Penulis Utama : Krisnanda Theo Primaditya
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : K4415030
Tahun : 2020
Judul : Perkembangan Arsitektur Vernakular Abad XVIII Hingga XXI di Kota Yogyakarta Sebagai Pengembangan Bahan Ajar Sejarah Perkotaan
Edisi :
Imprint : Surakarta - FKIP - 2020
Kolasi :
Sumber : UNS-F. KIP Pendidikan Sejarah-K4415030-2020
Subyek : ARSITEKTUR VERNAKULAR, GEMPA BUMI, YOGYAKARTA, SEJARAH PERKOTAAN
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) perkembangan arsitektur vernakular di Kota Yogyakarta pada abad XVIII hingga abad XXI. (2) keberhasilan arsitektur vernakular di Kota Yogyakarta dijadikan sebagai wadah mitigasi bencana khususnya gempa bumi pada abad XXI. (3) perkembangan arsitektur vernakular di Kota Yogyakarta pada abad XVIII hingga abad XXI sebagai pengembangan bahan ajar sejarah perkotaan.
Metode    yang    digunakan    dalam    penelitian    ini    adalah    historis. Langkah-langkah yang ditempuh dalam metode historis yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Sumber data yang digunakan adalah sumber primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi kepustakaan. Teknik analisis data dengan melakukan kritik ekstern dan intern.
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan: (1) Perkembangan arsitektur vernakular di Yogyakarta dipengaruhi setidaknya oleh faktor sumber daya alam dan kelas sosial pemilik rumah. Terdapat 3 kelas sosial yang membedakan 3 corak bangunan berarsitektur vernakular di Yogyakarta, yakni ningrat, abdi dalem dan rakyat jelata. Arsitektur venakular milik ningrat cenderung mewah dan megah serta dihiasi ornamen-ornamen. Bangunan kaum ningrat dapat dijumpai di Keraton Kasultanan dan Puro Pakualaman yang saat ini telah  menjadi  cagar  budaya.  Arsitektur  milik  abdi  dalem  memiliki  corak vernaular berkecukupan. Biasanya bangunan ini memiliki beberapa ruang untuk bekerja sesuai tugas yang dilimpahkan raja. Bangunan para abdi dalem hanya tinggal segelintir saat ini. Rakyat jelata memiliki corak bangunan vernakular yang relatif sederhana pada 1756. Memasuki abad XIX bangunan vernakular rakyat jelata mulai menyesuaikan dengan kebutuhan. Seiring berkurangnya bahan baku, arsitektur vernakular rakyat jelata juga mengalami degradasi. (2) Ketahanan arsitektur vernakular terhadap gempa bumi dipengaruhi oleh faktor bangunan dan faktor gempa bumi. Yogyakarta telah 5 kali diguncang gempa bumi, yakni pada 1867, 1937, 1943, 1981 dan 2006. Banyak bangunan dengan corak arsitektur vernakular di Yogyakarta mampu bertahan terhadap gempa bumi. Tolak ukur dari ketahanan ini dilihat dari jumlah korban yang berjatuhan setiap kali Yogyakarta dilanda gempa bumi. Arsitektur vernakular dengan kontruksi  yang baik serta pemelihaaan yang teratur mampu bertahan dari guncangan gempa bumi. (3) Penelitian ini dapat menjadi pengembangan materi Sejarah Perkotaan khususnya tahap ke-8 dalam RPS mengenai analisis asal-usul dan perkembangan kota Surakarta dan Yogyakarta sejak pra kolonial sampai pasca kolonial.

Kata kunci: Arsitektur Vernakular, Gempa Bumi, Yogyakarta, Sejarah Perkotaan

 

File Dokumen Tugas Akhir : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
Halaman Judul.pdf
BAB I.pdf
BAB II.pdf
BAB III.pdf
BAB IV.pdf
BAB V.pdf
Daftar Pustaka.pdf
Lembar Pernyataan Publikasi.pdf
File Dokumen Karya Dosen : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Dr. Sutiyah, M.Pd., M.Hum
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. KIP