasa bersalah itu muncul, subjek memilih untuk berdoa atau beribadah sehingga perasaan tersebut dapat dihilangkan. Tahap selanjutnya yang dilakukan subjek setelah berhasil menerima kondisi yang dimiliki anak, adalah menemukan makna hidup. Ketiga subjek memiliki makna hidup yang berbeda, tetapi inti dari masing-masing makna hidup tersebut adalah usaha terbaik yang subjek upayakan terhadap perkembangan anak. Penemuan makna hidup selanjutnya membuat subjek melakukan perubahan sikap. Ketiga subjek melakukan perubahan sikap dengan cara yang berbeda mulai dari berhenti bekerja, merombak kondisi rumah agar aman dan memudahkan pergerakan anak, dan memutuskan untuk memulai bekerja agar dapat membantu suami memenuhi kebutuhan anak yang tidak sedikit. Perubahan sikap yang berhasil dilakukan subjek kemudian mengarahkan subjek pada tahap keikatan diri, yaitu komitmen subjek terhadap tujuan hidup yang telah ditentukan. Pada tahap keikatan diri ini, subjek menunjukkan komitmen dengan makna hidup yang dimiliki yaitu untuk mengupayakan usaha terbaik bagi anak. Subjek tidak hanya mengandalkan terapi dan intervensi dari sekolah untuk
menunjang perkembangan anak, tetapi juga melakukan berbagai kegiatan di rumah secara mandiri. Selain fokus untuk menunjang perkembangan anak, ketiga subjek juga melakukan berbagai kegiatan terarah untuk memenuhi makna hidup yang dimiliki. Kegiatan terarah tersebut berupa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, dan membangun komunikasi yang lebih baik dengan pasangan. Hasil penelitian ini selanjutnya menemukan bahwa ketiga subjek telah mampu mencapai tahap hidup bermakna. Ketiga subjek mampu memaknai kebahagiaan dengan baik meskipun memiliki anak dengan cerebral palsy dan
berada dalam kondisi yang tidak mudah akibat gangguan yang dimiliki anak tersebut.
Kata kunci : Kebermaknaan Hidup, Cerebral Palsy

File Dokumen : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
20160415_083006.jpg
COVER.pdf
BAB I.pdf
BAB II.pdf
BAB III.pdf
BAB IV.pdf
BAB V.pdf
File Dokumen : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Drs. Hardjono, M.Si., Psikolog.
2. Arif Tri Setyanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. Kedokteran