Penulis Utama : Singgih Purnomo
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : T621608002
Tahun : 2020
Judul : Model Pemberdayaan Masyarakat Untuk Meningkatkan Daya Saing Desa Ponggok Sebagai Desa Wisata di Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah
Edisi :
Imprint : Surakarta - Pascasarjana - 2020
Kolasi :
Sumber : UNS - Pascasarjana, Prog. Studi Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat - T621608002 - 2020
Subyek : PEMBERDAYAAN MASYARAKAT, DESA PONGGOK
Jenis Dokumen : Disertasi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

Studi ini bertujuan mengkaji model pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan desa wisata yang berkelanjutan di Indonesia dan menganalisis daya saing desa wisata, serta tingkat loyalitas wisatawan di Desa Wisata Ponggok. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode campuran ( mixed methods) yaitu penggabungan  metode kualitatif dan kuantitatif. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara, observasi, kuesioner dan focus grup discusion yang dilakukan di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa: Pertama, pembangunan yang dilakukan di desa Ponggok menggunakan empat pendekatan, yaitu: pendekatan spasial (tata ruang) sebagai dasar dalam menentukan  arah pembangunan desa, pendekatan sektoral  melalui peningkatan peran  Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk membangun ekonomi desa, peningkatan  sumber daya manusia untuk meningkatkan peran masyarakat desa dalam mengelola potensi desa dan pemanfaatan  teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, transparansi dan akuntabilitas. Keberhasilan pembangunan dengan keempat pendekatan tersebut dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala desa, inovasi, kolaborasi dan tata kelola pemerintahan desa yang baik.
Kedua, studi ini menemukan model inovasi pengembangan desa wisata. Pengelolaan desa wisata di desa Ponggok dilakukan melalui kerjasama dengan 7 unsur yang meliputi :  akademisi/konsultan, pemerintah, dunia industri, media, komunitas masyarakat, investor dan mitra wisata (septuple helix), sehingga Desa Ponggok yang semula masuk kategori desa tertinggal atau miskin, saat ini telah menjadi desa mandiri.
Ketiga, hasil perhitungan daya saing desa wisata Ponggok, disimpulkan bahwa tingkat daya saing desa wisata Ponggok lebih baik dibandingkan desa wisata lain di Kabupaten Klaten. Keunggulan desa wisata Ponggok terletak pada pilar kesehatan dan higienitas, sumberdaya manusia dan tenaga kerja, prioritas perjalanan wisata, kompetisi harga, kelestarian lingkungan, infrastruktur layanan wisata dan sumberdaya alam dan budaya.
Keempat, loyalitas wisatawan terhadap desa wisata Ponggok masuk kategori tinggi untuk variabel word of mouth dan rekomendasi, sedangkan untuk toleransi harga masuk kategori sedang. Hal ini berarti wisatawan di Ponggok telah merasakan pengalaman yang memuaskan, sehingga akan mengajak dan merekomendasikan kepada orang lain untuk berkunjung ke obyek wisata di Desa Ponggok. Pada aspek toleransi harga, wisatawan masih memberikan toleransi kenaikan harga tiket di obyek wisata dengan pertimbangan ada peningkatan kualitas layanan.
Kontribusi teori dalam penelitian ini adalah pengembangan model quintuple helix menjadi septuple helix, khususnya dalam pengembangan pariwisata di pedesaan yang memiliki beberapa kekurangan seperti modal dan persaingan yang ketat. Namun studi ini memiliki beberapa keterbatasan diantaranya adalah pertama, studi ini hanya mengamati aspek pemberdayaan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Ponggok yang meliputi pendekatan spasial, sektoral, SDM dan kelembagaan sosial, dan teknologi informasi dan komunikasi khususnya dalam meningkatkan daya saing pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini  tidak mengkaji secara khusus pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah Desa Ponggok dalam menjaga sumber daya alam sebagai faktor determinan untuk keberlanjutan pariwisata umbul di Desa Ponggok, misalnya keberlanjutan sumber mata airnya.
Kedua, pengukuran daya saing dengan menggunakan instrumen pengukuran dari TTCI untuk desa wisata baru pertama kali dilakukan, ada beberapa instrumen yang tidak digunakan dalam pengukuran desa wisata menggunakan TTCI, karena untuk penyesuaian kondisi di desa wisata yang berbeda-beda karakteristiknya. Oleh karena itu perlu pengujian lanjutan atau pembanding agar menghasilkan instrumen pengukuran yang lebih baik lagi.

 

File Dokumen Tugas Akhir : Tidak ada file.
File Dokumen Karya Dosen : Halaman Judul.pdf
BAB I.pdf
BAB III.pdf
BAB IV.pdf
BAB V.pdf
Daftar Pustaka.pdf
Lembar Pernyataan.pdf
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Dr. Endang Siti Rahayu, M.S
2. Prof. Dr. Asri Laksmi Riani, M.Si
Catatan Umum :
Fakultas : Pascasarjana