Penulis Utama : Indra Kurniawan
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : F.0299060
Tahun : 2004
Judul : Analisis implementasi konsep SIX Sigma Motorola sebagai alat pengendalian produk (studi kasus pada PT. Djuifa International Foods, Kab. Cilacap)
Edisi :
Imprint : Surakarta - F. Ekonomi - 2004
Kolasi :
Sumber : UNS-F. Ekonomi-F.0299060-2004
Subyek : PERSAINGAN PRODUK
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak : ABSTRAK latar belakang penulisan skripsi dengan judul diatas adalah adanya tingkat persaingan yang tinggi dewasa ini pada sebuah industri yang bersifat Mass productions, dimana dalam hal ini posisi konsumen cukup diuntungkan karena mereka dapat menentukan pilihan yang banyak serta memperoleh informasi yang akurat tentang produk yang ada dipasaran. Bila dicermati dari sisi perusahaan, tentu mereka harus dapat bersaing untuk mendapatkan apa yang dinamakan “Market Share”. Berbicara mengenai mendapatkan posisi pada market share tadi, maka tidak dapat lepas dari penciptaan barang dan atau jasa yang berkualitas. Kita tahu sendiri bahwa paradigma kualitas adalah selalu berubah dari waktu ke waktu, untuk mengantisipasi hal ini, perusahaan harus cermat dan teliti dalam hal perhitungan dan perencanaan barang dan atau jasa yang diproduksi. Oleh karena itu dimensi kualitas ataupun mutu dapat dijadikan sebagai sebuah keunggulan tersendiri bagi perusahaan, dalam memenangkan dan mempengaruhi pilihan konsumen yang semakin kritis dan selektif, Untuk memperoleh mutu yang baik bagi barang dan atau jasa yang akan dilempar kepasaran, tentu adanya gerakan pengendalian terhadap kualitas menjadi sangat krusial bagi perusahan, karena dengan adanya pengendalian terhadap kualitas ini, tentunya akan dapat mengendalikan atau mengontrol jumlah barang dan atau jasa (terutama bagi barang/produk) yang diproduksi perusahaan. Dengan adanya pengendalian terhadap kualitas jumlah produk yang rusak ataupun rework dapat ditekan dan dipantau dengan baik, serta perusahaan juga dapat mengetahui titik-titik mana saja dalam alur proses produksi yang vital yang dapat menimbulkan potensi kerusakan ataupun rework pada barang yang diproduksi sehingga dapat diambil sebuah tindakan pencegahan atau penanggulangan, semua itu dilakukan perusahaan untuk dapat memperoleh citra yang baik dimata konsumennya sehingga “Costumer satisfaction” dapat terwujud, yang nantinya akan memperkuat posisi perusahaan dalam peta persaingan yang ketat tadi. Selanjutnya untuk mengetahui dan menganalisis pengendalian kualitas produk, penulis mengemukakan tiga permasalahan, yaitu (1) Apakah batas pengendalian yang dilakukan pada perusahaan PT. DIF sudah relevan dengan penyimpangan atau kerusakan yang terjadi produk terutama dikaitkan dengan konsep pengendalian kualitas Six Sigma Motorola? (2) Seberapa tinggi tingkat penyimpangan atau kerusakan produk yang terjadi pada PT.DIF? (3) Apa penyebab paling dominan atau sering terjadi pada PT.DIF ini?. Yang menjadi tujuan diadakan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui jalannya pengendalian kualitas yang dilakukan PT.DIF (2) Untuk mengetahui tingkat penyimpangan kerusakan atau rework produk yang terjadi pada PT.DIF (3) serta cacat atau rework apa yang paling sering terjadi dan pada sub-proses manakah hal itu terjadi sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan serta menghiutng tingkat kapabilitas proses perusahaan. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah (1) Pengendalian kualitas yang dilakukan PT.DIF belum relevan terutama bila dikaitkan dengan Konsep pengendalian kualitas Six Sigma (2) Tingkat kerusakan yang terjadi pada PT.DIF adalah disebabkan karena factor produksi, yaitu : bahan baku, mesin, dan tenaga kerja. Sedangkan untuk mengolah data, digunakan metode analisis kuantitatif dan kualitatif. Untuk membuktikan hipotesis digunakan bagan control P, diagram Pareto, Fish-Bone Chart, percobaan perhitungan DPMO serta tingkat Sigma perusahaan. Setelah dilakukan beberapa proses analisis, terbukti bahwa walaupun secara kualitas penyimpangan terhadap kerusakan ataupun rework yang terjadi cukup relevan, namun bila dilihat lebih dalam, secara kuantitas yang dikaitkan dengan konsep pengendalian kualitas Six Sigma Motorola, kinerja perusahaan masih rendah, Sedangkan hipotesis kedua juga terbukti benar, bahwa tingkat kerusakan yang terjadi disebabkan karena faktor bahan baku, mesin produksi dan tenaga kerja. Secara umum, gambaran pengendalian kualitas yang terjadi pada PT.DIF adalah, perusahaan ini menetapkan sebuah konsep pengendalian kualitas yang “medium”, dalam artian tidak terlalu ketat ataupun longgar. Hal seperti ini tentu berbeda dengan konsep pengendalian yang dimaksudkan pada konsep Six Sigma, dimana pengendalian terhadap faktor kualitas diusahakan sebaik mungkin guna memperoleh tingkat Cp yang baik sehingga tingkat Sigma perusahaan dapat meningkat. Yang artinya DPMO yang dihasilkan dapat ditekan seminimal mungkin demi mengejar visi yang ambisius dan dramatik dari konsep ini yaitu pencapaian Zero Defect sebagai sebuah kesempurnaan bagi perusahaan, terutama yang industri yang bergerak pada penciptaan Mass Production. Sedangkan variasi yang tinggi terhadap suhu ikan tuna yang dijadikan bahan baku produksi, ditengarai menyumbang kerusakan atau rework yang paling dominan pada proses produksi perusahaan, hal ini dikarenakan kualitas bahan baku yang kurang baik, pemilihan dan perlakuan yang tidak tepat pada ikan sebelum dikalengkan, menjadikan hal ini penyumbang kerusakan atau rework yang paling besar. Sebagai bahan pertimbangan bagi PT. DIF terkait dengan kebijakan pengendalian kualitas produk perusahaan, saran yang dapat diberikan adalah hendaknya perusahaan tidak mengabaikan pengawasan kualitas bahan baku serta perlakuan yang cermat pada bahan baku tersebut. Pada proses produksinya secara keseluruhan faktor tenaga yang kurang profesional hendaknya segera dapat ditanggulangi, dengan jalan diadakan pelatihan serta memperkuat kebijakan kedisiplinan karyawan, faktor lainnya adalah perawatan dan pengecekan yang teliti dan benar terhadap kinerja mesin-mesin produksi yang vital. sehingga dapat bekerja secara optimal dan memperlancar proses produksinya Secara umum implementasi konsep 5W-1H bagi proses produksi adalah mendesak untuk diterapkan guna menekan kerusakan ataupun rework yang terjadi pada proses produksi perusahan.
File Dokumen : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
Indra Kurniawan.pdf
File Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing :
Catatan Umum : 1061/2004
Fakultas : Fak. Ekonomi dan Bisnis