Penulis Utama : Murtiningsih
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : F.0101060
Tahun : 2005
Judul : Analisis faktor yang mempengaruhi jam kerja para pekerja di propinsi Jawa Tengah 2003 (analisis data sakernas 2003)
Edisi :
Imprint : Surakarta - F. Ekonomi - 2005
Kolasi :
Sumber : UNS-F. Ekonomi Jur. Ekonomi Pembangunan-F.0101060-2005
Subyek : JAM KERJA
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak : ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) ada tidaknya perbedaan pengaruh upah, umur, dan pendidikan pekerja terhadap jam kerja para pekerja di propinsi Jawa Tengah, (2) ada tidaknya perbedaan pengaruh tingkat upah menurut tempat tinggal terhadap jam kerja para pekerja di propinsi Jawa Tengah, (3) ada tidaknya perbedaan pengaruh tingkat upah menurut jenis kelamin terhadap jam kerja para pekerja di propinsi Jawa Tengah, dan (4) ada tidaknya perbedaan pengaruh tingkat upah menurut status pekerja terhadap jam kerja para pekerja di propinsi Jawa Tengah. Hipotesis yang diajukan adalah: (1) terdapat perbedaan pengaruh variabel upah, umur, dan pendidikan terhadap jam kerja, (2) terdapat perbedaan pengaruh variabel upah antara pekerja di kota dan desa terhadap jam kerja, (3) terdapat perbedaan pengaruh variabel upah antara pekerja laki-laki dan perempuan terhadap jam kerja, dan (4) terdapat perbedaan pengaruh variabel upah antara pekerja yang berstatus kawin dan tidak kawin terhadap jam kerja. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2003 Jawa Tengah yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Analisis dibatasi pada sampel kelompok umur 15 tahun ke atas yang bekerja dan menerima upah. Berdasarkan pembatasan dan kriteria tersebut dapat diketahui jumlah sampel adalah 4.047 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 1.798 (44,43%) tinggal di kota dan 2.249 (55,57%) tinggal di desa. Sebanyak 3009 (74,35%) berstatus kawin dan 1.038 (25,65%) berstatus tidak kawin, serta 62,47% pekerja laki-laki dan 37,53% pekerja perempuan. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskripsi dan regresi linier berganda. Hasil pengujian menggunakan regresi linier berganda menunjukkan adanya perbedaan pengaruh variabel upah dan umur terhadap jam kerja. Variabel upah menunjukkan pada kelompok upah yang lebih tinggi rata-rata jam kerja per minggu para pekerja lebih panjang, sedangkan variabel umur menunjukkan pada kelompok umur yang lebih tua rata-rata jam kerja per minggu para pekerja lebih pendek. Sementara variabel pendidikan menunjukkan tidak adanya perbedaan pengaruh secara signifikan pada  = 0,05 terhadap jam kerja. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan pengaruh variabel upah secara signifikan pada  = 0,05 terhadap jam kerja. Sedangkan variabel tempat tinggal menunjukkan tidak ada perbedaan pengaruh secara signifikan pada  = 0,05 terhadap jam kerja. Artinya, rata-rata jam kerja per minggu antara pekerja yang tinggal di kota tidak berbeda secara signifikan dengan pekerja yang tinggal di desa. Hasil uji statistik juga menunjukkan adanya perbedaan pengaruh variabel upah dan jenis kelamin secara signifikan pada  = 0,05 terhadap jam kerja. Hasil estimasi menunjukkan bahwa rata-rata jam kerja per minggu para pekerja untuk upah 1 (kurang dari upah minimum) pekerja laki-laki adalah 36,349 jam dan perempuan adalah 34,022 jam. Untuk upah 2 (sama dengan upah minimum) pekerja laki-laki adalah 46,238 jam dan perempuan 43,911 jam. Selanjutnya hasil uji statistik terhadap variabel upah dan status signifikan pada  = 0,05 yang artinya variabel tersebut mempunyai perbedaan pengaruh terhadap jam kerja. Dari hasil estimasi diketahui bahwa untuk upah 1 (kurang dari upah minimum) rata-rata jam kerja per minggu pekerja berstatus kawin adalah 35,287 jam sedangkan pekerja berstatus tidak kawin adalah 34,433 jam. Untuk upah 2 (sama dengan upah minimum) rata-rata jam kerja per minggu pekerja berstatus kawin adalah 45,839 jam dan pekerja yang berstatus tidak kawin adalah 44,985 jam. Keterbatasan Model menyebabkan tidak diketahui apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel tak bebas parabolis. Jam kerja tidak dibedakan sektor pekerjaan formal dan informal, tidak mencerminkan alokasi waktu pilihan individu Dari bukti-bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa: (1) pada kelompok upah yang lebih tinggi rata-rata jam kerja per minggu para pekerja lebih panjang, (2) pada kelompok umur yang lebih tua rata-rata jam kerja per minggu para pekerja lebih pendek, (3) rata-rata jam kerja per minggu antara pekerja dengan latar belakang pendidikan SD ke bawah, SLTP – SLTA maupun D1+ tidak ada perbedaan, (4) rata-rata jam kerja per minggu pekerja yang tinggal di kota tidak ada perbedaan dengan pekerja yang tinggal di desa, (5) rata-rata jam kerja per minggu pekerja laki-laki lebih panjang dibanding pekerja perempuan, (6) rata-rata jam kerja per minggu pekerja yang berstatus kawin ternyata lebih panjang dibanding pekerja yang berstatus tidak kawin. Berdasarkan temuan-temuan tersebut maka diajukan saran-saran: (1) perluasan kesempatan kependidikan di propinsi Jawa Tengah, (2) mengubah sector informal menjadi sektor formal, (3)menghilangkan diskriminasi antara pekerja laki-laki dan perempuan, (4) meningkatkan kesejahteraan pekerja khususnya di sektor swasta yang berstatus kawin, (5) untuk peneliti selanjutnya pengembangan model dapat dilakukan dengan model regresi non linear, dan (6) perlu kehati-hatian dalam mengintepretasikan dan membandingkan logika teori dan empiris.
File Dokumen : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
murti.pdf
File Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Drs. Sutomo, MS.
Catatan Umum : 1050/2005
Fakultas : Fak. Ekonomi dan Bisnis