Penulis Utama : Nugrohoaji Dharmawan
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : T501208002
Tahun : 2021
Judul : Pengaruh Pemberian Kombinasi Pirfenidon dan 5-Fluorourasil Terhadap Proliferasi Fibroblas Keloid
Edisi :
Imprint : Surakarta - Pascasarjana - 2021
Kolasi :
Sumber : UNS - Pascasarjana, Prog. Studi Ilmu Kedokteran - T501208002 - 2021
Subyek : PIRFENIDON, FLUOROURASIL, PROFILERASI FIBROBLAS KELOID
Jenis Dokumen : Disertasi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

Keloid merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada masyarakat dan menimbulkan gangguan baik secara fungsi maupun secara kosmetik. Penyakit ini berbeda dengan hipertrofik skar karena pada keloid ditandai adanya pertumbuhan jaringan ikat yang berlebihan hingga melewati batas tepi luka pada kulit yang sebelumnya mendapat trauma. Patogenesis keloid belum jelas dipahami hingga saat ini, tetapi berbagai penelitian menunjukkan adanya gangguan dalam proses penyembuhan luka sehingga menyebabkan deposisi kolagen yang berlebihan. Beberapa growth factor juga berperan penting dalam patogenesis keloid. Transforming growth factor-? (TGF- ?) merupakan salah satu growth factor yang sangat penting dalam proses fibrosis termasuk pada keloid. Transforming growth factor-? ini mempunyai berbagai jalur dalam proses fibrosis, salah satunya adalah melalui jalur utama Smad.
Keloid memiliki angka rekurensi yang tinggi sehingga para ahli terus mengembangkan terapi yang efektif untuk penanganan keloid. Berbagai terapi kombinasi terus dikembangkan untuk menggantikan terapi dengan kortikosteroid yang memiliki banyak efek samping. Pirfenidon adalah obat anti fibrosis yang sudah sering digunakan untuk penanganan fibrosis paru idiopatik. Obat ini memiliki efek anti inflamasi dan anti fibrosis sedangkan 5-FU adalah obat kemoterapi yang sudah digunakan untuk terapi keloid. Obat ini bekerja sebagai obat anti metabolik dengan menghambat timedilat sintase yang menghambat sintesis RNA.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pemberian kombinasi PFD dan 5-FU terhadap proliferasi fibroblas keloid. Kombinasi kedua obat ini akan dinilai berdasarkan kadar pSmad3, TGF-?1, dan kolagen tipe 1.
Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorik dengan desain post-test only control group design. Sampel penelitian ini menggunakan sel fibroblas dari 3 pasien keloid sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Fibroblas keloid ini kemudian dikultur hingga pasase VII kemudian dibagi menjadi 4 kelompok yaitu;
-    Kelompok I     : kelompok kontrol tanpa pemberian terapi.
-    Kelompok II     : diberikan PFD 1.5 mg/ml.
-    Kelompok III     : diberikan 5-FU 1 mg/ml.    
-    Kelompok IV    : diberikan kombinasi PFD-1.5/5-FU.
Setelah diinkubasi selama 48 jam, kultur fibroblas kemudian diberi terapi dengan PFD 1.5 mg/ml, 5-FU 1 mg/ml dan kombinasi PFD-1.5/5-FU. Pemeriksaan kadar pSmad3, kadar TGF-?1, kadar kolagen tipe 1 dan proliferasi fibroblas keloid dilakukan setelah 72 jam inkubasi. Kadar pSmad3, TGF-?1 dan kolagen tipe 1 diukur dengan menggunakan teknik ELISA sedangkan teknik MTT assay digunakan untuk mengetahui proliferasi sel-sel fibroblas. Analisis data menggunakan software SPSS 21.0 dengan menggunakan uji ANOVA dilanjutkan uji post hoc LSD. Hasil penelitian memperlihatkan sebagai berikut:
1.    Pemberian kombinasi PFD 1.5 mg/ml dan 5-FU 1 mg/ml menurunkan secara signifikan kadar pSmad3 lebih kuat dibandingkan dengan kelompok kontrol dan 5-FU dosis tunggal.  
