Penulis Utama : Theresia Widiastuti
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : T621302002
Tahun : 2017
Judul : Model Pemberdayaan Paguyuban “Cawas Lurik Center” Melalui Strategi Pengembangan Kelembagaan Untuk Kemandirian Perajin Di Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten Jawa Tengah
Edisi :
Imprint : Surakarta - F. Pascasarjana - 2017
Kolasi :
Sumber : UNS-Fak. Pascasarjana Prog. Penyuluhan Pembangunan / Pemberdayaan Masyarakat-T621302002-2017
Subyek : MODEL PEMBERDAYAAN PAGUYUBAN, PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN, CAWAS LURIK CENTER, LURIK
Jenis Dokumen : Disertasi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

Abstrak

Lurik Klaten pernah mencapai masa kejayaan di tahun 1960 sampai 1980an. Salah satu keberhasilan usaha lurik di masa lampau tidak terlepas dari peran pemerintah melalui kebijakan dan dukungannya untuk perajin. Namun setelah itu mengalami kemerosotan yang menyebabkan banyak usaha tenun lurik gulung tikar. Salah satu  penyebabnya adalah tidak ada lagi bantuan pemerintah.  Dapat dikatakan para perajin berjuang sendiri agar mereka dapat tetap eksis. Sampai sekarang  masih banyak penduduk di Klaten yang membuat tenun lurik untuk mendapatkan penghasilan.  Salah satu daerah yang masih mengusahakan  lurik  adalah kecamatan Cawas. Di tempat ini ditemukan usaha kecil tenun lurik yang jumlahnya cukup banyak dibandingkan dengan daerah lain di wilayah Klaten. Sebagian besar dari usaha kecil tenun lurik ini mengalami kesulitan yang sama, yakni tidak mampu menjual produk tekstilnya.
Tekad para perajin adalah tetap mempertahankan usaha luriknya dan mengupayakan agar produknya dapat diserap oleh pasar secara maksimal. Mereka  memutuskan bergabung  supaya dapat menghadapi permasalahan secara bersama-sama. Maka pada awal tahun 2014 perajin membentuk paguyuban yang dinamai  Cawas Lurik center (CLC).  Mereka berbagi tugas mengerjakan pesanan yang datang ke paguyuban, berbagi tenaga kerja agar dapat tetap menjalankan usahanya masing-masing,  sambil melakukan pemberdayaan agar dapat meningkatkan kemampuannya.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengungkapkan karakter paguyuban perajin CLC, (2) untuk mengkaji pemberdayaan yang dilakukan oleh perajin lurik sebelum dan sesudah berdirinya paguyuban perajin “Cawas Lurik Center”, (3) untuk mengkaji arah proses desain sebagai bagian dari kegiatan pemberdayaan yang dilakukan paguyuban perajin “Cawas Lurik Center, dan  (4) untuk merumuskan model pemberdayaan paguyuban perajin “Cawas Lurik Center” melalui strategi pengembangan kelembagaan untuk kemandirian perajin. Bentuk penelitian kualitatif ini menggunakan strategi studi kasus dengan pendekatan fenomenologi.  Studi kasus dapat memberi nilai tambah pada pengetahuan  peneliti mengenai fenomena individual dan kelompok, sedangkan dengan  pendekatan fenomenologi, dapat dipahami makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia di dalam situasinya.  Dalam hal ini makna dari ide dan tindakan Paguyuban CLC untuk  melakukan pemberdayaan  atas inisiatif  sendiri.
Karakteristik Paguyuban Perajin CLC adalah mempunyai tujuan agar produk tenun lurik mereka dapat terjual; mempunyai seorang ketua  yang mereka
pilih untuk dapat mengkoordinasi sekaligus menata pekerjaan yang dilakukan paguyuban; memiliki kegiatan produksi, baik yang dilakukan secara sendir isendiri maupun bersama; memiliki pembagian tugas yang jelas; serta memiliki kegiatan pemasaran khas paguyuban.
