Penulis Utama : Semuel Daniel Heka Marthinus Benu
NIM / NIP : S251508002
×

Kerukunan hidup beragama, tidak hanya saling menghormati dan menghargai, membina dan mengembangkan serta dapat memberi bimbingan dan pengarahan agar kehidupan berbangsa lebih berkembang, tetapi harus diwujud-nyatakan dalam berbagai kegiatan bersama, sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam membina kehidupan berbangsa, bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
Hal diatas kalau tidak dijaga dengan baik maka terjadi konflik antar Suku Agama Ras dan Antar Golongan (SARA) seperti konflik di Ambon Maluku (Islam vs Nasrani) pada tanggal 19 Januari 1999, Kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah (Islam vs Nasrani) pada tanggal 25-29 Desember 1998, Konflik Tolikora Papua (Islam Vs Nasrani) pada tanggal 17 Juli 2015 lalu, Sedangkan di Desa Boti terdapat Penganut Aliran Kepercayaan Halaika, Penganut Agama Kristen dan Agama Khatolik, namun hidup berdampingan secara rukun dan damai, hal ini yang mendorong penulis untuk meneliti bagaimana konstruksi sosial penganut aliran kepercayaan halaika dalam kerukunan hidup beragama di Desa Boti.
Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui paham atau ajaran penganut aliran kepercayaan Halaika dalam kehidupan masyarakat Desa Boti, Konstruksi sosial penganut aliran kepercayaan tradisional  Halaika, tentang  kerukunan hidup beragama dan bentuk atau wujud kerukunan hidup bersama sebagai konstruksi sosial masyarakat penganut aliran kepercayaan Halaika. Teori yang digunakan, teori Konstruksi Sosial  Berger dan Luckmann Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman dan sikap kehidupan masyarakat penganut aliran kepercayaan Halaika dalam kerukunan hidup beragama. Hasil penelitian menunjukan bahwa Paham atau ajaran aliran kepercayaan halaika, bahwa dalam kehidupan manusia ada dua penguasa yaitu Penguasah Alam Fana (Uis Pah) yaitu  Ena Banfae atau Uis Pah dihormati dan disembah oleh suku Boti, karena Dialah yang memangku, memelihara serta membesarkan manusia dan segala kejadian diatas alam ini. Penguasa Alam Baka (Uis neno). Suku Boti percaya dan taqwa terhadap Uis neno atau penguasa alam baka, karena Uis neno yang mengawasi dan melindungi manusia serta seluruh isi dibumi dan menentukan mansia masuk surga atau neraka.
Hal ini dieksternalisasikan dalam kehidupan sehari hari dan diobjektifasi melalui Sikap dan tingkah laku serta diinternalisasikan melalui keluarga, lembaga keagamaan, lembaga kemasyarakatan, merupakan kebiasaan orang Boti dalam masyarakat yang dapat dijalankan oleh individu, hal ini dilakukan berulang-ulang sebagai kebiasaan hidupnya sebagai wujud kerukunan hidup beragama adanya konstruksi sosial dari penganut aliran kepercayaan Halaika, hubungan kekeluargaan kuat dan dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan sosial (gotong royong).

 

×
Penulis Utama : Semuel Daniel Heka Marthinus Benu
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : S251508002
Tahun : 2017
Judul : Konstruksi Sosial Penganut Aliran Kepercayaan Halaika Tentang Kerukunan Hidup Beragama (Studi Fenomenologi di Desa Boti Kecamatan KIE Kabupaten Timor Tengah Selatan Propinsi Nusa Tenggara Timur)
Edisi :
Imprint : Surakarta - Pascasarjana - 2017
Program Studi : S-2 Sosiologi
Kolasi :
Sumber : UNS-Pascasarjana-Prodi Magister Sosiologi-S251508002.-2017
Kata Kunci :
Jenis Dokumen : Tesis
ISSN :
ISBN :
Link DOI / Jurnal : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Dr. RB Soemanto, M.A
2. Drs. Y. Slamet, M.Sc, Phd.
Penguji :
Catatan Umum :
Fakultas : Sekolah Pascasarjana
×
File : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.