Penulis Utama : Rahmawati Sukmaningr
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : T141708004
Tahun : 2022
Judul : Model Penerjemahan Dialek African American English ke dalam Dialek Suroboyoan untuk Proses Dubbing
Edisi :
Imprint : Surakarta - Fak. Ilmu Budaya - 2022
Kolasi :
Sumber : UNS
Subyek :
Jenis Dokumen : Disertasi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

Ragam dialek African American English semakin popular digunakan oleh kalangan anak muda dan komunitas lain diluar pengguna aslinya yaitu, masyarakat kulit hitam (Negro). Dialek AAE sebagai bahasa Inggris non standar biasa digunakan sebagai bahasa non-formal dan ragam bahasa kolokial. Meskipun terjadi penolakan pada awal kemunculannya, faktanya ragam dialek ini semakin banyak digunakan dalam dialog film Amerika. Karakteristik dialek AAE yang cenderung non baku membuat penonton film diluar Amerika kesulitan memahami tuturan yang mengandung penanda dialek tersebut. Karena hal tersebut proses subtitling atau dubbing sangat dibutuhkan. Disini peran penerjemah sangat penting. Karena keunikannya dan posisinya sebagai bahasa Inggris non-standar, dialek AAE mungkin saja menjadi tantangan tersendiri bagi penerjemah yang kurang familiar dengan fitur-fitur linguistiknya. Ketidak pahaman penerjemah terhadap fitur-fitur linguistic dialek AAE ini berpotensi terjadinya pergeseran makna pada produk terjemahannya. Alasan itulah yang mendasari peneliti mengambil tema ini untuk diteliti.

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model penerjemahan dialek African American English (AAE) ke dalam dialek Suroboyoan untuk proses dubbing. Pada tahap awal penelitian, peneliti mengidentifikasi teknik, metode dan ideologi penerjemahan tuturan yang mengandung dialek AAE pada film seri Wakler Texas Ranger ke dalam dubbing dialek Suroboyoan. Selanjutnya, peneliti menganalisis dampak penggunaan teknik, metode dan ideologi tersebut terhadap kualitas penerjemahan dan eksistensi dialek pada BSa. Pada tahap akhir, peneliti merumuskan model penerjemahan yang berisi rekomendasi penggunaan teknik, metode dan ideologi yang tepat untuk menerjemahkan tuturan yang mengandung dialek AAE ke dalam dubbing dialek Suroboyoan.

Desain penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan penelitian terpancang (embedded research). Pendekatan deskriptif kualitatif ini digunakan oleh peneliti karena peneliti bermaksud menjabarkan kondisi yang ditemukan dalam bentuk sajian data dan berupaya menemukan jawaban pertanyaan penelitian seperti yang sudah dirumuskan dalam rumusan masalah. Luaran yang akan dihasilkan dari penelitian ini adalah model penerjemahan dialek AAE ke dalam dubbing dialek Suroboyoan. Untuk tujuan tersebut peneliti merancang desain penelitian ini sebagai penelitian pengembangan (R and D). Langkah-langkah penyusunan model dalam penelitian ini mengadaptasi langkah-langkah pengembangan yang ditawarkan oleh Borg & Gall (1983) dengan beberapa penyederhanaan di beberapa bagian disesuaikan dengan kebutuhan penelitian ini. Langkah-langkah yang diterapkan dalam penelitian ini adalah; tahap penelitian dan pengumpulan informasi awal, tahap pengembangan model, tahap evaluasi dan tahap perumusan akhir model. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan teknik analisis dokumen, Focus Group Discussion (FGD), penugasan, dan kuesioner.

Dalam penelitian ini peneliti menemukan 790 tuturan dalam 9 seri film Walker Texas Ranger yang mengandung 3 kategori penanda dialek AAE. Pada kategori penanda verbal, peneliti menemukan 3 sub kategori; 154 tuturan yang mengandung penanda negasi ain’t; 124 tuturan yang mengandung double negation; dan 52 tuturan yang mengandung construction of words. Untuk kategori perangkat sintaksis, peneliti menemukan 6 sub kategori; 169 kalimat tanya yang mengandung penanda dialek AAE; 55 tuturan yang mengandung pelesapan kopula be; 33 pelesapan kata bantu kerja; 21 tuturan yang mengandung penyimpangan kata bantu kerja; 14 tuturan yang mengandung penggunaan -s untuk kata kerja dengan subjek jamak; dan 12 tuturan yang mengandung penggunaan done untuk kalimat simple past tense. Selanjutnya, pada penanda slang peneliti menemukan; 60 tuturan yang mengandung slang penyebutan laki-laki; 56 tuturan yang mengandung slang penyebutan perempuan; 24 tuturan yang mengandung slang penyebutan uang; dan 16 tuturan yang mengandung slang untuk kegiatan seksual. Prototipe model penerjemahan dialek dalam penelitian ini dibuat untuk masing-masing sub kategori tersebut.