2.    Pemberian kombinasi PFD 1.5 mg/ml dan 5-FU 1 mg/ml menurunkan kadar TGF-?1 lebih kuat dibandingkan dengan kelompok kontrol, PFD-1.5 dan 5-FU dosis tunggal tetapi tidak signifikan secara statistik.
3.    Pemberian kombinasi PFD-1.5/5-FU menurunkan kadar kolagen
tipe 1 lebih kuat dibandingkan dengan kelompok kontrol, PFD-1.5 dan 5-FU dosis tunggal tetapi tidak signifikan secara statistik.
4.    Pemberian kombinasi PFD-1.5/5-FU dapat menekan proliferasi fibroblas secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol dan  PFD-1.5 dosis tunggal.
Fosforilasi Smad3 berperan penting dalam patogenesis keloid sehingga penghambatan pSmad3 dapat menurunkan produksi kolagen (Andrews et al., 2016). Pirfenidon 1.5 mg/ml pada penelitian ini dapat  menghambat pSmad3 paling kuat dibandingkan kelompok kontrol dan perlakuan lainnya. Kombinasi antara PFD-1.5/5-FU menempati urutan kedua yang dapat menghambat pSmad3 dibandingkan dengan kontrol dan pemberian 5-FU saja. Hal ini membuktikan bahwa PFD dapat menghambat jalur Smad sedangkan 5-FU menghambat aktivitas enzim timidilat sintase yang mengganggu sintesis DNA/RNA. Oleh karena itu, kombinasi PFD-1.5/5-FU tidak meningkatkan kemampuan dalam menghambat pSmad3 yang lebih kuat daripada pemberian 5-FU dosis tunggal. Kombinasi antara PFD-1.5/5-FU tidak signifikan secara statistik dalam menurunkan kadar TGF-?1 dan kolagen tipe 1.
Isolasi fibroblas keloid tidak selalu menghasilkan peningkatan jumlah kolagen sehingga mekanisme terbentuknya keloid tidak mudah untuk dijelaskan hanya berdasarkan peningkatkan sintesis kolagen dari fibroblas keloid. Peningkatan sintesis kolagen fibrolas keloid juga dihubungkan dengan adanya stimulasi dari sintesis non-kolagen protein sehingga sintesis kolagen tetap pada kadar yang terkontrol (Ala-Kokko et al.,1987). Beberapa studi memberi induksi dengan TGF-?1 pada fibroblas keloid untuk memicu proses fibrosis sebelum diberikan perlakuan. Wakefield et al., juga menyatakan bahwa peningkatan TGF-?1 belum dapat dipastikan sebagai penyebab ataupun efek yang berperan dalam patofisiologi keloid.
Perbedaan siklus sel dibagian tepi dan tengah dari lesi keloid, pengaruh prolyl 4-hydroxylase (PH) dan galactosylhydroxylysyl glucosyltransferase (GGT) sebagai enzim katalisator biosintesis kolagen dan beberapa faktor lain juga mempengaruhi ekspresi TGF-ß1 dan sintesis kolagen tipe 1.
Selain itu, hasil penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kombinasi PFD-1.5/5-FU dapat menekan secara signifikan proliferasi fibroblas lebih kuat dibandingkan kelompok perlakuan lainnya.  Hal ini menunjukkan bahwa penghambatan proliferasi fibroblas oleh 5-FU melalui mekanisme lain, yaitu penghambatan aktivitas enzim timidilat sintase. Dengan demikian, kedua obat tersebut bekerja secara sinergi dalam menghambat proliferasi fibroblas pada keloid meskipun perlu pembuktian lebih lanjut untuk mengetahui keterlibatan jalur lain.  
Berdasarkan hasil penelitian diatas, kombinasi kedua obat ini dapat memberikan harapan baru sebagai salah satu terapi pilihan selain kortikosteroid. Penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mencari dosis kombinasi yang efektif dan mencari faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil penelitian ini.  

 

File Dokumen Tugas Akhir : Tidak ada file.
File Dokumen Karya Dosen : Halaman Judul.pdf
BAB I.pdf
BAB II.pdf
BAB III.pdf
BAB IV.pdf
BAB V.pdf
BAB VI.pdf
Daftar Pustaka.pdf
Lembar Pernyataan.pdf
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Dr. Harijono Kariosentono, dr., Sp.KK(K), FINSDV, FAADV
2. Prof. Dr. Bambang Purwanto, dr., Sp.PD-KGH, FINASIM
Catatan Umum :
Fakultas : Pascasarjana