Penulis Utama : Reviono
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : 196510302003121001
Tahun : 2017
Judul : Kedokteran Respirasi pada Pelaksanaan Ibadah Umrah dan Haji
Edisi : Cetakan pertama, April 2017
Imprint : Surakarta - UNS Press - 2017
Kolasi : 6 hal.: tab.
Sumber : Proceeding Book - Pertemuan Ilmiah Respirologi (PIR) Nasional 2017 PDPI Cabang Surakarta “Trending Topics in Respiratory Medicine”
Subyek : RESPIRASI (GANGGUAN PERNAPASAN)
Jenis Dokumen : Artikel Prosiding
ISSN :
ISBN : 978-602-397-107
Abstrak :

Latar Belakang: Kondisi pelaksanaan ibadah haji merupakan
kumpulan manusia yang penuh sesak dalam area yang terbatas
akan menimbulkan berbagai permasalahan. Permasalahan
tersebut akan menyebabkan penularan penyakit infeksi,
eksaserbasi dari penyakit tidak menular dan gangguan kesehatan
yang berhubungan dengan perubahan iklim.
Metode: Dengan menggunakan electronic search untuk PubMed
database didapatkan data penelitian tentang masalah kedokteran
respirasi yang berhubungan dengan pelaksanaan ibadah haji di
tanah suci. Uji t  digunakan untuk perbandingan, uji Mann-Whitney
U dan uji Kruskal-Wallis digunakan untuk perbandingan data
berdistribusi non parametrically. Untuk uji inferensial hubungan
antar variable digunakan regresi logistic.
Hasil dan Pembahasan: Jamaah haji yang mengeluh gejala
penyakit penyakit pernapasan  93,4%. Sebagian besar: 78,2%
memenuhi kriteria Influenza Like Illness, diderita kurang dari 2
minggu, dan dari kasus tersebut yang mendapat antibiotik 61,8 %,
dan hanya 2,1% yang memerlukan rawat inap. Lebih dari 52%
mempunyai riwayat kontak dengan penderita ILI. Sebagian besar
kasus gangguan pernapasan 81,2% didapat saat selesai dari
rangkaian wukuf di Arafah.  Tindakan pencegahan vaksinasi
influenza 65,2% jamaah, dengan masker dilakukan oleh 82,9%
jamaah. Masker berupa masker bedah, masker N95, handuk
kering, handuk yang dibasahi ataupun jilbab. Tindakan hand
hygiene hanya 31,8% yang mempraktekkan dengan baik serta
mengkonsumsi vitamin atau suplemen sebesar 44,4%. Faktorfaktor
yang mampu menurunkan risiko penyakit pernapasan
adalah pengalaman ibadah haji dan umrah sebelumnya (OR:0,24
dan 0,19), melakukan hand hygiene (OR: 0,35), sedangkan yang
mempunyai risiko menderita penyakit pernapasan secara
signifikan adalah kontak dengan penderita penyakit pernapasan.
Hasil penelitian multicenter di Makkah dan Madinah kasus
pneumonia. Usia rata – rata 64 tahun, dari total pasien tersebut 
27,2% adalah kasus pneumonia yang dirawat kasus pneumonia
berat rata – rata 2,9 kasus perhari. Hasil pengobatan tercatat
angka kematian 16,2% untuk semua kasus kritis di ICU,
sedangkan khusus untuk pneumonia 19,5%. Angka kematian lebih
tinggi pada kasus pneumonia dengan multidrug resistance.
Sejumlah 84 (68,3%) keluar dari ICU ke perawatan bangsal tanpa
gejala sisa, 27 kasus (22%) dirujuk ke pusat rujukan lain untuk
penatalaksanaan kasus spesialistik dan 12 (9,6%) pulang
perawatan di luar rumah sakit tanpa komplikasi. Sebagain besar
kasus pneumonia yang didapat selama pelaksanaan ibadah haji
adalah berhubungan dengan ruang dan waktu saat rangkaian
ibadah haji yang berpindah dari tempat satu ke tempat lain.
Kesimpulan: Faktor yang menurunkan risiko gangguan
pernapasan: pengalaman ibadah haji dan umrah sebelumnya,
melakukan hand hygiene. Faktor risiko gangguan pernapasan
adalah kontak dengan penderita penyakit pernapasan berat. Rata
– rata kasus pneumonia 2,9 kasus perhari. Hasil pengobatan
angka kematian 16,2% kasus kritis di ICU, khusus untuk
pneumonia 19,5%. Angka kematian tinggi pada kasus pneumonia
dengan multidrug resistance. Sebagain besar kasus pneumonia
yang didapat selama pelaksanaan ibadah haji adalah
berhubungan dengan ruang dan waktu saat rangkaian ibadah haji
yang berpindah dari tempat satu ke tempat lain.
Kata Kunci: Gangguan pernapasan, haji, faktor risiko

  

File Dokumen : Tidak ada file dalam dokumen ini.
File Jurnal : 2. kedokt respirasi.pdf
Link Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing :
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. Kedokteran