Pada penelitian pendahuluan, diketahui bahwa penerjemah menggunakan 17 teknik penerjemahan untuk menerjemahkan penanda dialek AAE ke dalam dubbing dialek Suroboyoan. Dari 790 data linguistic yang terverifikasi, peneliti mengidentifikasi sebanyak 2.247 teknik penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan tuturan yang mengandung dialek AAE ke dalam dubbing dialek Suroboyoan. Jumlah penggunaan teknik penerjemahaan tersebut tidak mencerminkan jumlah kemunculan dialek AAE. Hal ini karena beberapa data linguistic yang teridentifikasi mengandung penanda dialek AAE diterjemahkan dengan menggunakan dua atau lebih teknik penerjemahan. Sebaran teknik tersebut adalah; padanan lazim sebanyak 880; paraphrase sebanyak 346; adaptasi sebanyak 230; modulasi sebanyak 164; variasi sebanyak 141; implisitasi sebanyak 114; eksplisitasi sebanyak 102; adisi sebanyak 64; kreasi diskursif sebanyak 61; kompensasi sebanyak 32; neutralisasi sebanyak 29; peminjaman murni sebanyak 27; reduksi sebanyak 16; generalisasi sebanyak 14; transposisi sebanyak 11; harfiah sebanyak 10; dan naturalisasi sebanyak 6. Berdasarkan penggunaan teknik tersebut peneliti menyimpulkan metode yang diterapkan adalah komunikatif dan adaptasi. Ideologi yang dianut oleh penerjemah adalah domestikasi. Penerapan teknik, metode dan ideologi tersebut berdampak positif terhadap kualitas terjemahan. Nilai keakuratan adalah sebesar 2.82, tingkat keberterimaan sebesar 2.91, dan tingkat keterbacaan sebesar 2.92. Tingkat kualitas teks terjemahan ini sudah diverifikasi oleh rater dan pakar penerjemahan dalam FGD ke-1.

Selanjutnya peneliti menyusun prototipe model penerjemahan dialek AAE kedalam dubbing dialek Suroboyoan. berdasarkan analisis komponensial, saran dari pakar dalam FGD dan hasil uji coba peneliti menawarkan teknik penerjemahan yang mampu menghasilkan terjemahan berkualitas dengan tetap mempertahankan eksistensi dialek dalam BSa. Dari 17 teknik yang ditemukan dalam penelitian ini, peneliti hanya merekomendasikan 7 teknik untuk 13 sub kategori dialek AAE. Ketujuh teknik tersebut adalah; padanan lazim, adaptasi, paraphrase, modulasi, variasi, adisi, dan neutralisasi. Prototipe yang sudah divalidasi ahli pada FGD ke-2 selanjutnya diujicobakan pada 2 kelompok penerjemah pemula. Dari hasil uji coba didapat hasil nilai rata-rata kelompok tanpa pelatihan adalah 2.68, sedangkan nilai rata-rata kelompok yang diberi pelatihan adalah 2.89. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa model penerjemahan yang dikembangkan dalam penelitian ini efektif meningkatkan kualitas terjemahan dialek.

Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti menyarankan bagi penerjemah untuk menerapkan teknik yang tepat dalam menerjemahkan dialek asal ke dalam dialek sasaran. Dengan menggunakan teknik penerjemahan yang tepat, penerjemah akan mampu menghasilkan teks dubbing yang berkualitas dengan tetap mempertahankan eksistensi dialek dalam terjemahannya. Terkait keterbatasan penelitian ini yang mengambil setting dialek AAE dalam proses dubbing, peneliti menyarankan pada peneliti lain yang akan mengambil tema ini untuk menyusun dan menguji prototipe model dialek yang bisa diberlakukan secara umum pada semua penerjemahan dialek dan semua jenis terjemahan teks.

File Dokumen Tugas Akhir : Tidak ada file.
File Dokumen Karya Dosen : BAB I.pdf
DAFTAR PUSTAKA.pdf
BAB II (2).pdf
BAB III.pdf
BAB IV.pdf
BAB V.pdf
COVER DAN DAFTAR ISI.pdf
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Drs. M.R. Nababan, M.A., M.Ed., Ph.D.
2. Prof. Drs. Riyadi Santosa, M.A., Ph.D.
3. Dr. Supana, M.Hum.
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. Ilmu Budaya