Kondisi usaha kecil tenun lurik anggota paguyuban satu sama lainnya tidak sama.  Ada yang sudah berhasil mengatasi berbagai permasalahannya sampai dapat terus bertahan, ada yang belum, dan ada yang bahkan menyerah sebelum berusaha. Pengalaman para perajin yang lebih berhasil dapat memberikan inteprestasi yang lebih dalam dari sekadar berkumpul dan bekerjasama. Melalui “belajar” paguyuban berusaha untuk dapat “mengubah perilaku” khususnya dalam sikap dan keterampilan ketika menangani kerjasama dalam memproduksi lurik ke depan. Pemberdayaan diri yang dilakukan paguyuban ini merupakan proses pengembangan diri  yang setiap langkahnya bertujuan untuk mencapai kemandirian. Pemberdayaan dengan pelatihan- pelatihan dan penyuluhan dari dan untuk mereka sendiri agar mampu lebih meningkatkan kualitas diri.
Kemitraan menguntungkan tidak saja bagi usaha kecil tenun lurik, tetapi juga bagi para mitra pendukung. Jalinan kerjasama yang saling menguntungkan ini menghasilkan hal-hal positif  bagi kedua belah pihak. Fungsi dari dinamika kelompok adalah membentuk kerjasama, memudahkan pekerjaan,  Dinamika kelompok merupakan pengetahuan sosial yang menganalisa hakikat aktivitas berkelompok dalam hubungan antar anggota kelompok, interaksi dalam kelompok agar mampu bergerak, berkembang, dan menyesuaikan diri membangun kelompok dalam satu pencapaian tujuan.
Oleh sebab itu diperlukan adanya  pendampingan dari para akademisi dan perancang   busana.  Melalui pelatihan dan pendampingan para perajin belajar
untuk juga berperan sebagai ‘perancang tekstil’.  Model pemberdayaan paguyuban melalui pengembangan kelembagaan adalah model pemberdayaan partisipatif yang intinya adalah melakukan perubahan perilaku untuk meningkatkan kemampuan individu dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap; meningkatkan kemampuan kelembagaan dalam penerapan arah desain, meningkatkan kinerja yang berbasis pembagian tugas.
Kebaruan dari penelitian ini adalah paguyuban sendirilah yang menentukan mitra pendukung agar upayanya dapat berjalan dengan baik. Melalui kerjasama dengan perajin pengusaha penggerak sebagai mitra pendukung internal, dan para akademisi, perancangn busana, konsumen, serta swasta sebagai mitra pendukung eksternal, paguyuban mulai merasakan hasil, salah satunya produk lurik mulai mudah  terserap oleh pasar.
 Hasil dari penelitian ini adalah (1) Karakteristik Paguyuban “Cawas  Lurik Center” adalah kelompok yang selalu melakukan kegiatan  “belajar sambil bekerja” atau learning by doing untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan”; (2) Melaksanakan pemberdayaan melalui pelatihan- pelatihan dan penyuluhan yang dilakukan dari dan untuk mereka sendiri untuk lebih meningkatkan kualitas diri. (3) Paguyuban mencoba menerapkan ‘arah proses desain” sesuai dengan kemampuan yang mereka dimiliki. Tujuannya agar dapat meningkatkan mutu corak dan bahan, yang pada akhirnya dapat diterima masyarakat luas; (4) Model pemberdayaan Paguyuban melalui strategi pengembangan kelembagaan untuk kemandirian perajin  ini adalah model pemberdayaan partisipatif.   

 

File Dokumen Tugas Akhir : Tidak ada file.
File Dokumen Karya Dosen : Lemb Publikasi.pdf
HAL JUDUL.pdf
BAB I.pdf
BAB II.pdf
BAB III.pdf
BAB IVa.pdf
BAB IVb1.pdf
BAB IVb2.pdf
BAB IVc.pdf
BAB V.pdf
DAPUS.pdf
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Dr. Nanang Rizali, MSD,
2. Dr. Sapja Anantanyu, M.Si,
3. Dr. Ir. Sugeng Edi Waluyo, MM,
Catatan Umum :
Fakultas : Pascasarjana